BAHAN AJAR SEJARAH GEREJA INDONESIA

11/08/2013 21:55
SEJARAH GEREJA INDONESIA

Oleh: Dr. Yonas Muanley, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

           

 Kurikulum Standar Nasional yang kita miliki mengakomodir bobot mata kuliah Sejarah Gereja dalam 8 SKS, termasuk Sejarah Gereja Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa studi Sejarah Gereja, khsususnya Sejarah Gereja Indonesia memiliki signifikan bagi mahasiswa teologi di Indonesia. Namun kendala yang selalu dijumpai dalam proses pembelajaran Sejarah Gereja adalah minat terhadap mata kuliah ini.

Pengalaman kami dalam mengajar Sejarah Gereja umum, Asia dan Indonesia di beberapa perguruan tinggi Teologi menunjukkan tidak terlalu banyak mahasiswa yang berminat untuk mata kuliah Sejarah Gereja. Mahasiswa hadir di kelas untuk mengikuti kuliah biasanya hanya sekadar memenuhi persyaratan sekolah.

Ada mahasiswa yang pernah berkata kepada kami, pak soal ujian sejarah Gerejanya jangan menghafal ya!, ada pula yang berkata belajar sejarah gereja itu membosankan dan tidak ada kemanfaatan untuk pergumulan masa kini, semuanya hanya berurusan dengan masa lampau. Ada pula mahasiswa yang menyatakan bahwa belajar sejarah gereja sama halnya belajar ilmu karatan atau ilmu yang tidak berguna lagi, disini kami pahami bahwa pendekatan terhadap studi sejarah Gereja kadang lebih bersifat menghafal saja sehingga mahasiswa merasa tidak ada kemanfaatan belajar sejarah Gereja bagi pergumulannya masa kini.

Dan untuk mengatasi masalah klasik mahasiswa dalam studi Sejarah Gereja seperti yang disebut di atas, maka pendekatan yang kami pakai dalam belajar Sejarah Gereja Indonesia adalah pendekataan kemaknaan Sejarah Gereja. Memang benar! Dalam belajar sejarah Gereja tidak dapat dihindari hafalan tetapi falan tidak ada manfaatnya kalau tidak disertai dengan usaha untuk memahami apa yang dihafalnya. Oleh karena itu penekanan kami dalam studi Sejarah Gereja Indonesia adalah berusaha mencari makna dari fakta masa lampau, karena dengan demikian fakta yang mati dapat dihidupkan atau menjadi berguna bagi kita masa kini. Dan kami berharap ikiranya apa yang kami kemukakan menolong para mahasiswa program koresponden untuk bersemangat belajar Sejarah Gereja Indonesia.

Studi sejarah Gereja Indonesia yang kita lakukan lebih banyak menyinggung tentang Gereja-gereja Katolik dan Protestan arus Calvinis dan Lutheran. Selain itu pembahasan juga berkisar pada Gereja-gereja kelompok Pentakostal dan denominasi lainnya yang masuk ke Indonesia pada abab ke-19 dan 20. Namun tidak banyak kita bicarakan di sini,  karena literature yang tersedia juga tidak banyak menginformasikan tentang Gereja-gereja di luar Gereja aliran Calvinis dan Lutheran di Indonesia. Konsekwensinya yaitu dua kelompok Gereja Protestan yang lebih banyak dibicarakan dalam bahan ajar ini.

Informasi tentang Sejarah Gereja Indonesia meliputi Sejarah Gereja Nestorian di Indonesia, Misi Gereja Katolik di Indonesia, Tersebarnya Kristen Protestan (aliran Calvinis) di Indonesia dan Gereja Protestan Indonesia yang bertumbuh ke arah kemandirian. Selain itu dibahas juga Gereja-gereja Indonesia yang telah berusaha mandiri sebelum tahun 1930 yaitu beberapa Gereja Sumatera dan Geeja-gereja  Pantekosta yang dimulai di Cepu dan berkembang ke daerah lainnya di Indonesia.

                Akhirnya, harapan dan doa kami, kiranya mahasiswa dapat mengadakan studi Sejarah Gereja Indonesia dengan terfokus kepada inti belajar Sejarah Gereja, yaitu  belajar bertanya. Selamat bertanya pada Sejarah Gereja Indonesia dan selamat menikmati kekayaan dari belajar Sejarah Gereja untuk diri sendiri dan jemaat atau dalam pelayanan.

 

 

 

Penyusun

Yonas Muanley

 

 

 

 

 

 

BAB 1

ARTI, MAKNA DAN TUJUAN SERTA PERIODISASI

SEJARAH GEREJA INDONESIA

 

Tujuan Khusus bahasan Bab 1

 

Setelah mengikuti pembahasan tentang arti, makna dan tujuan serta periodisasi Sejarah Gereja Indonesia maka mahasiswa mampu:

 

  • Menjelaskan arti Sejarah dan Gereja, serta merumuskan arti Sejarah Gereja berdasarkan dua kata yang telah diartikan.
  • Merumuskan definisi konseptual dan operasional terhadap Sejarah Gereja Indonesia yang dapat dijadikan sebagai definisi yang menolong dalam membahas materi sejarah Gereja Indonesia yang sangat luas yang tidak mungkin diselesaikan dalam satu semester. Definisi tersebut digumululi dalam kelompok dan dipresentasikan di kelas untuk ditanggapi warga pembelajar Sejarah Gereja Indonesia di Semester V.
  • Menilai dan memberi argumentasi pada rumusan makna dan tujuan studi Sejarah Gereja Indonesia
  • Menilai periodisasi yang dibuat oleh Fridolin Ukur, khususnya topic prasejarah Gereja Indonesia.

 

Pokok-pokok bahasan Bab 1:

 

Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan di atas, maka materi bahasannya sbb:

 

  1. Arti Sejarah Gereja

 

Sebelum kita merumuskan arti (baca: definisi), tujuan serta periodisasi Sejarah Gereja Indonesia, baiklah kita mulai studi ini dengan mencermati pertanyaan berikut ini dalam hubungannya dengan Sejarah Gereja Indonesia.

 

  •  

 

  • Siapa-siapa yang akan menjadi tokoh-tokoh dalam riwayat sejarah yang hendak kita sajikan? Apakah orang-orang Eropa (para misionaris) atau orang-orang Indonesia yang bertobat dan menjadi percaya dan merespon karya Tuhan Yesus Kristus?
  • Pemikiran dan perbuatan siapa yang akan ditonjolkan?
  • Para pekabar Injil dari Baratkah? Atau orang-orang Indonesia yang melalui usaha orang-orang Barat itu belajar mengenal Yesus Kristus dan menerima iman Krsten?

 

 

 

  •  

 

Th. Van den End menolong kita dalam jawaban seperti berikut:

 

Dalam tulisan-tulisan Sejarah Gereja (ilmu sejarah Gereja) yang disusun pada masa lampau, tokoh-tokoh, perbuatan serta pemikiran para pekabar Injil yang  dijadikan pusat pusat perhatian. Menurut Van den End, cara ini merupakan cara yang paling mudah. Bukankah berita-berita tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di tengah gereja muda itu (gereja-gereja yang lahir dari PI oleh para misionaris Eropa) hampir semua keluar dari para zending? Mereka inilah yang mengirim laporan-laporan ke pengurus lembaga pekabaran Injil yang telah mengutus mereka, mereka yang menulis buku-buku kenang-kenangan, dari tangan mereka pula berasal, sampai sekarang, sebagian besar buku-buku ilmiah mengenai sejarah gereja-gereja kita (Sejarah Gereja Indonesia). Di balik itu, orang-orang Kristen yang telah bertobat dan dilayani oleh mereka (para misionaris) tidak atau hampir tidak mempunyai suara. Mereka tidak banyak berbicara, apalagi menulis.

 

Jadi, kalau kita menggunakan saja sumber-sumber yang tersedia, sang pekabar Injillah (misionaris) yang menjadi tokoh utama dalam sejarah gereja Indonesia.

 

Van den End, melanjutkan evaluasinya dengan menyatakan: namun demikian, kenyataan ini tidak bisa dibenarkan. Kita dengan sewajarnya merasa, gambarannya belum lengkap kalau hanya pihak Eropalah yang disoroti. Ini ada dasar teologisnya, yaitu sejarah gereja hanya memperlihatkan para pekabar Injil (misionaris dari Eropa), maka ia hanya merupakan sejarah pekabaran Injil atau dapat kita katakan sejarah missi.

Van den End, menegaskan bahwa: sejarah gereja seharusnya meliputi bidang-bidang lebih banyak dari pada hanya pekabaran injil. Ada ibadah, ada organisasi gereja, ada ajaran gereja, ada kesalehan hati, ada kelakuan orang-orang Kristen terhadap saudaranya dan terhadap dunia sekitarnya. (van den End, 1999: 4-5)

Singkatnya, Sejarah Gereja tidak lain bagaimana orang-orang Kristen dari anggota suatu gereja menghayati dan mengungkapkan iman mereka. Dari sejarah serta bentuk gereja muda dapat dilihat “jawaban mereka”. Jawaban itu ialah usaha mereka, agar iman mereka diberi bentuk dan wujud yang nyata.

 

Berdasarkan penilaian di atas marilah kita bersama merumuskan suatu definisi sejarah Gereja Indonesia,  definisi tersebut dapat kita rumuskan berdasarkan definisi para ahli sejarah gereja, kemudian kita berupaya merumuskan sebuah definisi sejarah gereja Indonesia yang bersifat definisi konseptual dan operasional yang akan dijadikan sebagai arah bagi kita dalam memilih materi sejarah dan membahasnya selama satu semester ini.

 

Arti Sejarah

 

Arti kata Sejarah. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi dua arti tentang Sejarah.

 

  1. Sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (kejadian dan peristiwa, fakta dan kenyataan dari masa lampau).
  2. Sejarah adalah pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa yang lampau (Sejarah = Ilmu Sejarah / pengetahuan atau uraian mengenai fakta tersebut).

 

Jadi, berdasarkan definisi ini, belajar sejarah tidak lain berurusan dengan fakta masa lampau (peristiwa-kejadian itu sendiri) dan usaha menguraikan fakta/peristiwa tersebut. Dua hal ini tidak dapat kita abaikan dalam studi Sejarah Gereja Indonesia.

 

Arti Gereja.

Gereja merupakan kata pungut[1] dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Portugis igreja. Bahasa Portugis selanjutnya memungutnya dari Bahasa Latin  Ecclesia[2] yang memungutnya dari Bahasa Yunani ekklêsia yang berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil)/orang yang dipanggil keluar. Jadi, ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil ke luar (dari dunia ini).[3] Adanya ekklesia (berkumpul) karena ada yang memanggil      (panggilan).  

Kata ekklesia ini kemudian dipakai oleh penulis-penulis Perjanjian Baru untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang yang dipanggil oleh Yesus (orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus). Kata ekklesia kemudian menjadi pokok penelitian para teolog dengan menghasilkan pengertian yang berkembang dari kata ekklesia tsb.

Beberapa teolog mendefinisikan arti kata Gereja sebagai berikut:

  • Kata Gereja berasal dari kata dalam bahasa Portugis “igreja”, yang berasal dari kata Yunani “ekklesia” yang berarti: mereka yang dipanggil. Mereka yang pertama dipanggil oleh Yesus Kristus ialah para murid dan sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan turunnya Roh Kudus pada hari pentakosta, para murid itu menjadi “rasul”, artinya “mereka yang diutus” untuk memberitakan Injil sehingga lahirlah Gereja (van den End, 1992:1-2).
  • Deitrich Kuhl. Istilah Yunani “ekklesia” dibentuk dari kata ‘ek’ (=dari) dan ‘kaleo’ (=memanggil), yaitu ‘mereka yang dipanggil keluar’. Dalam Perjanjian Baru istilah ‘ekklesia’ diapakai 115 kali, 10 kali dalam arti Gereja secara menyeluruh (misalnya Mat. 16:18) dan selebihnya dalam arti “Gereja lokal” atau “jemaat setempat” (misalnya Mat. 18:17). Jadi kata ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Baru mempunyai arti:

 (1) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari kehidupan yang lama dan keluar dari kuasa Iblis, dipanggil Allah sendiri, dipindahkan ke dalam kerajaan Allah-terjadi perubahan status dan  pola hidup.

(2) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari hidup bagi diri sendiri dan dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan melayani Tuhan-perubahan tujuan hidup dan pandangan dasar (Dietrich Kuhl, 1992:34).

  • Menurut Henry C. Thiessen, ayat-ayat dalam PB yang memakai kata ‘ekklesia’: 1 Kor. 12:13; 1 Ptr. 1:3, 22-25; Mat. 16:18; 1 Kor. 15:9; Gal. 1:13; Flp. 3:6; Ef. 5:25-27; Ef. 1:22, 5:23; Kol. 1:18; 1 Kor. 12:28; Ef. 3:10; Ibr. 12:23, yang berarti sekelompok orang yang terpanggil, sebagai suatu majelis warga negara dari suatu negara yang mandiri, namun PB memberi arti rohani dari kata ekklesia yaitu sekelompok orang yang dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa (Thiessen, 1995:476).
  • Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya "aku memanggil/memerintahkan". Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Kristus.
    Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum kenaikan ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul dengan setia dijalankan oleh murid-murid-Nya. Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di perbagai tempat di dunia (ujung-ujung dunia)[4].
  • Kata Gereja (Portugis: Igreja) itu berasal dari kata Yunani "Ekklesia" artinya "orang-orang yang dipanggil keluar", jadi kata itu tak menunjuk kepada bangunan yang terbuat dari batu. Gereja adalah Tubuh Mistika Kristus yang hadir di bumi dan Kristus adalah Kepala dan Batu Penjuru Gereja. Gereja terdiri  dari umat beriman yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang keselamatan Allah di dalam Kristus. Bangunan gedung adalah tempat berkumpulnya "Gereja" ini. Oleh karena itu bangunan gedung itu seharusnya disebut "gedung Gereja", bukan "Gereja" itu sendiri[5].

Kata gereja dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia dipakai dalam beberapa arti:

  • Gereja dalam arti menunjuk pada gedung/tempat beribadah orang Kristen. Istilah ini sering kita pakai atau dipakai oleh komunitas non Kristen. Misalnya ketika hari Minggu orang yang pergi beribadah, ketika ditanya maka jawabannya: saya mau ke Gereja. Hari minggu gereja di mana? Dst. Komunitas lain, misalnya kondektur hendak memberi tahu kepada penumpang yang akan turun di tempat yang berdekatan dengan rumah gereja, selalu berkata, gereja … gereja … gereja. Jadi gereja sering dipahami sebagai tempat perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Tempat ibadah itu bisa bangunan yang dirancang khusus, memiliki ijin dll utk dipakai sebagai tempat beribadah. Selain itu, kondisi Indonesia, khususnya Jakarta menyebabkan orang menjadikan rumah, hotel, aula sebagai tempat beribadah.
  • Gereja dalam arti  “umat” atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukan sebuah gedung.
  • Gereja juga dipahami sebagai mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen. Misalkan Gereja Katolik, Gereja Protestan (HKBP, GPIB, GSA dll).
  • Arti keempat ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Misalkan kalimat “Gereja menentang perang Irak”.

Gereja (untuk arti pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus pada waktu di Yerusalem dan dalam sejarah perkembangan Gereja[6].

Dari kajian tentang Gereja dan sejarahnya maka perlu diinsafi hal berikut ini:

 

Gereja ada karena Yesus memanggil orang menjadi pengikut-Nya. Maka Gereja mempunyai wujud yaitu persekutuan dengan Kristus dan persekutuan dengan manusia lain dan persekutuan dalam melaksankana amanat-Nya yaitu pekabaran Injil (Mat. 28:19, Kis. 1:8) (H. Berkhof dan I. H. Enklaar, 2004:vii).

 

Arti Sejarah Gereja

 

Berdasarkan definisi atas dua kata, sejarah dan Gereja seperti tersebut di atas maka berikut ini  dirumuskan pengertian dari kata “Sejarah Gereja”.

 

Pengertian tentang Sejarah Gereja, sering dirumuskan berdasarkan dua pendekatan yaitu uraian empiris dan penilaian teologis. Berdasarkan pendekatan ini maka kajian teoritis-teologis dari para teolog tidak sama dalam member definisi Sejarah Gereja. Ini berarti kita akan menemukan  banyak definisi tentang Sejarah Gereja. Keragaman definisi ini disebabkan karena filosifi daripara ahli tersebut. Filosofi para ahli Sejarah Gereja mempengaruhi rumusannya tentang Sejarah Gereja. Ada yang merumuskan pengertian Gereja berdasarkan uraian empiris dan ada pula dengan penilaian teologis. Ini perlu dikemukakan supaya kita tidak bingung melihat keanekaragaman definisi tersebut. Akan tetapi, dari keanekaragaman definisi tersebut dipilih, dipertimbangan, kemudian dirumuskan suatu definisi konseptual dan operasional dari pengertian Sejarah Gereja yang kemudian memberi arah dalam kerangka studi Sejarah Gereja yang akan kita lakukan.

 

Definisi dari para ahli tentang Sejarah Gereja dipaparkan sbb[7]:

 

  1. Sejarah Gereja adalah sejarah agama Kristen
  2. Sejarah Gereja adalah sejarah perhimpunan-perhimpunan yang mengakui Yesus Kristus
  3. Sejarah Gereja adalah sejarah Gereja Yesus Kristus
  4. Sejarah Gereja adalah sejarah tafsir Alkitab
  5. Sejarah Gereja adalah kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami Gereja, sebagai persekutuan meraka yang dipanggil Kristus, selama di dunia ini
  6. Sejarah Gereja adalah pertanggungjawaban masa silam Gereja yang terjadi dalam terang Injil Yesus Kristus
  7. Sejarah Gereja adalah kisah tentang perubahan hidup yang dialami manusia karena keselamatan yang diimaninya di dalam Yesus Kristus dan bagaimana mewujudnyatakan keselamatan tersebut sebagaimana yang diajarkan Alkitab.

Jadi definisi Sejarah Gereja yang mempertimbangkan aspek empiris dan penilaian teologis adalah sbb:

Sejarah Gereja adalah pertanggungjawaban masa silam Gereja yang terjadi dalam terang Injil Yesus Kristus dan bagaimana hidup manusia dipengaruhi dan diubah oleh keselamatan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus kepadanya (uraian kenyataan) dan apakah perwujudan keselamtan dalam kehidupan manusia yang digumuli Gereja, sebagai persekutuan orang yang mengakui Yesus Kristus, sesuai dengan Alkitab (penilaian Teologis).

 

Arti Indonesia

Kata "Indonesia" berasal dari bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".  Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat. Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu". Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.

Adolf Bastian dari Universitas Berlin  mempopulerkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894.

Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.

 

Arti Sejarah Gereja Indonesia

 

Setelah kita membahas arti kata sejarah, gereja dan sejarah gereja serta arti Indonesia maka kita harus merumuskan sebuah definisi yang bersifat konseptual dan operasional (ditetapkan sebagai definisi kerja) bagi kita dalam memilih materi sejarah gereja Indonesia. Hal ini disebabkan karena dalam studi sejarah gereja Indonesia, kita tidak dapat mengabaikan  pertanyaan ini: kapan sejarah gereja Indonesia dimulai? Bila kita menjawab sejak kehadiran para misionaris di Nusantara maka sebenarnya kita bicara sejarah misi/penginjilan. Bila kita menjawab sejak adanya orang Indonesia yang bertobat dan dibaptis (merespon PI dari para misionaris) maka kita bicara sejarah orang-orang Indonesia yang dipanggil Tuhan melalui PI, yang sewajarnya disinggung dalam mata kuliah misiologi. Lalu bagaimana kita membicarakan akan kenyataan adanya para misionaris yang telah memberitakan Injil pada masa lampau di Nusantara? Dengan demikian perlulah suatu definisi sejarah gereja yang mempertimbangkan aspek misionaris dan jawaban orang Indonesia atas pekabaran Injil tersebut. Definisi berikut ini berusaha mengakomodir dua kenyataan tersebut.

 

 

Jadi, Sejarah Gereja Indonesia dapat didefinisikan sbb:

 

Sejarah Gereja Indonesia adalah kisah tentang aktifitas misionaris (misi) dan respon orang-orang di Nusantara  terhadap panggilan Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil oleh para misionaris( Nestorian di Barus, Gereja Katolik dari Eropa, zending dari Belanda, dan Negara-negara lain), yang bermisi ke Nusantara pada abad ke 7 – 19.

 

Dalam definisi ini terkandung karya Allah Tritunggal melalui:

 

Misionaris (Pekabar Injil):

 

  • Misionaris Kelompok Kristen Nestorian dari Persia ke Sumatera Utara (Barus)
  • Misionaris Gereja Katolik dari Eropa ke Nusantara   : Gereja Katolik di Nusantara
  • Zending Protestan dari Eropa ke Nusatara     : Gereja Protestan di Nusantara
  • Zending Gerakan Pentakosta dari Amerika ke Nusantara : Gereja aliran Pentakosta dll

 

Orang Pribumi (Penerima Injil/Gereja pribumi):

  • Barus                           : Ekklesia Nestorian (tidak bertahan dan hilang di Nusantara)
  • Indonesia Timur          : Ekklesia (GKR, GPM, GMIM, GKI, Pentakosta dll, )
  • Indonesia Tengah        : Ekklesia (GKR, GKE, Gereja Toraja, Pentakosta dll)
  • Indonesia Barat           : Ekklesia (GKR, GPIB, GKJ,HoK Kim Tong, Pentakosta dll)

 

atau

 

Ekklesia Katolik di Indonesia

Ekklesia Protestanisme di Indonesia:  Lutheranisme, Anglikanisme, Calvinisme, Pentakostalisme, Methodis, Gereja Baptis,Charismatic, Presbyterian, Anabaptis, Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.

 

Evaluasi:

 

  • Jelaskan pengertian Sejarah
  • Jelaskan pengertian Gereja
  • Apa artinya bila dikatakan: saya belajar sejarah HKBP?
  • Jelaskan pengertian Sejarah Gereja (unsure penilaian teologis dan empiris)
  • Rumuskan sebuah definisi operasional bagi anda dalam studi Sejarah Gereja Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Makna/Kegunaan Studi Sejarah Gereja

Pengalaman mengajar: Pada suatu saat ketika saya membuka kelas Sejarah Gereja Indonesia dengan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa: Apa manfaat anda belajar sejarah Gereja?

Lalu mahasiswa menjawab:

  • Belajar sejarah gereja sebenarnya tidak berguna/bermanfaat karena sejarah adalah ilmu karatan (ilmu yang sudah usang, sudah karat), jadi lebih baik waktu ini dipakai untuk belajar mata kuliah yang lebih berguna dari sejarah.
  • Belajar sejarah gereja adalah belajar menghafal, jadi pelajaran ini membosankan.
  • Belajar sejarah gereja itu hanya cocok bagi mereka yang kuat menghafal.
  • Belajar sejarah gereja tidak sistematis (harus dimulai dari topic mana dan berakhir pada topic apa) karena data-data terlampau banyak.
  • Belajar sejarah gereja Indonesia hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan akademis (supaya lulus).

Singkatnya sejarah gereja tidak banyak diminati mahasiswa, saya pun waktu menjadi mahasiswa demikian pula. Tetapi apa yang membuat semangat atau kesukaan saya untuk mengajar mata kuliah ini, ada banyak jawaban dan itu merupakan roh dari studi sejarah gereja, dua roh itu saya kemukakan sbb:

Studi sejarah Gereja bermakna bagi kita dalam:

  • Melihat/mengimani karya Allah Tritunggal pada masa lampau di Nusantara dalam diri orang-orang pilihan-Nya (Misionaris dan penerima Injil). Dengan kata lain belajar mengenal Allah melalui sejarah umat-Nya
  • Melihat respon orang-orang pilihan-Nya pada masa lampau di Nusantara

Sejarah Israel dan Sejarah Gereja

Evaluasi:

  • Apa makna Studi Sejarah Gereja Indonesia bagi Anda? (sebutkan 5 makna)

 

 

  1. Tujuan Belajar Sejarah Gereja Indonesia (Culver, 1993:1)

 

Ada banyak tujuan dalam belajar sejarah gereja, disini hanya dikemukakan beberapa tujuan saja. Tujuan belajar sejarah gereja menolong mahasiswa:

 

  • Agar mahasiswa menyadari bahwa jika mereka tidak mengetahui Sejarah Gereja pada umumnya dan Sejarah Gereja Indonesia pada khususnya, maka akan mengulangi kesalahan pada masa lampau dan hidup secara buta terhadap siapa diri Gereja Indonesia itu.
  • Agar mahasiswa menghargai para utusan Injil (dari berbagai denominasi) yang mula-mula walaupun mereka melakukan kekeliruan di beberapa tempat di Indonesia, namun rela meneladani perkara-perkara yang baik dari kehidupan dan pelayanan mereka (para penginjil/zending/misionaris) pada masa lampau.
  • Agar mahasiswa mengerti dan berpegang pada prinsip: ‘Benih Injil Yesus Kristus yang ditabur/diberitakan dan yang mendapat tempat dihati yang tulus akan menghasilkan buah yang baik’.
  • Agar mahasiswa dapat menerima berbagai denominasi gereja dengan berbagai kekurangan yang mungkin ada pada denominasi tersebut.
  • Agar mahasiswa tidak memutlakan denominasi Gereja dan teologinya, karena teologi kita belum sempurna.
  • Dll (mhs. Dapat menambahkan setelah belajar SGI)

 

Evaluasi:

  1. Sebutkan 4 tujuan studi sejarah gereja Indonesia dan jelaskan masing-masing point.

 

  1. Periodisasi Sejarah Gereja Indonesia (Menurut F.Ukur)

 

Setiap ahli Sejarah Gereja yang membahas Sejarah Gereja Indonesia tidak seragam dalam penetapan tahun, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan Gereja di Indonesia pada masa lampau. Ada yang memulai Sejarah Gereja Indonesia dengan kehadiran Gereja Katolik di Indonesia pada masa lampau dan seterusnya. Tetapi sebelum kehadiran Gereja Katolik di Nusantara sudah didahului dengan kedatangan Gereja Nestorian dari Persia di Barus Sumatera Utara. Bagaimana mengakomadi fakta ini dalam studi Sejarah Gereja. Untuk itu Dr. Fridolin Ukur (pakar Sejarah Gereja) menetapkan periodisasi Sejarah Gereja Indonesia sbb:

 

  1. Pra Sejarah Gereja di Indonesia (thn. 645-1930/1935). Masa ini dibagi dalam beberapa periode:

 

  1. Kedatangan kelompok Kristen Nestorian yang berpusat di Mesopotamia Hilir (Irak) ke Sumatera yang terjadi antara tahun 645-1500.
  2. Kedatangan Gereja Katolik di Indonesia antara tahun 1511-1666
  3. Tersebarnya Kristen Protestan ke Indonesia antara tahun 1605-1910. Periode ini dibagi dalam dua tahap:
  4.  Babak I          : Zaman Calvinis VOC (1605-1800)
  5.  Babak II         : Zaman Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda (1800-1930/1935)
  6. Lahirnya Gereja-gereja Suku/Gereja Daerah dan Gerakan Pantekosta di Indonesia

 

  1. Sejarah Gereja di Indonesia tahun 1930-Kini.

 

Babak ini dibagi lagi dalam beberapa periode:

  • Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)
  • Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)
  • Gereja di Masa Perang Kemerdekaan RI (1945-1950)
  • Gereja yang bertumbuh/tinggal landas (1950-kini)

 

 

Evaluasi:

  • Apakah anda setuju atau tidak terhadap periodisasi ini? Beri alasan (diskusikan dalam kelompok). Hasil diskusi dipresentasikan

 

 

 

 

BAB 2

KONTEKS INDONESIA/NUSANTARA KETIKA INJIL MASUK

 

Kompetensi Dasar 2 (Tujuan Khusus) Bab 2

 

Setelah berinteraksi dengan isi bab ini mahasiswa mampu:

 

  • Menjelaskan konteks geografis dalam hubungan dengan misi (Pekabaran Injil pada masa lampau).
  • Mahasiswa mencari sumber di Internet ttg konteks geologi (3 lempeng) yang pada periode-periode tertentu dapat menyebabkan terjadinya gempa bumi dan tsunami di Indonesia, seperti di Aceh.
  • Membuat refleksi tentang konteks politik (kerajaan-kerajaan di Nusantara) dalam hubungan dengan kedatangan kerajaan Kristus di Indonesia dengan indicator lahir dan berkembangnya Gereja di Nusantara. Hasil refleksi disampaikan di kelas untuk ditanggapi secara bersama. Untuk mengerjakan tugas ini, mahasiswa dapat membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang.

 

Materi Pembahasan:

 

Ketika Allah hendak menyelamatkan seluruh umat manusia, Ia masuk dalam konteks (Inkarnasi). Inkarnasi ini bersentuhan dengan berbagai konteks pada waktu itu. Misalnya konteks Yahudi dan Hellenisme, konteks Politik (pemerintahan Romawi).

Ketika para pekabar Injil (para misionaris) dari Eropa ke Indonesia, tentu berhadapan dengan berbagai konteks yang ada di Nusantara (Indonesia) pada waktu itu. Dalam hal ini bahasan konteks Indonesia dimaksudkan untuk memahami bagaimana keadaan Indonesia ketika para misionaris dari Eropa memberitakan Injil di Indonesia. Ada beberapa konteks yang dapat dipaparkan di sini.

 

  1. Konteks Geografis

 

Secara geografis Nusantara/Indonesia terletak di garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karena letaknya yang berada di antara dua benua, dan dua samudra, ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Terdiri dari 17.508 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Oleh karena wilayah kepulauan maka lingkungan alam, letak yang terpisah dan terisolir oleh lautan, gunung-gunung dan sungai serta hutan belantara yang lebat, tidak meratanya daya serap kebudayaan luar oleh suku-suku tersebut, kesemuanya itu menimbulkan perbedaan-perbedaan  yang berderajat dalam tingkat kebudayaan, keterbukaan, penyesuaian dan sebagainya.

Nusantara kita terletak pada garis katulistiwa, maka Indonesia hanya mengenal dua musin cuaca, yakni musim hujan dan kemarau. Posisi pada garis katulistiwa ini juga mempunyai akibat terjadinya peletusan-peletusan gunung berapi yang banyak terdapat di sepanjang pulau-pulau seperti Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan beberapa kepulauan di NTT,  Sulawesi Utara dan Halmahera. Hal ini menyebabkan nusantara tidak dapat menghindari gempa bumi. Misalnya gempa di Padang.

Bila kita hubungkan dengan penginjilan maka kita patut menduga bahwa ada banyak kesulitan dalam melaksanakan pekabaran Injil di Nusantara pada masa lampau. Namun kita juga bersyukur karena ada gereja di Nusantara yang merupakan hasil pekaran Injil pada masa lampau di Nusantara, baik pada masa VOC, Hindia Belanda, masa pengutusan zending-zending ke Nusantara dan tanggungjawab orang Indonesia atas kabar baik tentang Yesus Kristus yang sudah mereka terima dan sebarkan kepada orang lain.

Keadaan geografis juga tidak dapat kita abaikan dalam pekabaran Injil masa kini dan masa yang akan dating.

 

  1. Geologi Indonesia

 

Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, hanya 10.000 tahun yang lalu[8]. Lihat peta geologi Indonesia di http://inigis.info/blog/download-peta-geologi-indonesia/ . Oleh karena letak Indonesia pada beberapa pertemuan lempengan ini maka beberapa wilayah di Indonesia rentan terhadap gempa bahkan Tsunami di Indonesia.

Letak Nusantara pada pertemuan 3 lempengan ini menyadarkan kita bahwa Nusantara rentan terhadap musibah-musibah yang sangat dasyat, seperti Tsunami yang terjadi di Aceh. Kita belum tahu pasti apakah pernah terjadi Tsunami pada masa lampau, yaitu abad 15-19 ketika pada misionaris memberitakan Injil di Nusantara. Tetapi hasil ilmu pengetahuan dalam bidang geologi menolong kita untuk memahami bahwa Negara kita (kepulauan di Nusantara) berada pada pertemuan 3 lempengan.

Kita juga jangan saling mempersalahkan ketika terjadi musibah yang sangat dasyat karena patahan lempeng bumi yang menyebabkan terjadinya bencana dasyat.

Tugas Mhs:

  • Mencari di Internet: gambar tiga lempeng tersebut (peta geologi)
    1. Politik

 

Secara politik, sebelum datangnya kekuatan politik dari Eropa, sudah ada kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berkuasa atas atas wilayah-wilayah di Nusantara. Kerajaan-kerajaan  yang dimaksud (hanya dua saja yang dipaparkan di sini) yaitu:

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma[9]

Tarumanaga adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

Kerajaan Mapahit[10]

Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.[2] Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang, menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok[11].

Kejatuhan Majapahit. Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.

 

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara.

Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara.

 

Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Melayu yang berpusat di Minanga Tamwan, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Melayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut China Selatan. Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa-wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.

Jadi, jelas bahwa abad 4 – 14 Masehi banyak kerajaan di Nusantara sangat dipengaruhi oleh Hindu dan Budha sampai munculnya Islam di Nusantara. Beberapa kerajaan dipengaruhi Islam.

KERAJAAN YANG BERNAFASKAN ISLAM

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[18] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.

Kerajaan yang bernafaskan (dipengaruhi) Islam[12]

Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting — dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan Majapahit.[17]

Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit, disamping Sriwijaya, sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik negara Republik Indonesia saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan.[25]Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara. Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.

 

 

Kerajaan/politik di Nusantara yang dipengaruhi Agama

Bagian ini tidak harus berdiri sendiri, karena uraian di atas, telah menunjukkan bahwa ada kerajaan yang dipengaruhi Agama Hindu-Budha, dan Islam. Sub judul ini hanya menekankan kembali bagaimana agama mempengaruhi kekuasaan (baca: kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama tertentu). Kerajaan yang dipengaruhi agama suku tidaklah dibahas di sini karena belum ada data untuk itu, maka pengaruh tersebut lebih banyak diarahkan pada agama-agama yang dating dari luar Nusantara, seperti Hindu-Budha, Islam dan Kristen, tetapi Kong Fu Chu tidak dibahas di sini (alasannya belum ada data untuk itu), mudah-mudahan di kesempatan lain dapat diwujudkan.

Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Melayu yang berpusat di Minanga Tamwan, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Melayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut China Selatan.[13] Dibawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa-wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[14]

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[15] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

  • Portugis di Nusantara yang dipengaruhi oleh agama Kristen (Gereja Katolik)

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[16]

  • VOC dan Hindia Belanda yang dipengaruhi oleh Kristen (Gereja Protestan Calvinis).

Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19[17].

Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel. Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[20] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.

Hindia Belanda yang dipengaruhi oleh Kristen Protestan

Setelah VOC bubar di Indonesia, maka kekuasaan atas Indonesia diserahkan kepada pemerintah Belanda. Jadi sejak 1799 – 1945 Nusantara dikuasai oleh kekuasaan yang dipengaruhi oleh Agama Kristen

Jepang yang dipengaruhi oleh agama Shinto

Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

  • Menuju Pembentukan Negara yang dipengaruhi banyak Agama (Islam, Kristen, Hindu-Budha dan kemudian Kong Fu Chu pada masa Gus Dur)

Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal sebagai 'aksi polisi' (Politionele Actie).[21] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutamanya Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden RI dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti gerakan non-blok pada awalnya dan kemudian dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[22] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.

Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno kini sendiri makin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. 32 tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata, di Indonesia. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom-ekonom lulusan departemen ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[23] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[24] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah sedang berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, yaitu Aceh dan Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 2002 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Tugas (Sharring pendapat):

  • Diskusikan fakta ttg kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Asia Barat pada waktu terbentuknya Israel dan datangnya Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Misalnya Kerajaan Partia VS Kerajaan Allah melalui Israel. Kerajaan Yunani, Kerajaan Roma VS Kerajaan Kristus (Doa Bapa Kami: Datanglah kerajaan-Mu …)

 

  1. Konteks Sosial- Budaya dan ekonomi

 

Zaman Kerajaan Tarumanegara

Kehidupan Sosial

Teks Suci orang Ibrani memulai dengan kebenaran: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri … (manusia adalah mahluk individual dan social/bersama, suka mencari teman).

Orang di Nusantara pada saat itu  walaupun tidak percaya kepada Tuhan Yesus tetapi mereka terbiasa kerja bersama (gotong royong).

Dalam kehidupan social, masyarakat kerajaan Tarumanegara sudah menanamkan sikap gotong royong. Sikap gotong royong ini dibuktikan dengan dari isi prasasti Tugu, yang menjelaskan adanya penggalian Sungai Gomati dan Chandrabagha. Selain itu dalam kehidupan keagamaan, sebagian masyarakat kerjaan Tarumanegara menganut agama Hindu – Buddha dan sebagian masyarakat yang lainnya masih menganut anemisme dan dinamisme.

Kehidupan Ekonomi

Syair Umum

Bukan lautan hanya kolam susu

Kayu dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada tofan kutemui

Hutan dan rimba menghampiri dirimu ….

Tongkat kayu batu menjadi tanaman

 

Syair Gereja

 

Betapa kita tidak bersyukur, bertanah air kaya dan subur …

Lautnya luas, gunungnya megah …

Persada kita jaya dan teguh …

Itu semua berkat karunia Allah yang Agung Maha Kuasa …

 

Syair di atas menyangkut ekonomi.

Indonesia memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang sangat kaya, yang belum sepenuhnya digarap dengan baik demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, seperti emas, intan, dan batu mulia lainnya, timah, besi, nekel, batu bara, the, kopi, kelapa, karet, tembakau, cengkeh, lada, kina, beras, jagung, minyak bumi dan sumber-sumber meineral lainnya serta hutan dengan segala kayunya.[18]

Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah sekitar 350 tahun penjajahan Belanda, Indonesia menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Ada pula informasi dalam penjelasan dari prasasti Tugu, dijelaskan tentang pembangunan saluran Gomati sepanjang 6122 tombak atau lebih kurang 11 KM. Pembangunan saluran sungai ini bertujuan untuk mengairi pertanian dan untuk mencegah banjir. Selain itu saluran juga digunakan untuk sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran antara Tarumanegara dengan kerajaan lain.

Menurut catatan dari Fa – Hien seorang musafir Cina, masyarakat Tarumanegara sudah melakukan kegiatan berdagang, barang yang diperdagangkan seperti beras, kayu jati. Dengan demikian dalam kehidupan ekonomi, kehidupan ekonomi masyarakat Tarumanegara bertumpu pada pertanian, perkebunan dan perdagangan

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan[14]. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa[18].

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga[19]. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata[20].

 

Kebudayaan

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.

Dr. Fridolin Ukur dalam buku Theo-Doran mengemukakan dua pola kebudayaan pada waktu itu di nusantara:

  1. Pola kebudayaan yang berlandaskan penanganan penanaman padi dengan system irigasi (sawah). Adanya sawa memungkinkan penduduk tinggal menetap.
  2. Pola kebudayaan yang didasarkan pada penanganan penanaman padi dengan sistim perladangan. Sistem ini tidak memungkinkan orang menetap agak lama di sautu tempat karena dalam waktu tertentu mereka harus berpindah mencari tanah-tanah perawan untuk digarap.

Dua pola ini mempengaruhi pelayanan pekabaran Injil. Orang yang memiliki budaya irigasi (sawa) memilih menetap dan mudah diadakan pelayanan lanjutan tetapi lading pindahan mempersulit pelayanan lanjutan karena kecendrungan orang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

 

 

  1. Konteks Agama

 

Materi sub pokok bahasan ttg konteks Agama

 

Sebelum Agama Kristen masuk ke Nusantara, sudah ada agama asli (agama suku) dan agama-agama dari luar Nusantara yaitu Agama Hindu, Agama Budha dan Agama Islam.

 

  1. Agama Suku

 

Setiap suku di kepulauan Nusantara memiliki keyakinan yang terbatas pada suku tersebut. Keyakinan pada suku-suku tertentu itu kita sebut dengan Animisme. Animisme adalah kepercayaan akan adanya jiwa atau roh (kekuatan/daya-daya kekuasaan yang lebih tinggi dari pada manusia itu/mahluk-makluk halus yang berkehendak dan tidak terpahami banyaknya itu, yang mengelilingi manusia di rumah dan di desa di lading dan di hutan, di dalam rimba dan di atas air). Mahluk-mahluk halus itu bisa bersikap baik atau jahat kepada manusia.

Jauh sebelum agama-agama dating ke Indonesia, nenek moyang Indonesia menyembah gunung-gunung dan pohon-pohon besar atau benda yang dianggap keramat. Cara-cara inilah yang disebut penyembah-penyembah Animisme. Peninggalan-peninggalan penyembah Animisme ini masih terdapat hingga sekarang ini dilakukan oleh suku-suku terpencil di Sulawesi Tengah, Papua, beberapa tempat di Sumba, dan Pedalaman Kalimantan.

 

Salah satu doa dalam (penganut) agama suku di Nusantara (agama suku Poso)

 

Doa seorang pemburu rusa atau  babi hutan di Poso:

 

Ia memanggil hantu itu sambil mempersembahkan sirih pinang sbb:

 

“O Toriorio, di sini kami letakkan bagianmu. Kami meminta imbalannya. Kiranya Babi-babi hutan  tidaklah pergi terlalu jauh, supaya tombak-tombak kami dapat menikam mereka. Kiranya monyet-monyet pergi ke Mokupa, tempat orang mahir menembak dengan sumpitan; dan kiranya tikus-tikus pergi ke Onda’e, tempat orang cekatan memasang perangkap. Orang yang berhasil menangkap/menombak seekor babi hutan mempersembahkan tujuh potong daging kepada roh rimba yang berhati rela itu dan orang memanggilnya sbb:

“Inilah bagianmu dari daging buruan. Berikanlah kepadaku dengan segera seekor babi hutan lagi yang lebih besar dari yang ini, suapa aku dapat memberikan lebih banyak kepadamu”.

 

Doa pada waktu menanam padi:

 

“Ya tuhan Pembentuk, engkau yang bersemayam di tempat terbit dan terbenamnya matahari, dan di kedua ujung langit lainnya. Engkau yang mengatur segala sesuatu, … engkau, ya allah dunia atas, yang sebagai rotan tombu tumbuh kebawah dan menyangga kami; jika engkau terbaring, berbaliklah dulu menelentang dan dengarkanlah kami. Dan engkau, dewi bumi, yang menumpu telapak-telapak kaki kami, dan menyangga kami, sekiranya engkau terbaring menelungkup, bergulinglah dahulu menelentang, dan dengarkanlah apa yang akan kami katakana kepadamu. Dan engkau, Indo I ronda eo, yang tujuh kali sehari mengelilingi bumi, yang melihat perbuatan-perbuatan kami, dan yang mendengar perkataan kami, perhatikanlah apa yang hendak kami katakan. Kami kini akan menanam padi. Engkau, hai dewi bumi, kurunglah tikus-tikus dan serangga-serangga di dalam tanah, supaya mereka jangan merusak tanaman kami. Engkau, hai dewa dunia atas, kurunglah semua burung pipit dalam kandang-kandangnya, supaya mereka jangan dating merusak pekerjaan dan jerih payah kami. Ini seekor kerbau, seekor babi, ini ayam-ayam, yang kami berikan kepadamu”[19].

 

  1. Agama Budha dan Hindu

 

Agama Budha ( Tahun 700 – 1400 M.)

 

Kerajaan Budhis yaitu Sriwijaya telah memasuki Nusantara sejak abad VII dan berkembang terus selama 7 (tujuh) abad sampai abad XIV dan menguasai daerah Indonesia bagian Barat di Semenanjung Malaya, Philipina, Sumatra dan pulau Jawa.

Ada beberapa aliran dalam Budhisme, misalnya aliran Mahayana dan Hinayana, aliran Sansekerta, dan aliran Pali (Theravada). Sekarang ini umat Budha yang paling banyak ada di pulau Jawa, sedikit di pulau Sumatra, dan di Bali.

 

 

Agama Hindu (Tahun 500 M.)

 

Sri Markandeya adalah orang yang membawa agama Hindu ke pulau Bali kira-kira pada abad V. Ada dugaan bahwa Sri Markandeya lah yang memberi nama pulau itu Bali, serta mendirikan pura, Besakih yang terkenal itu.

Markandeya adalah seorang penganut dewa Syiwa, dan mengembangkan kepercayaan ini di tengah-tengah penduduk asli Bali.

Pada tahun 1019 – 1347 M kerajaan Bali jatuh ke tangan Mojopahit. Pada tahun 1347 patih Gajah Mada mengirimkan tentaranya ke Bali dan menaklukkan raja yang terakhir di Bali yang bernama Asta Retna Bumi. Sejak saat itu kekuasaan berpindah ke tangan Mojopahit.

Kemudian Dalem Ktut Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali sebagai wakil kerajaan Majapahit. Selama pemerintahan Dalem Ktut pengaruh kebudayaan Jawa besar di kalangan masyarakat Bali.

 

Kedua agama ini memiliki pengaruh yang besar di Nusantara.  Sehingga ada yang menyatakan bahwa Agama Hindu dan Buddha mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara mulai abad ke-4 sampai abad ke- 14 Masehi. Kerajaan-kerajaan yang dimaksud seperti, kerajaan Tarumanegara,  Sriwijaya, Majapahit dll.  Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.

 

  1. Kristen Nestorian

 

Beberapa ahli sejarah Gereja menduga bahwa sebelum datangnya misi Gereja Eropa (Gereja Katolik dan Protestan) ke Nusantara sudah ada misi Kristen di Nusantara yaitu dari kelompok Nestorian yang berpusat di Partia/Persia/Irak.

Dalam buku sejarah kuno yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih Al-Armini tercantum suatu daftar tentang gereja-gereja dan pertapaan-pertapaan dari propinsi Mesir dan tanah di sekitarnya. Dalam daftar itu dinyatakan bahwa ada 707 gereja dan 181 tempat pertapaan Nasrani yang tersebar di mana-mana termasuk Indonesia. Dalam daftar itu tercantum sebuah nama di Sumatra, yakni Fansur. Di tempat ini (Fansur) terdapat banyak Gereja dan nasara Nasathariah.

Nama Fansur sama dengan Pancur, yaitu suatu tempat di dekat Barus di Tapanuli, Sumatra Utara. Tempat itu (Fansur/Pancur) terkenal sejak abad pertama tarik Masehi karena kaya akan kapur barus (kamfer) yang pada saat itu  merupakan bahan perdagangan yang sangat laku di pasaran Malabar di India Selatan dan pasaran Eropah.

Berdasarkan itu dapat diduga bahwa orang-orang Nestorian dari Malabar yang terkenal dengan semangat pekabaran Injil telah datang dan memberitakan Injil di daerah Sumatra sehingga lahirlah Gereja di daerah sekitar Pancur dan Barus di sekitar pertengahan abad ke-7.[20]

 

  1. Agama Islam

 

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[18] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Jadi, Islam di bawa dan berkembang di Nusantara mulai pada abad ke-13

 

 

  1. Agama Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta-Kharismatik)

 

Bagian ini sebenarnya tidak pas dibicarakan disini. Bagian ini hanya mendeskripsikan tentang agama-agama apa saja yang sudah ada di Nusantara sampai dengan datangnya pekaran Injil dari Eropa yang masuk ke Nusantara bersamaan dengan Imperialisme Barat (Portugis dan Belanda). Oleh karena itu maka singgungan tentang agama Kristen itu bersifat pengantar saja, yaitu ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.

 

 

  1. Konteks Perdagangan

Beberapa kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Nusantara, seperti Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Berdasarkan informasi di atas maka dapat dikatakan bahwa kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa (Portugis, VOC dan Belanda) yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra.

Perdagangan di atas disebabkan karena Indonesia memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang sangat kaya, yang belum sepenuhnya digarap dengan baik demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, seperti emas, intan, dan batu mulia lainnya, timah, besi, nekel, batu bara, the, kopi, kelapa, karet, tembakau, cengkeh, lada, kina, beras, jagung, minyak bumi dan sumber-sumber meineral lainnya serta hutan dengan segala kayunya.

Sejak abad-abad pertama Masehi, Indonesia mempunyai hubungan perdagangan dengan wilayah-wilayah Asia lainnya. Ada jalan dagang dari Tiongkok melalui kepulauan Nusantara ke India, Persia, Mesir dan Eropa, dan sebaliknya. Barang dagang yang dihasilkan Indonesia ialah rempah-rempah yang terutama berasal dari Maluku. Saudagar-saudagar dari Jawa dan Sumatera membawa barang yang sangat berharga itu ke pusat-pusat perdagangan di Indonesia Barat. Lalu mereka, atau pedagang-pedagang dari India, mengangkutnya ke India. Di situ mereka sudah ditunggu oleh saudagar-saudagar dari Asia Barat (orang-orang  Persia dan Arab, mula-mula juga orang Yunani dari Mesir), yang membawa bumbu itu, bersama barang-barang lain, ke pasaran Eropa.

Kota-kota pelabuhan sempat menjadi kaya ray berkat perdagangan itu. Dengan kekayaan itu, mereka dapat menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Maka timbullah beberapa kerajaan besar-kecil di Indonesia. Sriwijaya yang berpusat di Sumatera Selatan, pada abad ke-7 menguasai sebagian besar Indonesia Barat. Di Jawa berturut-turut ada beberapa kerajaan: Mojopahit, Pajaran. Pada zaman Mojopahit, orang-orang jawalah yang menguasai perdagangan antara rempah-rempah di Maluku dan pelabuhan-pelabuhan di Sumatera dan di semenanjung Melayu. Di daerah-daerah tersebut, pedagang-pedagang dari jawa atau dari tempat lain mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, yang hidup juga dari perdagangan, misalnya Ternate di Maluku, Perlak di Sumatera Utara, dan Malaka di Semenanjung Melayu.

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PRA SEJARAH GEREJA INDONESIA

 

Ø3.1. Sejarah Gereja Nestorian di Indonesia

 

Pertanyaan awal dalam belajar Sejarah Gereja Indonesia, yaitu kapan Gereja pertama kali didirikan di Indonesia? Apakah harus dimulai dengan kekristenan yang dibawa oleh kelompok Kristen Nestorian (Gereja Asia Lama) di Indonesia, yaitu di daerah Barus, Tapanuli Utara atau pada saat datangnya misi Gereja Eropa di Indonesia?

Jawaban terhadap pertanyaan inipun beragam! Bergantung dari bagaimana  seorang memberi definisi tentang Sejarah Gereja Indonesia, dan dari sudut mana seseorang melihat dan memberi jawab. Misalnya ada yang melihat dari sudut misionaris dan ada pula yang melihat dari sudut respon orang Indonesia terhadap pemberitaan Injil yang dilakukan para misionaris (Yonas Muanley, 2004:1)

Sekarang kita melihat jawaban dari beberapa ahli, yang pendapat mereka telah dikutip oleh John Culver, sbb:

  • Dr. Theodore Muller-Kruger, menyatakan, “akan tetapi di Indonesia tidak kita dapati sedikitpun bekas pekabaran Injil, dan tidak ada terdapat seseorang Kristenpun  di Indonesia belum kedatangan bangsa Portugis pada abad ke-16. Merekalah yang pertama-tama menjadi penyiar-penyiar Agama Kristen di negeri ini (Culver, 1991:6)
  • Rahmat Subagya (nama samaran untuk Y. Bakker), beliau adalah seorang misionaris dari Ordo Serikat Jesus. Ia menyatakan bahwa ada bukti-bukti tentang meluasnya Kristen Nestorian di tanah air Indonesia pada abad ke-7 dan ke-12 (Culver, 1991:6)
  • Th. Van den End, dalam bukunya Ragi Carita yang ragu-ragu menerima pendapat dari Rahmat Subagya/Y. Bakker, dan menyatakan: “tentang kedatangan orang-orang Nestorian ke Indonesia tidak ada kepastian, apalagi tentang jemaat-jemaat yang mungkin mereka dirikan. Yang pasti ialah bahwa tidak ada garis terus menerus (kontinuitas) antara mereka dengan keKristenan di Indonesia masa kini” (Culver, 1991:6)

Selanjutnya Th. Van den End menyatakan: pada abad-abad pertama sesudah Masehi, pedagang-pedagang Kristen dari Mesir dan Persia menetap di Arabia Teenggara, di India Barat dan Selatan, dan di Srilangka. Jemaat-jemaat mereka di India Selatan bertahan terus sampai sekarang (Gereja Mar Thoma). Bukan tidak mungkin bahwa dari sana pedagang-pedagang Kristen datang ke Indonesia juga. Dalam suatu buku yang ditulis di Mesir tahun 1050 sesuadah Masehi dan yang mengandung data-data mengenai gereja-gereja serta biara-biara Kristen di Asia pada zaman itu, dikatakan bahwa di Fansur ada beberapa gedung gereja. Mungkin Fansur itu adalah Barus di pantai Barat Sumatera Utara.Mungkin juga ada orang-orang Kristen di Jawa. Kita tahu juga bahwa dalam abad ke -14 dua kali seorang misionaris dari Barat singgah di Sumatera. Tetapi, bagaimanapun juga, kehadiran orang-orang Kristen dari luar itu tidak meninggalkan bekas di Indonesia.[21]

 

  • Zakaria J. Ngelow mengutip pandangan Y Bakker dengan menyatakan: ada dugaan bahwa kekristenan Asia Lama (Kristen Nestorian) telah sampai ke Indonesia pada abad ke-7, tetapi tidak bertahan hidup dalam masa selanjutnya.[22]

 

Dari tiga pendapat diatas, maka bagaimana kita harus mendapat suatu kepastian ditengah silang pendapat antara ahli sejarah gereja diatas, John Culver mengusulkan beberapa tinjauan dan kesimpulan serta pentingnya fakta-fakta tersebut atas perbedaan pendapat tentang hadirnya keKristenan Nestorian di Indonesia. Tinjauan, kesimpulan serta pentingnya fakta-fakta tentang Kristen Nestorian di Indonesia menurut Culver, dapat dipaparkan sbb:

 

  • 3.2. Tinjauan atas bukti-bukti kedatang Nestorian di Indonesia abad ke-7 dan  abad ke-12.

 

  • Pertama –tama tidak diragukan bahwa Gereja Nestorian telah meluas ke India pada abad ke-6, ke Sri Langka pada abad ke-6,ke Asia Tengah pada abad ke-5 dan ketiongkok pada tahun 635. Ada juga bukti yang menyatakan bahwa Gereja Nestorian meluas ke Korea, Jepang, Thailan, dan semenanjung Melayu pada waktu yang sama. Salah satu bukti itu adalah peninggalan purbakala, penulisan Sejarah dan surat dari arsip Gereja Nestorian ( (Culver, 1991:7)
  • Gereja Nestorian adalah Gereja yang berpisah dari Gereja Katolik di Kekaisar Romawi pada abad ke-5. Selanjutnya Gereja Nestorian berpusat di Mesopotamia Hilir. Dan satu ciri khas Gereja Nestorian adalah mereka giat memberitakan Injil ketempat yang jauh. Pada abad ke-8 seorang pemimpin Gereja Nestorian Yaitu Timotius I, dalam tulisannya menyebutkan salah satu Rahib Nestorian “ Menyebrang semudera laut dan pergi ke orang-orang India dan orang-orang Tionghoa dengan hanya membawa suatu tongkat  dan nakskah kitab suci” (Culver,1991:7)
  • Antara tahun 1150 dan 1170 ada seorang sejarawan dari Mesir yang bernama Shaykh Abu Salih al Armini, dalam karangannya yang berbahasa Arab dengan judul “ Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan-pertapaan dari propinsi-propinsi Mesir dan tanah-tanah diluarnya”, menyebutkan: adanya Gereja-gereja Nestorian di kota Fansur, yaitu nama kuno untuk daerah Barus di Sumatera Utara”, Fansur: disana terdapat banyak Gereja dan semuanya adalah dari Nasara (Kristen) Nasathiriah ( istilah bh. Arab untuk Nestorian), dan demikianlah keadaan di situ ….. dalam kota itu terdapat satu gereja dengan nama: Bunda Perawan Murni Maria” ( Culver,1991:7)
  • Pada tahun 1348-1349, Giovani Marignolli (seorang misionaris dari Ordo Franciscan) mengunjungi “ Istana Ratu Syeba (kemungkinan istana itu adalah Bubat, pusat Keraajan Mojopahit yang terletak pada sungai Berantas, Jawa Timur. Dia menulis tentang pengalamannya (Giovani Marignolli) disitu antara lain: “…. Dan setelah kami menemui sejumlah jiwa, karena terdapat beberapa orang Kristen disana, saya meneruskan perjalanan saya melalui samudera laut ke Seyllan (Sri Langka) (Culver, 1991:7).
  • Abd-Ishu, seorang tokoh Nestorian yang meningggal pada tahun 1318, telah menyusun satu daftar keuskupan Nestorian dimana ia menyatakan bahwa ada keuskupan di “kepulauan samudera, yaitu Debbag (Jawa)” yang adalah besarnya nomor liambelas dan daftar keuskupannya ( Culver, 1991:8). Walaupun belum dapat dipastikan secara mutlak bahwa Dabbag atau dengan sebutan lain, Zabaj ( dua-duanya bh. Arab) adalah Jawa, namun kebanyakan ahli berpendapat bahwa Dabbag itu  tidak lain dari pulau Jawa (Culver, 1991:8)
  • Menurut suatu naskah  Gereja Nestorian, dinyatakan bahwa pada tahun  1503, seorang patriak Nestorian mengutus tiga uskup ke Jawa (Culver,1991:8).

 

  • 3.3. Kesimpulan  atas bukti-bukti tentang Nestorian di Indonesia abad ke-7 dan abad  ke-12 dan sbb:

 

  • Walaupun terdapat  suatu peninggalan purbakala yang “mutlak” membuktikan adanya Gereja Nestorian di Indonesia, namun dilihat dari berbagai sumber bukti dan fakta sedemikian banyak sehingga kita dapat simpulkan bahwa: Gereja Nestorian sudah ada di Indonesia, paling lambat pada abad ke-12,sangat mungkin sebelum abad itu ( Culver,1991:8).
  • Adanya kegiatan-kegiatan berdagang dan pekabaran Injila, dalam  sumber Th. Van den End disebutkan  bahwa ciri  kelompok  Kristen Nestorian adalah selain mempunyai semangat berdagang meeka juga memiliki semangat pekabaran Injil kaum Nestorian di negeri-negeri tetangga Indonesia menunjang  pendapat diatas itu atau kemungkinan oleh semangat itu maka mereka dapat hadir di Indonesia pada kurun waktu yang disebutkan diatas.

 

  • 3.4. Pentingnya Fakta-fakta tentang Nestorian di Indonesia Pada Masa Lampau.

 

  • Jika hal-hal diatas  itu benar, maka mengapa dan bagaimana Gereja Nestorian hilang tak berbekas masa kini ? sebagai jawaban  perlu diingat bahwa hal yang sama terjadi  di Tiongkok, yaitu ketika misi Nestorian datang ke Tiongkok tahun 635 dan mendirikan banyak Gereja berbagai tempat di Tiongkok, namun kemudian hari  Gereja Nestorian menjadi hilang di Tiongkok. Hal ini disebabkan karena korban dari politik, penganiayaan atau banyak factor menyebabkan Kristen Nestorian Menjadi hilang dibeberapa tempat di Asia, termasuk di Indonesia.
  • sampai abad ke-17, tidak ada bukti  mutlak sama sekali bahwa kaum Nestorian pernah menginjakkan kakinya di Tiongkok. Akan tetapi pada tahun 1625 ditemukan di kota Sian-Fu peninggalan Purbakala, yakni monument Nestorian (Monument Chang’an). Pada monument ini  terukir dalam tulisan  Tionghoa, gaya yang klasik abad ke-8, bahwa seorang rohaniwan Kristen Nestorian bernama Alo-pen dari Siria telah datang menghadap sang kaisar Tiongkok yaitu Dinasti Sung untuk meminta izin menyebarluaskan ajaran Kristen Nestorian di Tiongkok (Culver,1991:9).
  • Sementara kita menantikan bukti “mutlak” atas adanya Gereja Nestorian  di di Indonesia, perlu kita mempertimbangkan makna (kegunaan) dari fakta-fakta dari  kehadiran Kristen Nestorian di Indonesia ( Barus, dan Jawa), yaitu:

Makna Apologetika : adanya Gereja Nestorian Merongrong  pendapat pihat yang mengatakan Gereja Kristen di Indonesia adalah “ impor” (Culver,1991:9).

 

Makna Rohani : adanya Gereja Nestorian di Indonesia pada tahap awal (antara th. 650-1500) memperlihatkan kepada kita bahwa Allah tidak mengesampingkan bangsa Indonesia dari jangkauan anugerah-Nya. Hal itu juga menyisaratkan bahwa Tuhan memiliki rencana yang agung buat Indonesia dimasa depan (Culver, 1991:9)

 

Reffleksi histories ( Pelajaran Sejarah)

 

  • Kesulitan mendapat  data-data tentang Gereja Nestorian di Indonesia pada masa lampau disebabkan karena  tidak ada orang Indonesia yang mendengar, dan mungkin bertobat dan menjadi Kristen  pada waktu itu, namun tidak menulis tentang kegiatan mereka  yang berhubungan dengan penginjilan, maka kita dalam pelayanan Gereja/ PI/pendidikan Alkitab, yang berhubungan dengan Tuhan, seperti pengangkatan majelis atau kegiatan-kegiatan gereja, hendaknya ditulis, dan diarsipkan sehingga suatu saat menjadi sumber-sumber bagi pembahasan Sejarah Gereja di daerah-daerah tertentu di Indonesia.
  • Kegiatan PI Nestorian di Barus Sumatera Utara,  menolong kita untuk memahami  pesan teks kitab suci Kristen: alangkah indahnya telapak kaki  orang percaya yang membawa berita sukacita,  dikemudian hari Nomensen dengan pelayanannya menghasilkan Gereja di Sumatera dan Gereja tersebut menjadi salah satu Gereja terbesar (jumlah anggota jemaat) di Indonesia,yaitu Gereja HKBP.
  • PI yang kita lakukan di suatu tempat, mungkin suatu saat hilang, tetapi bisa saja saat-saat yang akan dating, ada orang-orang Kristen yang berPI di daerah  yang pernah kita layani  dan melalui pelayanan mereka, gereja menjadi  berkembang pesat seperti yang di alami Nomensen (tapi tidak harus sama dengan Nomensen).
  • Jika kelompok  Nestorian mempunyai  semangat berdagang  dan juga semangat dalam melakasanakan PI, maka kita pun harus demikian. Sesibuk apapun dalam pekerjaan kita,  kita tidak boleh mengabaikan PI melalui profesi kita.

 

Tugas:

Diskusikan: apakah benar kita mengkorelasikan kehadiran Nommensen di Batak dan perkembangan HKBP. Ada ayat dalam PL menyatakan: Alangkah indahnya telapak kaki orang yang membawa berita selamat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

MISI GEREJA KATOLIK DI INDONESIA ABAD 15 – 18

 

 

  • Menjelaskan struktur perkembangan Gereja Katolik
  • Menilai metode Misi Gereja Katolik
  • Menjelaskan tokoh-tokoh misi Gereja Katolik
  • Mengidentifikasi wujud umat Katolik di Indonesia

 

Materi Pembahasan:

 

4.1. Struktur Perkembangan Gereja Katolik

 

Gereja Katolik dengan pemimpin tertinggi yaitu Paus yang berkedudukan di Roma, hanya dapat berkembang ke luar Eropa seperti ke Afrika, Amerika dan Asia dengan struktur sbb:

 

  • Hirarki

 

Gereja Katolik pada abad pertengahan bersifat hirarkis. Sistem hirarki ( pemerintahan imam). Dengan system ini, kaum awan tidak mempunyai  suara dalam Gereja, kaum awam itu berada dibawah imam. Para imam berada dibawah Uskup. Para uskup berada dibawah Paus ( kepala Gereja Katolik/pemimpin  tertinggi Gereja Katolik). Melalui system hierarkis, Gereja Katolik  memiliki sistem organisasi gereja yang sangat rapih. Kerapian organisasi ini menolong Gereja Katolik untuk mengatur usaha misi Gereja Katolik yang amat luas , yaitu di seluruh dunia. Dan Mengatur keseragaman penggembalaan, pemuridan,dan tata ibadah ( bh. Ibadahpun serangam,bh. Latin)[23].

Dalam system hirarki menolong gereja Katolik berkembang ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

 

  • Sistem Padroado (Negara harus melayani Gereja) abad 15-17 di Nusantara

 

Pada abad pertengahan seluruh bidang kehidupan diatur oleh Agama (Gereja Katolik). Hubungan antara gereja dan Negara adalah Negara berada di bawah gereja. Tugas Negara ialah melayani gereja, melindungi iman Kristen dari serangan musuh-musuhnya dan mendukung penyiarannya ke luar[24]. Konsep pemahaman seperti itu pada akhirnya mempengaruhi Gereja Katolik di berbagai tempat, khususnya pada wilayah yang dikuasai/dijajah Portugis dan Spanyol.

Misi Gereja Katolik  dari Eropa ke Indonesia datang bersamaan dengan tindakan kekuasaan bangsa  Portugis di Indonesia. Bangsa ini  selain memperluas kekuasaan  Politik, dan Ekonomi  di Indonesia, mereka ( bangsa Portugis) juga merasa bertanggung jawab atas penyiaran agama Kristen ( Van den End, 2005:28). Terlebih Paus  pada waktu itu mendorong setiap Raja Portugis agar mewartakan Iman Kristen Katolik di daerah kekuasaannya di seberang laut atau daerah jajahan Portugis. Raja-raja Portugis diberi hak “Padroado” (bahasa Portugis). Padrao = tuan, majikan, raja sebagai majikan, pelindung gereja di wilayahnya). Dalam hak Padroado raja bertanggung jawab dalam perluasan misi Katolik  di daerah jajahan, dalam arti Raja Portugis diberi hak untuk mengurus sendiri segala sesuatu yang menyangkut dengan Gereja dan Misi di daerah jajahan. Raja Portugis boleh memilih dan mengangkat Uskup di daerah jajahannya dan berhak mengirim misionaris ke daerah jajahan (Van den End, 2005:29)

Dengan kata lain, wewenang yang diberi oleh Uskup Roma (Paus) kepada raja Spanyol dan Portugal untuk mengusai wilayah baru itu disebut “Hak Padroado”, dalam hak padroado itu raja Spanyol dan Portugal diberi kewajiban untuk:

1) Menyebarluaskan agama Kristen.

2) Menanggung para misionaris baik secara material maupun finansial.

3) Menunjuk calon uskup yang akan diangkat oleh Paus.

4) Merawat serta memperbaiki gedung gereja, kapela, biara, dan tempat gerejani lainnya. 5) Menyediakan segala keperluan lembaga gereja serta segala kebutuhan untuk kebaktian.

6) Memberi nafkah kepada semua petugas gerejani baik rohaniawan maupun awam.

7) Membangun gedung gereja yang baru seperlunya.

8) Mengangkat rohaniawan secukupnya guna melaksanakan segala tugas pelayanan yang suci.

Pembiayaan yang disyaratkan dalam padroado membutuhkan modal yang sangat besar, untuk itu pemerintah Portugal/Spanyol harus mengusahakan berbagai sumber penghasilan seperti:

  • penjualan rempah-rempah;
  • serta barang lain;
  • perdagangan budak-budak;
  • pajak persepuluhan dari hasil penghasilan warga masyarakat yang harus diserahkan kepada Negara[25].

 

Dari paparan diatas, kita melihat misi Gereja datang bersamaan dengan kepentingan politik – ekonomi, Oleh karena itu sering Agama Kristen dicap sebagai agama penjajah. Hal ini kadang ditemui  dalam interaksi penginjilan kepada orang-orang tua non Kristen yang mengalami penjajahan, mereka biasanya menyatakan: Agama Kristen adalah agama penjajah.

 

Bagaimana jawaban kita?:

 

Setelah kita belajar sejarah gereja Indonesia, kita dapat menjawab secara tegas bahwa agama Kristen bukan agama penjajah. Sebab mesti dibedakan misi politik/kekuasaan dan misi Kristen.  Hanya  perlu kita tahu bahwa misi Kristen datang bersamaan  dengan kepentingan politik dan ekonomi dua bangsa yang pernah menjajah Indonesia[26].

Di atas sudah kita tegaskan bahwa: dalam hak “padroado”, Pemerintah Portugis mendapat kewenangan untuk mendukung dan melindungi Gereja. Dalam system padroado. kaisar adalah majikan Gereja atau pelindung Gereja. Segala kebutuhan Gereja dibiayai  oleh Negara/Kaisar Portugis, atau tugas Negara (Portugis) adalah melayani Gereja, melindungi iman Kristen dari serangan musuh-musuhnya dan mendukung pemberitaan atau penyiaran keluar (Van den End, 2005:23)

 

 

Misi Gereja Katolik di Maluku Tahun 1540 dalam konteks Padroado

 

Orang-orang Portugis setelah menguasai Malaka, pusat perdagangan di Asia Tenggara pada waktu itu, dan melanjutkan penaklukkan daerah penghasil rempah-rempah yaitu di Maluku. Sultan Ternate menerima kedatangan bangsa Portugis dan mengizinkan bangsa Portugis membangun benteng di Ternate. Selanjutnya pulau Ternate menjadi pangkalan tentara dan saudagar-saudagar Portugis di Indonesia Timur. Selain itu Ternate juga menjadi pusat misi Gereja Katolik untuk Indonesia Timur (Van den End, 2005:36).

Di benteng Portugis di Ternate, pemerintah Portugis mengirim satu atau beberapa imam untuk mengadakan pemeliharaan rohani bagi tentara-tentara Portugis dan pedagang-pedagang Portugis yang tinggal di benteng tsb. Para imam itu nampaknya tidak mengadakan penyiaran iman Kristen kepada orang-orang non Portugis  sebagai tugas utama mereka,  orang-orang bukan Portugis seperti di Halmahera tertarik masuk Kristen karena kesaksian kaum awam. Mereka yang tertarik menjadi Kristen di Halmahera menjadi awal mulainya Gereja di Halmahera.

Di kampung-kampung lain, agama Islam sudah terasa kuat, kecuali di Mamuya penduduk masih menganut agama nenek moyang. Pada suatu saat datanglah seorang pedagang Portugis untuk berdagang di Mamuya. Ketika orang-orang Mamuya datang kepada pedagang Portugis, memohon bantuan karena sering diganggu oleh orang-orang di kampung-kampung di sekitarnya. Pedagang Portugis memperkenalkan kepada kepala kampung Mamuya untuk meminta perlindungan kepada orang-orang/tentara Portugis di Ternate. Kepala kampung Mamuya mengirim utusan ke Mamuya untuk mengadakan hubungan dengan Portugis. Setibanya di Ternate utusan-utusan dari kampung Mamuya itu di bawa kepada seorang imam Portugis di benteng Ternate. Imam itu memberi pelajaran Agama Kristen kepada mereka lalu mereka di baptis, setelah itu mereka pulang ke Mamuya (Van den End, 2005:38-39).

Ketika kepala kampung itu menerima laporan dari utusan-utusannya maka iapun sangat bergembira dan berencana ke Ternate. Ia dijemput oleh Panglima Portugis dan berangkat ke Ternate. Setelah tiba di benteng Portugis di Ternate, kepala kampung tersebut diberi pelajaran iman Kristen dan setelah itu dibaptis. Ia diberi gelar bangsawan Portugis yaitu: Don Joao (diucapkan: Yoang). Ketika kembali ke kampungnya, ia disertai oleh seorang imam Katolik yaitu Simon Vaz. Dengan kesediaan orang Mamuya untuk menerima baptisan maka Don Joao bersama isi kampungnya dimasukkan dalam masyarakat Kristen Portugis (Van den End, 2005: 38-39)

 

Kadang orang-orang di Halmahera menjadi Kristen karena melihat kepribadian orang Kristen, seperti Antonio Galvao (1536-1540). Ia adalah panglima Portugis yang ditugaskan di Ternate. Galvao memiliki kepribadian yang mempesona orang-orang non Kristen. Ia adalah seorang yang bijaksana dalam memimpin  pemerintahan di Ternate. Pada zaman Antonio Galvao misi mendapat peluang. Bahkan beberapa tokok masyarakat Ternate masuk Kristen dengan kemauan sendiri tanpa paksaan kekuasan Potugal di Ternate, tetapi tertarik dengan kepribadian Antonio Galvao. Bahkan di Sulawesi Selatan meminta supaya  dikirim beberapa imam kesana. Jadi pada masa kepemimpinan panglima Portugis yaitu Antonio Galvao di Ternate Kekristenan dan misinya disambut secara baik ( Van den End ,2005:41).

Akan tetapi Galvao diganti dengan panglima yang lain maka usaha misi tidak diperhatikan secara baik karena baik panglima yang mengantikan Antonio dan penganti pastor terlalu sibuk dengan urusan dagang maka pekerjaan misi di Maluku Utara menjadi merosot.

 

  • Ordo-ordo kebiaraan

 

Pada Gereja Abad pertengahan, pertarakan dipandang sebagai bentuk kehidupan Kristen yang paling tinggi. Orang-orang yang menuntut kehidupan yang demikian berkumpul membentuk ordo-ordo, misalnya ordo Fransiskan, ordo Dominikan, ordo Serikat Yesus. Mereka itu tidak terikat oleh harta-benda atau keluarga dan sering mereka adalah orang-orang Kristen yang bersemangat. Oleh karena itu anggota-anggota ordo cocok sekali untuk dipakai sebagai tenaga misionaris. Dari ordo-ordo inilah berasal hampir semua misionaris di Indonesia dan dunia[27].

 

  • Prajurit Paus/Ordo Serikat Jesus

 

Setelah terjadinya Reformasi Gereja oleh Marthin Luther, Gereja Katolik berusaha untuk membendung ajaran reformasi untuk tidak meluas ke wilayah lain di luar Eropa. Salah satu ordo yang memohon kepada Paus untuk memperbaharui Gereja Katolik dari dalam dan membendung ajaran reformasi adalah ordo Serikat Jesus. Ordo ini mempunyai beberapa misonaris yang terkenal. Melalui pelayanan mereka, berkembanglah Gereja Katolik di beberapa wilayah Asia, seperti India, Indonesia, Jepang dll.

Jadi, salah satu struktur perkembangan gereja Katolik Roma adalah semangat dari anggota ordo Serikat Jesus.

Khususnya di Indonesia, masuklah semangat ordo serikat Jesus pada tahun 1540-an di Maluku. Suasana misi di Maluku mengalami perubahan. Masuklah suatu unsur baru, yaitu pater-pater Serikat Jesus (orang-orang Yesuit), yang membawa serta suasana kontra Reformasi dari Eropa. Kontra Reformasi adalah suatu pembaharuan dalam tubuh Gereja Katolik Roma, yang berlangsung sejak tahun 1540. Gerakan ini ditimbulkan oleh pemberontakan Protestan terhadap kuasa Roma. Selain itu juga mereka melawan konsep Gereja yang telah dimulai sejak zaman Konstantinus Agung, dan yang juga terdapat

 

dalam ideology Negara Spanyol dan Portugal, yaitu  Gereja adalah alat Negara untuk bidang kerohanian. Kontra Reformasi menegaskan bahwa gereja bukan suatu lembaga Negara, tetapi gereja mempunyai metode-metode dan tujuan tersendiri. Berkat gerakan Kontra Reformasi ini muncullah suatu angkatan misionaris yang bersemangat untuk mengembangkan Gereja Katolik. Mereka tidak terikat dengan Negara Portugal atau Spanyol, tetapi kepada Gereja, Paus dan Kristus. Bagi mereka perluasan Gereja Katolik wajib dilaksanakan terlepas dari pertanyaan apakah hal itu adalah menguntungkan bagi perluasan wilayah pengaruh negaranya. Oleh karena itu maka para misionaris ordo Serikat Yesus bekerja juga/melayani di luar lingkungan pengaruh Negara-negara Kristen. Demikian Xaverius, setelah meninggalkan Maluku, pergi ke Jepang dan Tiongkok, de Nobili menetap di India. Bila mereka bekerja dalam daerah jajahan maka mereka bersifat lebih kritis terhadap tingkah laku orang Eropa dari pada tingkah laku imam-imam Negara. Kritik juga ditujukan kepada penguasa yang resmi. Xaverius pernah mengajak para imam lainnya untuk selalu membela hak-hak orang-orang pribumi dan untuk sekali-kali tidak memfitnah mereka di hadapan orang-orang Portugis.  

Misi Katolik di Indonesia selain diusahakan melalui Sistem Padroado seperti disebutkan diatas, misi Katolik di Indonesia juga diupayakan melalui misionaris-misionaris dari ordo Serikat Jesus. Misionaris yang dididik dalam ordo Serikat Jesus pada waktu itu sering disebut dengan pejuang-pejuang Paus/prajurit-prajurit Paus. Mereka berada dibawah pengaturan secara langsung oleh Paus di Roma.

Misionaris yang terkenal dari ordo ini adalah : (1) Fransicus Xaverius (orang Spanyol). Ia adalah misionaris Katolik yang paling terkenal  diantara para Jesuit. Ia melayani dengan cara tidak menetap disalah satu daerah pelayanan tetapi dengan cara berkeliling didaerah-daerah diberbagai penjuru bumi untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Kepribadian Fransiscus sangat mempesona dan semangatnya tidak pudar. Ia juga memiliki karunia untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit.

Dalam pelayanan,  Xaverius memaki metode-metode sebagai berikut:

Di Ternate. Setiap hari dua kali satu jam menyelenggarakan Palajaran Agama Kristen. Rumusan-rumusan seperti Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa kami, Salam Maria, 10 Hukum dikaji didepan orang yang telah berkumpul. Jika pendengar adalah orang Indonesia maka ia memakai terjemahan rumusan-rumusan pokok-pokok iman tersebut diatas dalam bahasa Melayu yang telah disiapkan di Malaka. Selain itu juga menyusun semacam Katekismus dalam bentuk syair yang mengandung penjelasan mengenai Pengakuan Iman Rasuli. Ia juga berkumpul dengan orang-orang Islam di Ternate, bahka bergaul dengan Sultan Hairun yang muda yang kemudian hari menjadi musuh yang dasyat bagi orang Portugis.

 

  • 4.2. Metode Misi Gereja Katolik

 

Misi Gereja Katolik dapat dibahas dalam dua pendekatan, yaitu metode misi pada zaman kekuasaan Portugis di daerah jajahan, dan metode misi setelah terbentuknya Kontra Reformasi.

 

  • Metode Misi dalam Sistem Padroado.

 

Pada wilayah yang dijajah oleh Portugis, misi selalu bergandengan tangan dengan penjajahan dan perniagaan/perdagangan.

 

  • Metode Padroado (dukungan pemerintah)

 

Raja Portugal dan Spanyol telah disuruh Paus agar menjalankan penyiaran agama Kristen di wilayah jajahan dengan memberi hak “Padroado[28]”. Dalam hak Padroado, Raja mendapat mandate dari Paus untuk mendukung penyiaran agama Kristen.  Sistem dukungan Pemerintah (Padroado)[29]  dalam jajahan Portugis berlaku sampai abad ke-20.[30] melalui pemerintahan Portugis di daerah jajahan.Metode ini dipakai di Nusantara, ketika Portugis berkuasa di Nusantara. Gereja dalam misinya mendapat dukungan dari pemerintah Portugis. Misionaris yang bekerja dalam pengaruh kekuasaan Politik Portugis biasanya mendapat dukungan dari Negara. Orang-orang pribumi sering masuk Kristen dan dibina oleh misionaris karena ingin dilindungi oleh Portugis. Para imam yang melakukan pengkristenan selalu dalam kepentingan politik Portugis. Oleh karena itu maka sering ada pula yang bermisi melalui dagang. Lihat orang eropa yang berdagang di Mamuya. Dalam system Padroado, Negara mengangkat dan mengutus kaum rohaniawan di daerah jajahan, termasuk tenaga pekabar Injil, dan membiayai mereka. Di setiap kapal ada imam-imam, yang memelihara kerohanian awak kapal dan yang , setelah mendarat, berdoa kepada Tuhan mohon berkat atas perdagangan maupun pekabaran Injil.

 

Th. Van den End memberi informasi ttg beberapa metode misi Gereja Katolik di Nusantara:

 

Di Mamuya:

 

  • Misi melalui Perdagangan (Berdagang sambil bermisi):

 

Seorang saudagar memperkenalkan agamanya kepada orang-orang setempat. Metode ini sama dengan metode dagwah Islam.

Tahun 1533/4 datanglah seorang asing menetap di Mamuya dengan maksud berdagang. Ketika orang mamuya membawa keluhan-keluhan kepadanya, saudagar itu bersikap simpatik. Ia member nasehat, agar orang Mamuya mencari perlindungan pada orang-orang Portugis di Ternate. Dan supaya perlindungan itu se-efektif mungkin, maka sebaiknya orang-orang Mamuya menerima pula agama orang-orang Portugis, yaitu agama Kristen. Dengan demikian tanah dan jiwa mereka selamat. Saudagar itu masih menambahkan keterangan mengenai kuasa raja Portugal yang jaya itu, mengenai kepala orang-orang Kristen di Roma, dan mengenai pokok-pokok utama agama itu. Nasehat saudagar ini berhasil, kepala kampong Mamuya tertarik dan mengirim utusan ke Ternate untuk mengadakan hubungan dengan panglima Portugis di Ternate dan memohon bantuannya terhadap tetangga yang menyusahkan mereka. Utusan-utusan itu mengungkapkan keinginan orang-orang Mamuya untuk masuk Kristen. Utusan-utusan itu ketika tiba di Ternate dibawa kepada seorang imam yang adalah pendeta orang-orang Portugis di Ternate. Mereka diberi pengajaran agama Kristen selama beberapa hari, kemudian mereka dibaptis. Setelah itu kembali ke Mamuya.(van den End, 1999:38-39)

 

  • Menjangkau orang berpengaruh

 

Ketika kolano Mamuya menerima laporan utusan-utusannya, ia sangat gembira. Segera ia berangkat ke Ternate. Panglima Portugis sendiri datang menjemput dia dan ia disambut dengan sangat meriah. Ia pun selama beberapa hari mendapat pelajaran agama lalu dibaptis dan diberi nama bangsawan Portugis, yaitu Don Joao.

 

  • Pembinaan dalam waktu singkat.

 

Baik utusan-utusan dari kepala kampong Mamuya dan kepala kampong Mamuya yang menjadi Kristen hanya mendapat pelajaran Agama dalam waktu yang singkat. Pembinaan dalam waktu yang panjang belum dilaksanakan.

 

Orang-orang Mamuya ingin masuk Kristen (Katolik) karena perlindungan keamanan oleh Portugis

 

Para calon dibina dengan Pelajaran Agama selama beberapa hari kemudian dibaptis.

Melalui orang berpengaruh (kepala kampung Mamuya), diberi nama/gelar bangsawan  Portugis (Don Joao)

Pelajaran Singkat untuk calon Kristen dan bukan pelajaran agama yang panjang

 

Dalam benteng Portugis di Ternate, pasti hadir satu atau lebih imam untuk mengasuh tentara dan pedagang-pedagang Portugis yang tinggal di benteng. Para imam tidak memandang penyiaran agama Kristen kepada orang-orang bukan Portugis sebagai tugas mereka yang utama. Sebab orang-orang pertama yang masuk Kristen ditarik oleh seorang awam. Hal ini terjadi di pulau Halmahera.

PI oleh orang awam: Pada tahun 1533/4 datang seorang asing menetap di daerah Mamuya dengan maksud hendak berdagang. Orang ini kemudian member nasehat kepada orang-orang Mamuya agar mencari perlindungan pada orang-orang Portugis di Ternate. Akibat dari perlindungan ini maka orang Mamuya masuk Kristen. Saudagar itu masih menambahkan keterangan mengenai kuasa raja Portugal yang jaya itu, mengenai kepala orang-orang Kristen di Roma, dan mengenai pokok-pokok utama ajaran Gereja Katolik (Van den End, 1999: 39). Jadi, metode misi yang dapat kita rumuskan pada bagian ini adalah: Seorang saudagar memperkenalkan agamanya kepada orang-orang setempat, dan kekuasaan politik merupakan factor yang mendorong orang untuk menerima agama Kristen Katolik (van den End, 1999:41).

 

Va den End menyimpulkan metode misi Katolik di Nusantara pada zaman Portugis yaitu Gereja dan PI dikelola oleh Negara jajahan, sehingga memakai cara-cara Negara: penggunaan kekuasaan, sikap paternalistis, didahulukannya kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis. Selain itu ada pula yang mempunyai cita-cita lain dan memakai metode-metode lain, tetapi mereka tidak berhasil mengubah pola yang lazim.

 

 

  • Metode Misi Kontra Reformasi

 

Sekitar tahun 1550, semangat kontra reformasi mulai terasa dalam metode yang dipakai oleh misi. Sekarang yang menjadi penggerak misi bukan hanya Negara Spanyol dan Portugal (system Padroado) melainkan juga ordo-ordo, terutama Serikat Jesus. Mereka ini tidak bergantung pada kekuasaan Portugis dan Spanyol, dan berani memasuki wilayah-wilayah di luar kekuasaan Portugis dan Spanyol, seperti wilayah Cina dan Jepang. Mereka lebih bergairah dari pada imam-imam yang diangkat oleh Negara. Salah satu yang paling giat/bersemangat mengabarkan Injil/PI adalah Franciscus Xaverius[31].

 

Xaverius tiba di Ambon 1547, dan melayani di Ambon dengan beberapa metode:

  • Metode menghafal rumusan pokok-pokok iman Kristen, seperti doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli, Salam Maria diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan Portugis ( Van den End, 2005:40). 
  • Memakai penterjemah atau juru bahasa, yaitu ia berangkat bersama seorang anak laki-laki yang membawa salib didepannya dan sekaligus menjadi juru bahasanya (bahasa Ambon), serta rombongan anak-anak sebagai pengantar,
  • Perkunjungan dari rumah ke rumah. Dengan diantar, Xaverius mengunjungi orang dari rumah kerumah dan menanyakan: “Adakah kiranya anak kecil yang belum dibaptis? Adakah kiranya ada orang sakit yang mau didoakan? Adakah kiranya yang akan meninggal yang perlu dihiburkan dan dipermandikan dengan percikan air suci kalau mengaku percaya?”.
  • Penggabungan pengkristenan massal dengan pembinaan, pelayanan diakonia dan pergaulan yang akrab dengan penduduk. Hasilnya banyak orang yang bertobat dan dibaptis menjadi Kristen[32]
  • Pembinaan yang medalam. ia akan bertanya kepada orang yang dilayani (orang-orang yang dimana Xaverius tinggal). Apakah kalian tahu tentang Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka mengiakannya, tetapi ketika Xaverius sampai ke pokok-pokok iman secara mendetail, dan bertanya kepada mereka, apa anggapan mereka tentangnya, dan apakah yang mereka ketahui sekarang lebih banyak dari pada ketika mereka belum masuk Kristen, mereka menjawab bahwa mereka orang Kristen, tetapi bahwa mereka tidak tahu sesuatu apapun tentang peraturan-peraturan dan rahasia-rahasia agama Kristen yang kudus, karena mereka tidak tahu bahasa Portugis. Selanjutnya Xaverius memakai penterjemah untuk mengajarkan pengajaran Kristen secara lebih medalam (luas) bagi orang-orang yang mau menerima Kristen (van den End, 2005: 214)
  • Melatih para katekit pribumi yang dikemudian hari  menjadi tulang punggung Gereja. Namun metode misi ini tidak diteruskan oleh misi yang lain. (Van den End , 2005: 49,60).
  • Hasil Pelayanan Xaverius:

Membaptis cukup banyak orang di Ambon, tetapi di daerah - daerah di mana Injil belum diberitakan diantara kaum-kaum yang menganut agama suku (Lei Timor,Seram, Saparua dan Nusa Laut) hasilnya tidak  seberapa.  Sehingga  ketika Xaverius hendak  meninggalkan Nusa laut, ia hanya membaptis satu orang saja, kemudian  ia membuka  sepatunya dan mengebaskan  debu  dari padanya ( John Culver,1991:15).

 

 

  • Tokoh-tokoh Misi Gereja Katolik

 

  • Franciscus Xaverius (1506 – 1552) sang rasul Asia

Usaha misi baru mulai berkembang sesudah perkunjungan Xaverius ke Ambon. Ia seorang Spanyol. Ia mempersiapkan diri selama beberapa bulan di semenanjung Melayu dengan mempelajari bahasa Melayu, ia tiba di Ambon pada bulan Februari tahun 1546. Ia melayani di Ambon selama 3 bulan, dan sempat mengunjungi Ternate, Halmahera, Morotai. Ia kembali lagi beberapa waktu ke Ternate dan Ambon, kemudian berangkat pulang ke semenanjung Melayu. Dalam perjalanan pulang itu pernah terjadi, bahwa salibnya hilang, jatuh ke dalam laut. Xaverius bersedih karena itu, tetapi ketika pada keesokan harinya ia berjalan di tepi pantai Seram, seekor kepeting besar  … membawa salibnya kembali. Pada waktu di Saparua ia berdoa mohon hujan bagi salah satu daerah kafir di Saparua yang mengalami kekurangan air dan doanya terjawab, kemudian penduduk kampong itu dibaptiskan. Selama lima belas bulan di Maluku, Xaveius membaptis beribu-ribu orang sampai tangannya penat.[33]

          

  • Simon Vaz. Simon Vaz (seorang rahib Ordo Fransiscan), ia memberitakan iman

Kristendan ditopang oleh teladan hidupnya. Metode ini berhasil membuat orang-orang dikampung Mamuya dan kampung-kampung lain menjadi Kristen.Pada akhirnya ia menjadi Martir pertama di Maluku (1536).

 

  • Vicente Viegas (seorang misionaris) dengan dibantu oleh Manuel Pinto (seorang pembantu) melayani selama 3 tahun di Sulawesi Selatan[34]. Tahun pelayanan tidak disebutkan tetapi dapat dihubungkan dengan dua putera bangsawan bersaudara di Sulawesi yang dibaptis tahun 1537 di baptis di Ternate.
  • Bernardino Ferrari, seorang misionaris dari Serikat Jesus, pada tahun 1579 mengunjungi Panarukan Jawa Timur untuk melayani orang Portugis yang berada di sana.[35]
  • Matteo Ricci (1552 -1610) Melayani di Cina
  • Roberto de Nobili (1577 – 1656), melayani di India

 

  • 4.3. Wujud Umat Katolik di Indonesia

 

Ciri-ciri yang membentuk misi Gereja Katolik diseluruh dunia khusunya di Indonesia,

yaitu:

 

  • Sistem hirarki ( pemerintahan imam). Dengan system ini, kaum awan tidak mempunyai  suara dalam Gereja, kaum awam itu berada dibawah imam. Para imam berada dibawah Uskup. Para uskup berada dibawah Paus ( kepala Gereja Katolik/pemimpin  tertinggi Gereja Katolik). Kelebihan system hierarkis adalah Gereja Katolik  memiliki system organisasi gereja yang sangat rapih. Kerapian organisasi ini menolong Gereja Katolik untuk: (1) Mengatur usaha misi Gereja Katolik yang amat luas , yaitu di seluruh dunia. (2) Mengatur keseragaman penggembalaan, pemuridan,dan tata ibadah ( bh. Ibadahpun serangam,bh. Latin)
    • Perkenaan /keutamaan pada  sakramen  dan bukan pelayanan Firman (Alkitab). Sakramen baptisan, misalnya mutlak diperlukan karena untuk memperoleh keselamatan. Penekanan pada sakramen itu (air,roti dan anggur) bisa saja ditafsirkan masyarakat Gereja Katolik Indonesia sebagai benda-benda yang mempunyai kekuatan sakti.
    • Tentang Iman. Gereja Katolik menekankan iman  bukan pada apa yang dikatakan Alkitab tetapi iman umumnya diartikan taklukan kepada kekuasaan Gereja.
    • Terjemahan Alkitab dalam  bahasa daerah tidak dianggap begitu penting. Cukup kalau awan menghafal rumus-rumus pokok agama Kristen: 10 Hukum, Doa ibu Maria, Pengakuan Iman.
    • Gereja Eropa pada tahun 1500 mengakui kesatuan asasi atas seluruh kehidupan manusia. Artinya tidak ada bidang  dalam kehidupan manusia yang tidak diatur Gereja. Pada waktu itu, Negara/para kaisar berada dibawah Gereja Katolik dan tugas negara adalah  Melayani  Gereja, melindungi Iman Kristen dari musuh-musuh dan mendukung penyiaran agama/misi Gereja keluar Eropa. Konsep inilah yang  mempengaruhi Gereja sehingga ketika Portugis menguasai Indonesia, mereka juga harus  melindungi  Gereja  dari musuh-musuh, membiayai Gereja dst. Dan dapat dibayangkan bahwa dengan system ini Gereja pada  waktu itu mendapat dukungan kuat dari negara dalam Arti Portugis sehingga Gereja Katolik dapat bertumbuh dan berkembang  di Indonesia. Namun kenyataannya Gereja tidak berkembang pesat seperti di Filipina yang pada waktu itu dijajah  oleh Spanyol. Hal ini  disebabkan karena perbedaan dalam system  penjajahan. Spanyol system menjajahnya yaitu  menjajah seluruh wilayah  yang dikuasainya, sementara Portugis hanya menjajah daerah-daerah yang memiliki sumber-sumber ekonomi yang menguntungkan Portugis. Sistem ini paling tidak mempengaruhi pertumbuhan Gereja Katolik di Indonesia, yaitu pertumbuhan Gereja Katolik di Indonesia jauh  lebih kurang dari perkembangan  Gereja Katolik di Filipina yang mayoritas beragama katolik.

 

  • 4.4. Tinjauan umum tentang Misi Katolik di beberapa wilayah pada thn. 1547-1700

 

  • Maluku Utara. Pada pertengahan abad ke-16 perkembangan misi Katolik paling menonjol di Halmahera. Di Moratai kampung-kampung Kristen  bertambah terus,  dan pada tahun 1565 terdapat 47 kampung dengan 80.000 orang. Perkembangan Katolik  di Maluku Utara memuncak  sampai tahun 1570,  ketika panglima Portugis di Ternate membunuh Sultan Hairun secara brutal setelah mengadakan  perjanjian damai  dengannya. Akibatnya seluruh daerah Maluku menjadi  medan perang. Kaum Portugis terpaksa mengundurkan diri dari  Ternate dan pindah ke Tidore, yang menjadi pusat baru bagi  Portugis. Hal ini berarti orang  Kristen di Maluku Utara yang dilindungi Portugis menjadi terlantar, misi Gereja di Maluku Utara menjadi lumpuh. Hanya tinggal beberapa misionaris dari Eropa, beberapa dari mereka  dibunuh. Akhirnya tahun 1605 para misionari mulai meninggalkan Maluku Utara. Mereka  meninggalkan Maluku Utara bukan karena Sultan tetapi karena Belanda yang sudah memasuki Maluku Utara. Selanjutnya Sultan Ternate menjadi sekutu Belanda, orang-orang Katolik disuruh VOC masuk Protestan.
  • Maluku Selatan (Ambon). Perkembangan politik dan perang di Maluku Utara membawa dampak bagi orang-orang di Ambon selatan. Namun sampai tahun 1605 ada 16.000 orang-orang Kristen di Ambon, Lease, dan Seram. Karena aspek politik, maka gereja Katolik paling kuat di daerah Benteng (Gereja Benteng). Disitu terdapat 2 – 3 Misionaris serta gedung-gedung gereja. Orang Kristen Katolik di dalam dan di sekitar benteng dipelihara secara baik, dan metode-metode pemuridan Xaverius umumnya diteruskan. Tetapi di pedalaman jemaat-jemaat jarang dikunjungi oleh imam-imam Katolik dari Eropa. Metode pendidikan atau kaderisasi tenaga katekit pribumi oleh Xaverius tidak dilanjutkan oleh para misionaris yang melayani di Ambon.
  • Sulawesi Utara. Pada tahun 1560 agama Kristen telah mendapat tempat di Sulawesi Utara, Sangir Talau. Disana pula penyebaran ke-Kristen-an jalin-menjalin dengan persaingan antara orang-orang Portugis, kemudian Spanyol dan akhirnya Belanda ketika perang berkecamuk di Maluku Utara (khususnya pembunuhan Sultan Hairun) dan kaum Portugis pindah ke Tidore, orang Spanyol yang berkedudukan kuat di Filipina diberinya peluang untuk meluas sampai ke Sulawesi Utara. Kemudian pada tahun 1666 orang Belanda membangun benteng di Manado guna menguasai Minahasa dan memperoleh monopoli dalam perdagangan cengkeh. Akibatnya terulang lagi kejadian di Maluku Utara, yaitu orang-orang Kristen Katolik disuruh menjadi Protesten. Demikian kekristenan diombang-ambingkan oleh perang, politik, dan persaingan perdagangan.
  • Nusa Tenggara Timur. Misi Katolik disana di mulai dengan hadirnya seorang misionaris dari Ordo Dominikan, yaitu Antonio Taviera, ia berhasil membaptis 5000 orang di Timor, dan juga banyak orang di Flores. Jadi NTT menjadi wilayah pelayanan Ordo Dominikan sedangkan Maluku menjadi wilayah pelayanan Ordo Serikat Jesus (Jesuit) dan Sulawesi Utara yang kemudian digantikan oleh Ordo Fransiskan. Namun mulai tahun 1613 gereja Katolik di NTT menerima pukulan karena kedatangan orang-orang Belanda. Namun karena daerah itu tidak strategis untuk ekonomi maka gereja Katolik di NTT tetap di biarkan beberapa misionaris dari gereja Katolik untuk melayani di Flores, Ende, dan beberapa tempat lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5

CALVINIS VOC ABAD XVII – XVII/TAHUN 1605 - 1799

 

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa mampu:

 

Menjelaskan sejarah singkat Calvinis di Belanda

Menjelaskan cirri-ciri Calvinisme dan ideologinya tahun 1600 yang mempengaruhi misi zaman VOC dan Hindia Belanda

Menjelaskan sejarah singkat terbentuknya VOC di Belanda

Menjelaskan secara singkat kehadiran dan struktur VOC di Indonesia

Menjelaskan mandat pemeliharaan rohani oleh VOC di Nusantara

Menjelaskan struktur Calvinis VOC di Nusantara

Menjelaskan atribut Calvinis

Menilai hubungan Gereja dengan VOC di Nusantara

Menilai pelayanan para pendeta yang melayani pada zaman VOC

 

  • 5.1. Sejarah Calvinis di Belanda, Ciri-ciri Calvinisme dan VOC.

 

Sejarah Calvinis di Belanda

 

Sejak keputusan edik Milano tahun 313 dan Theodosius 380, agama Kristen menjadi agama mayoritas di Eropa. Kemudian Gereja yang berkembang pesat dalam Kekaisaran Romawi pengalami perpecahan pada tahun 1054, sejak saat itu terbentuklah dua kelompok utama Gereja, yaitu bagian Timur dari kekaisaran Romawi disebut Gereja Ortodoks Timur yang berpusat di Konstantinopel dengan pemimpin Gereja yang disebut Patriackh, dan Gereja Bagian Barat yang berpusat di Roma disebut Gereja Katolik dengan pemimpin Paus yang berkedudukan di Roma. Di sini menjadi jelas bahwa daerah-daerah Eropa Barat seperti Belanda lebih banyak dikuasai oleh Gereja Katolik.

Pada tahun 1517 terjadilah Reformasi Gereja di Bagian Barat. Akibatnya Gereja bagian Barat yang berpusat di Roma terbagi menjadi dua kelompok, ada Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan (Kelompok orang Kristen Eropa yang menerima gerakan reformasi). Gerakan Reformasi Gereja di Eropa pada waktu itu tidak hanya terjadi melalui Marthin Luther, tetapi juga melalui John Calvin, dan Zwingli. Gerakan reformasi dari para tokoh-tokoh ini mempengaruhi orang-orang Kristen yang ada di wilayah Eropa. Untuk Belanda, sangat dipengaruhi reformasi Calvin.

Bagaimana orang-orang Belanda menerima reformasi Calvin? Pater Gijsbertus.Van Schie, CICM dari Novisiat CICM di Nijmegen, ia pernah bertugas sebagai imam Katolik di Tator sebagai pastor pembantu dan dosen di STFT (Sekolah Tinggi Fisafat dan Teologi) dalam buku Rangkuman Sejarah Gereja … mengisahkan sejarah orang Belanda menganut Protestan aliran Calvinsbb:

 

Pada awal abad ke-16 negeri Belanda merupakan ‘Propinsi Sekutu’ yakni sebuah konfederasi Negara dan kota yang berpenduduk Kristen di bawah kekuasaan raja Spanyol yang setia kepada Paus di Roma. Pada waktu itu, di Belanda, kesenian religious masih jaya dan kesalehan orang masih murni, walaupun banyak orang miskin yang merasa kurang senang dan semakin banyak orang bersikap skeptik terhadap hirarki gereja, terutama disebabkan oleh kualitas tingkah-laku yang semakin buruk dari para imam serta para biarawan. Tokoh humanis yang bernama Erasmus, dan Paus Adrianus VI, satu-satunya uskup Roma (1522-1523) yang berasal dari negeri Belanda, sama-sama berpendapat, bahwa pemerintah wajib menindas ajaran heretic atau ajaran yang menyimpang dari ajaran resmi Gereja Katolik Roma, akan tetapi Erasmus dan Adrianus VI menganggap pula bahwa tindakan membakar orang heretic hidup-hidup adalah tindakan yang berlawanan dengan kebebasan hati nurani orang.

Akan tetapi, di Belanda juga inkuisisi bergerak aktif, sekalipun tidak terlalu keras. Yang menjadi korban inkuisisi adalah banyak dari anggota sekte anabaptis. Mereka dihukum dan dibakar hidup-hidup. Sekte tersebut didirikan oleh seorang pastor yang bernama Menno Simonz (1496 – 1561) di wilayah Frisia, dan sering disebut jug kaum Mennonit, menurut nama pendirinya. Penganut sekte itu hidup agak terasing dari masyarakat ramai, rajin bekerja serta menolak segala kekuatan senjata dan milisi.

Karena dikejar dan dianiaya, maka kelak banyak orang Mennonit mengungsi ke Amerika. Selain Erasmus, masih ada Coornhert (1522 – 1590). Tokoh ini mendukung kebebasan hati nurani dalam hal iman, dan oleh sebab itu tidak dapat menyetujui inkuisisi dan penganiayaan orang heretic oleh atasan gereja, begitu pula dengan sikap intoleran terhadap kaum Calvinis. Walaupun jarang ke gereja pada hari Minggu, beliau merupakan seorang Kriatiani humanis yang berani menentang segala penindasan yang datang dari pihak mana pun.

Di Belanda, simpatisan Calvin pada mulanya terpaksa berkumpul secara bersembunyi-sembunyi. Akan tetapi lama-kelamaan jumlahnya bertambah banyak, sehingga mereka berani berperan sebagai oposisi politik yang terbuka, melawan pemerintah Spanyol yang menguasai sebagian negeri Belanda pada waktu itu. Sebagai gerakan revolusioner yang organisasinya ketat dan dengan tata tertip yang keras, Calvinisme memiliki daya tarik yang kuat, terutama di kalangan banyak buruh yang menganggur di Flandria, wialayah sebelah selatan Propinsi Sekutu. Justru di situlah terutama penganut Calvinisme melancarkan gerakan huru-hara berupa penghancuran patung di banyak gedung gereja sekitar pertengahan abad ke-16.

Pada tahun 1566 pemerintah Spanyol, yang pada saat itu sudah menguasai setengah bagian dari dunia ini, menugaskan seorang tokoh inkuisisi yang bernama Alva (1507 – 1582) untuk menghukum semua orang yang ikut mengambil bagian dalam penghancuran patung di wilayah utara negeri jajahannya. Alva bertindak dengan tangan besi dan dengan mudah pula mengalahkan pasukan Willem dari Oranje (lafalnya: oranye).

Akibatnya terjadi permusuhan dan peperangan antara Katolik dan Calvinis di Belanda yang berlangsung selama 80 tahun. Akan tetapi, walaupun mencatat sukses untuk jangka pendek, namun dalam jangka panjang, tindakan yang kejam itu justru semakin mengeraskan hati orang Calvinis, yang mulai tahun 1568 berperang dengan Spanyolselama 80 tahun.

Pada tahun Natal 1569, Alva disambut oleh uskup Roma, paus Gregorius XVIII (1572-1585), dan dianugerahi pedang kehormatan yang diberikan oleh beliau. Alva dipuji sebagai pahlawan yang akan membebaskan dunia dari Calvinisme yang dicap berbahaya seperti penyakit pes. Demikianlah kerjasama antara uskup Roma dan inkuisisi, dengan maksud membasmi ajaran yang dinyatakan heretic dan memecah-belah persatuan Kristen.

Akan tetapi,penganut Calvinisme sama sekali tidak bermaksud menyerah. Sementara itu ada kelompok Calvinis yang mengungsi ke perahu-perahu di laut, lalu membentuk sebuah armada perang. Tampaknya dalam tahun 1572, sebagai bajak laut, mereka mulai mencoba menguasai negeri Belanda dengan merebut kota Den Briel (lafalnya: Den Bril). Pastor katolik (nama Katolik yang dipergunakan bagi orang Kristiani yang kepada gereja Roma) ada yang dibunuh atau diusir, tetapi banyak dari kaum awam katolik yang dibiarkan saja. Orang yang dulu mengungsi gara-gara tindakan Alva, dapat kembali ke tempat yang telah dibebaskan oleh orang-orang Calvinis.

Pada malam pesta Bartholomeus di bulan Agustus tahun 1572, terdapat kira-kira dua ribu orang Protestan yang dibantai dengan keji di kota Paris. Tujuh Propinsi Sekutu. Pada tahun 1573, orang Calvinis memegang kendali pemerintahan di propinsi Holland dan Zeeland. Agaknya pada waktu itu sepeuluh persen penduduk di wilayah itu sudah menjadi anggota gereja Calvinis, sepuluh persen masih setia kepada gereja Roma, dan delapan puluh persen lagi bersikap kurang peduli akan agama. Banyak gedung gereja yang dirampas oleh pendukung Calvinisme dari tangan orang yang setia kepada gereja Roma, dan sekaligus mereka melarang pelaksanaan ibadah Katolik.

Pada tahun 1579, diadakan Uni Utrecht, di mana kedua propinsi tadi bersama lima propinsi lainnya menandatangani suatu persetujuan untuk sekurang-kurangnya bersikap sama terhadap dunia luar. Politik dunia luar diserahkan kepada Dewan Negara Umum di Den Haag, yang terdiri dari utusan masing-masing propinsi yang tetap otonom.

Pengikut Calvin di wilayah itu memakai nama Gereja Reformasi, dan pengaruhnya segera menjadi besar dalam segala bidang kehidupan. Pada umumnya, dalam semua aliran Protestan, hal jasmani, termasuk pekerjaan, mendapat tempat yang lebih layak dalam hidup manusia. Dari itu mereka giat bekerja, rajin melakukan kewajiban dan disamping itu menghindarkan diri segala macam kenikmatan dan kemewahan yang dianggap berlebih-lebihan, termasuk pemborosan uang untuk tujuan religious seperti yang terjadi dalam gereja Roma. Semuanya itu membuat para sejarawan tertentu menyusun teori, seolah-olah orang Protestan menyiapkan lahan subur untuk berkembangnya kapitalisme. Tentu bukan maksud pakar itu bahwa Calvin merencanakan ataupun menyetujui kapitalisme; melainkan, yang dimaksudkan adalah, karena gemar bekerja dan berdagang, maka orang sanggup mengumpulkan banyak uang, sedangkan hidup religious dengan cara ketat dank eras memungkinkan orang untuk berhemat serta menyimpan banyak uang; karena itu boleh dikatakan, bahwa mereka menyediakan lahan yang subur, tempat kapitalisme dapat tumbuh.Mungkin ada benarnya, tetapi menurut ahli ekonomi Louis Breck: pada abad ke-12, tarekat Cistericium yang bersifat agraris menjadi pediri dari pola meningkatkan produksi secara kapitalis dan efisien.

Antara tahun 1585 – 1586 di Tujuh Propinsi Sekutu, barisan gereja Calvinis diperkuat dengan banyak pengungsi dari sebelah selatan, karena tindakan wali raja Spanyol, Parma (1578 – 1589) yang menutu sungai Schelde, sehingga perbekalan kota Antwerpen menjadi macet, dan pemerintah kota itu terpaksa menyerah kepada Spanyol. Dalam keadaan itu orang Protestan tidak merasa aman lagi, sehingga mengungsi ke sebelah utara.

Masalah rempah-rempah: Distribusi rempah-rempah di Eropa dikuasai oleh pedagang Belanda yang membelinya di pasar Lisboa. Akan tetapi, sejak tahun 1580 Portugal bagian kerajaan Spanyol, menjadi musuh dari Belanda, sehingga perahu Belanda tidak dapat lagi singgah di pelabuhan Lisboa; akibatnya, distribusi rempah-rempah macet. Oleh sebab itu, para pedagang dan pelaut Belanda merasa terdorong untuk mencari sendiri jalan ke tempat asal rempah-rempah itu. Maka sejak tahun 1590-an kapal layar Belanda aktif berkeliaran di laut Tengah dan Lautan Atlantik Selatan. Akan tetapi, mereka dibuntuti oleh orang Inggris, sedangkan orang Perancis dan Denmark juga mulai berlayar ke negeri yang jauh. Banyak perusahan atau atau kompeni yang mulai saling bersaing. Walau bersatu, Portugal dan Spanyol tidak mampu menguasai semua armada baru yang mulai mengarungi lautan itu.

 

Beberapa Ciri gereja Reformed Belanda dan Idiologinya tahun 1600.

 

Setelah Yohanes Calvin meninggal (tahun 1564), maka pengikut-pengikutnya (gereja/ekklesia Belanda yang dipengaruhi reformasi Calvin, kelompok ini menamakan diri Reformed)  di negara Belanda berjuang mati-matian untuk mempertahankan ajaran reformatoris. Yang menjadi musuh dari kelompok reformed baik dibidang perdebatan gereja dan di bidang politik/perang adalah kaum Katolik. Selama 80 tahun Belanda berperang untuk mencari kemerdekaan dari kekuasaan “Kekaisaran Romawi Suci”.

 

Dalam perjuangan ini ajaran berikutnya yang dipertahankannya:

 

(1). Sola Fides, yaitu pembenaran dihadapan Allah diperoleh dengan iman semata-

        mata.

(2). Sola Gratia, yaitu keselamatan adalah anugerah semata-mata tak bersyarat. Dan

       merupakan dasar keselamatan untuk orang-orang pilihan.

(3). Sola Scriptura, yaitu Alkitab semata-mata merupakan sumber kekuasaan dan

       otoritas bagi orang-orang pilihan.

 

  • Namun yang menjadi problema mulai di abad ke-17 adalah “Iman” makin diartikan sebagai kepercayaan pada rumusan-rumusan doktrin yang benar, sehingga bukanlah kehangatan iman dan bukanlah pembaharuan dari Roh yang di utamakan, melainkan pegangan pada dogma yang mati.
  • Orang-orang Belanda dari abad ke-16 tidak mempunyai pandangan positif mengenai agama non Kristen, apalagi agama suku. Bagi mereka agama suku adalah tahkyul belaka bahkan penyembahan iblis. Kebudayaan dari suku setempat di curigai.
  • Ajaran Calvinis mewajibkan negara untuk membantu gereja dalam mempertahankan iman dan mengabarkan Injil. Jadi hubungan gereja dan negara sangat erat sehingga pemahaman gereja negara menjadi pegangan Kristen Belanda yang melawan keterpisahan antara keduanya. Secara resmi orang-orang Belanda bersedia melaksanakan ajaran Calvin mengenai hubungan antara negara, gereja, tetapi mereka tidak fanatik mempertahankannya. Malahan sebaliknya satu cirri orang Belanda yang berlawanan adalah mentalitas pedagang. Maksudnya, para pemimpin VOC berpendapat bahwa fanatisme agamawi bisa saja merugikan kemakmuran, yaitu perdagangan. Lagi pula dalam latar belakang Sejarah, orang-orang Belanda tidak langsung berurusan dengan kaum Islam seperti orang Portugis dan Spanyol ditanah kelahiran mereka. Malahan, kaum Katoliklah yang telah menjadi utama Belanda. Oleh karena itu maka kaum Belanda bersikap toleran terhadap Islam dibanding Katolik.

 

Sejarah Singkat Terbentuknya V.O.C. di Belanda

Dalam rangka peperangan melawan Spanyol dan Portugal, orang-orang Belanda datang ke Indonesia. Mereka mengambil alih daerah-daerah yang telah dikuasai Portugal (1600). Orang-orang Kristen di daerah itu dijadikan Protestan. Pada tahun 1596 tibalah kapal-kapal Belanda yang pertama di perairan Indonesia. Kekuasaan Belanda di nusantara pada waktu itu meluas dengan cepat dan perlu diatur pemerintahannya. Begitulah pada tahun 1602 dibentuk kongsi perkapalan Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC, Kompeni). Kepada badan inilah diserahkan kedaulatan atas seluruh jajahan Belanda di Asia, yang terbentang dari India Selatan sampai Taiwan. Jadi, VOC adalah “Negara” yang dengannya gereja Indonesia berurusan. Kepalanya di Indonesia ialah Gubernur Jenderal, yang bertempat tinggal di Jakarta (Batavia).[36]

Ada ahli Sejarah Indonesia yang menyatakan: faktor manakah yang mendorong dibentuknya VOC? Setelah Cornellis de Houtman sampai di Banten tahun 1596 maka pada tahun 1598 Compagnie Van Verre di Belanda memberangkatkan 8 kapal di bawah pimpinan Van Nock dan Warwijk yang membutuhkan waktu 7 bulan sampai di Banten keberhasilan pelayaran tersebut mendorong keinginan berbagai perusahaan di Belanda untuk memberangkatkan kapalnya ke Indonesia ada 14 perusahaan yang telah memberangkatkan 62 kapal. Sementara itu Portugis berusaha keras untuk menghancurkan mereka.[37]

Atas usul Johan Van Oldenbarneveld dibentuklah sebuah perusahaan yang disebut Vereemigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1682. Tujuan pembentukan VOC tidak lain adalah menghindarkan persaingan antar pengusaha Belanda (intern) serta mampu menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama Spanyol dan Portugis sebagai musuhnya (ekstern).

Ada pula informasi lain dari ahli Sejarah Gereja (G.Van Schie), yaitu pada tahun 1602, sejumlah perusahan dagang swasta di Belanda berserikat mendirikan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) yang mendapat dukungan Dewan Negara Umum. Di Nusantara sering VOC disebut ‘kompeni’. Dari Dewan Negara Umum, VOC memperoleh monopoli perniagaan dan hak membawa pasukan bersenjata guna membela monopoili itu untuk jangka waktu 20 tahun. VOC juga diberi keleluasaan untuk mengadakan perjanjian serta mengambil keputusan seperlunya, bahkan diizinkan membuat dan menerbitkan mata uang sendiri.

Pada umumnya, kapal layal yang dipakai VOC merupakan milik pribadi orang Belanda, akan tetapi banyak dari modal kompeni tu berasal dari orang Iahudi, yang mengambil keuntungan cepat setiap kali muncul kesempatan yang baru, dan dengan demikian mereka ulung dalam mengumpulkan modal.

 

 

 

 

 

Sejarah Singkat Kehadiran VOC. Di Nusantara

 

Pada tahun 1619, Jayakarta direbut oleh armada Belanda di bawah komando Jan Pieterszn Coen (Lafatnya: Yan Pieterson Kun), gubernur jenderal VOC yang kedua, lalu disebut menjadi Batavia atau Betawi.

Walaupun armada itu disebutarmada Belanda, tetapi banyak dari prajurit, pelaut dan awak yang dipekerjakan oleh kompeni bukanlah orang Belanda, melainkan orang asing dari beberapa Negara, seperti: Jerman, Swiss, Irlandia, Skotlandia, Denmark, Walonia, Flandria, Perancis dan Jepang. Misalnya, dalam tahun 1622, garnisun Bataviaterdiri dari seratus empat puluh tiga prajurit, delapan puluh enam orang diantaranya bukanlah orang Belanda.

 

 

  • Struktur V.O.C. di Nusantara

Struktur atau kepemimpinan VOC di Belanda dikepalai Badan Pengurus yang beranggotakan 17 orang atau Kepemimpinan VOC dipegang oleh dewan beranggotakan 17 orang yang berkedudukan di Amsterdam. Di Indonesia VOC dikepalai oleh Gubernur Jenderal dan pegawai-pegawainya.

 Oleh Pemerintahan Belanda, VOC diberi oktroi (hak-hak istimewa)  sebagai berikut:
1.    Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia
2.    Monopoli perdagangan
3.    Mencetak dang mengedarkan uang sendiri
4.    Mengadakan perjanjian
5.    Menaklukkan perang dengan negara lain
6.    Menjalankan kekuasaan kehakiman
7.    Pemungutan pajak
8.    Memiliki angkatan perang sendiri
9.    Mengadakan pemerintahan sendiri. Selain hak-hak ini, VOC juga diberi hak pemeliharaan rohani.

Untuk melaksanakan kekuasaannya di Indonesia diangkatlan jabatan Gubernur Jenderal VOC antara lain:

1.

Pieter Both, merupakan Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah tahun 1610-1619 di Ambon.

2.

Jan Pieterzoon Coen, merupakan Gubernur Jenderal kedua yang memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta (Batavia). Karena letaknya strategis di tengah-tengah Nusantara memudahkan pelayaran ke Belanda.

Nama jabatan Gubernur-Jendral atau dalam bahasa Belanda "Gouverneur-Generaal" adalah jabatan penguasa tertinggi Hindia-Belanda. Konon jabatan ini baru diadakan pada tahun 1691.

Sebelumnya gelar jabatan ini lain. Penguasa Hindia-Belanda sebelumnya berarti hanya duta VOC saja di Jakarta dan kemudian Batavia.

Setelah bangkrutnya VOC pada tahun 1799, aset-aset VOC di Hindia-Belanda diserahkan kepada pemerintahan Belanda, sehingga mulai saat itu seorang Gubernur-Jendral benar-benar menjadi wakil daripada pemerintahan Belanda.

Jabatan Gubernur-Jendral hanya ada di jajahan Belanda di Hindia-Belanda. Di Suriname, jajahan Belanda yang lain, gelar ini hanya Gubernur saja.

Hindia-Belanda pada abad ke-17 dan 18 tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.

Hindia-Belanda (Bahasa Belanda: Nederlands(ch)-Indië) adalah sebuah wilayah koloni Belanda yang diakui secara hukum de jure dan de facto. Kepala negara Hindia-Belanda adalah Ratu/Raja Belanda dengan perwakilannya yang berkuasa penuh seorang Gubernur-Jendral.

Hindia-Belanda dahulu kala adalah sebuah jajahan Belanda, sekarang disebut Indonesia. Jajahan Belanda ini bermula dari properti Vereenigde Oostindische Compagnie (atau VOC) yang antara lain memiliki Jawa dan Maluku serta beberapa daerah lain semenjak abad ke-17. Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, semua properti VOC menjadi milik pemerintah Republik Batavia.

Pada tahun 1900 hanya pulau Jawa saja yang secara keseluruhan milik Belanda. Lalu pada tahun-tahun selanjutnya semua daerah lain di Nusantara ditaklukkan atau “dipasifikasikan” (didamaikan). Pada puncaknya pada tahun 1942, Hindia-Belanda memiliki semua daerah Indonesia saat ini. Selain itu, kota Melaka, Taiwan, Sri Lanka pernah dimiliki VOC dan pemerintah Belanda.

Para Gubernur Jenderal VOC:

 

1610-1614 Pieter Both
1614-1615 Gerard Reynst
1616-1619 Laurens Reaal
1619-1623 Jan Pieterszoon Coen
1623-1627 Pieter Carpentier
1627-1629 Jan Pieterszoon Coen
1629-1632 Jacques Specx
1632-1636 Hendrik Brouwer
1636-1645 Antonio van Diemen
1645-1650 Cornelis van der Lijn
1650-1653 Carel Reyniersz
1653-1678 Joan Maetsuycker
1678-1681 Rijcklof van Goens
1681-1684 Cornelis Speelman
1684-1691 Johannes Camphuys
1691-1704 Willem van Outhoorn
1704-1709 Joan van Hoorn
1709-1713 Abraham van Riebeeck
1713-1718 Christoffel van Swoll
1718-1725 Hendrick Zwaardecroon
1725-1729 Mattheus de Haan
1729-1731 Diederik Durven
1732-1735 Dirk van Cloon
1735-1737 Abraham Patras
1737-1741 Adriaan Valckenier
1741-1743 Johannes Thedens (waarnemend)
1743-1750 Gustaaf Willem Baron van Imhoff
1750-1761 Jacob Mossel
1761-1775 Petrus Albertus van der Parra
1775-1777 Jeremias van Riemsdijk
1777-1780 Reinier de Klerk
1780-1796 Willem Arnold Alting
 

32  gubernur jenderal

 

Periode Nederlandsch Indie
Benoemd door de Nederlandse overhead (Diangkat oleh pemerintah Belanda):

yaitu ketika VOC bangkrur dan bubar pada tahun 1799 dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah Belanda. Dan oleh pemerintah Belanda menempatkan gubernur jenderal sbb:

 

1796-1801 Pieter Gerardus van Overstraten
1801-1805 Johannes Siberg (in 1801 waarnemend)
1805-1808 Albertus Henricus Wiese
1808-1811 Herman Willem Daendels
1811 Jan Willem Janssens
1811 Lord Minto (gouverneur-generaal van Brits-Indië)
1811-1816 Thomas Stamford Raffles (luitenant-gouverneur)
1816 John Fendall (luitenant-gouverneur)
1816-1826 G.A.G.Ph. Baron van der Capellen
1826-1830 L.P.J. Burggraaf du Bus de Gisignies (comm.-generaal)
1830-1833 J. Graaf van den Bosch (comm.generaal 1833-1834)
1833-1836 J.C. Baud (aanvankelijk waarnemend)
1836-1840 D.J. de Eerens
1840-1841 C.S.W. Graaf van Hogendorp (waarnemend)
1841-1844 P. Merkus (waarnemend tot 1843)
1844-1845 J.C. Reynst (waarnemend)
1845-1851 J.J. Rochussen
1851-1856 A.J. Duymaer van Twist
1856-1861 C.F. Pahud
1861 A. Prins (waarnemend)
1861-1866 L.A.J.W. Baron Sloet van de Beele
1866 A. Prins (waarnemend)
1866-1872 P.Mijer
1872-1875 J. Loudon
1875-1881 J.W. van Lansberge
1881-1884 F. ’s Jacob
1884-1888 O. van Rees
1888-1893 C. Pijnacker Hordijk
1893-1899 C.H.A. van der Wijck
1899-1904 W. Rooseboom
1904-1909 J.B. van Heutsz
1909-1916 A.F.W. Idenburg
1916-1921 J.P. Graaf van Limburg Stirum
1921-1926 D. Fock
1926-1931 jhr. A.C.D. de Graeff
1931-1936 jhr. B.C. de Jonge
1936-1945 jhr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer

 

38 gubernur


(1942-1945 Japans gevangene – tawanan Jepang)
1942 en 1944-1948 H.J. van Mook (luitenant-gouverneur-generaal)
1948-1949 L.J.M. Beel (Hoge Vertegenwoordiger van de Kroon)
1949 A.H.J. Lovink (Hoge Vertegenwoordiger van de Kroon)

Setelah berpusat di Batavia, VOC melakukan perluasan kekuasaan dengan pendekatan serta campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia antara lain Mataram, Banten, Banjar, Sumatra, Gowa (Makasar) serta Maluku. Akibat hak monopoli yang dimilikinya. VOC memaksakan kehendaknya sehingga menimbulkan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Untuk menghadapi perlawanan bangsa Indonesia VOC meningkatkan kekuatan militernya serta membangun benteng-benteng seperti di Ambon, Makasar, Jayakarta dan lain-lain.

Bagaimana cara Belanda memperoleh monopoli perdagangan di Indonesia? Cara yang dilakukan VOC adalah:melakukan pelayaran hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan yang dilakukan VOC adalah merampas setiap kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempahnya kepada pedagang asing, seperti Inggris, Perancis dan Denmark. Hal ini banyak ditemui di pelabuhan bebas makasar.

   

 


Kapal Hongi. Hongi adalah nama jenis perahu di Maluku yang bentuknya panjang dipakai untuk patroli laut Belanda yang didayung secara paksa oleh penduduk setempat.

 

 

2.

Melakukan Ekstirpasi yaitu penebangan tanaman, milik rakyat. Tujuannya adalah mepertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot bila hasil panen berlebihan (over produksi). Ingat hukum ekonomi!

 

 

3.

Perjanjian dengan raja-raja setempat terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil bumi yang dibutuhkan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC. Penyerahan wajib disebut Verplichte Leverantien

 

 

4.

Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak, yang disebut dengan istilah Contingenten

Seiring dengan perubahan permintaan dan kebutuhan di Eropa dari rempahrempah ke tanaman industri yaitu kopi, gula dan teh maka pada abad 18 VOC mengalihkan perhatiannya untuk menanam ke tiga jenis barang komoditi tersebut. Misalnya tebu di Muara Angke (sekitar Batavia), kopi dan teh daerah Priangan.

Dalam melaksanakan pemerintahan VOC banyak mempergunakan tenaga Bupati. Sedangkan bangsa Cina dipercaya untuk pemungutan pajak dengan cara menyewakan desa untuk beberapa tahun lamanya.

Gambaran di atas memperjelas apa yang pernah disampaikan oleh mahasiswa ketika saya mengajar di STT Bethel The Way di Pecenongan. Mahasiswa itu menyatakan: menurut orang-orang tua di kalangan Tionghoa yang pernah mengalami masa VOC dan Belanda, mereka katakana: Agama Kristen adalah agama setan bule. Penilaian ini bisa dimaklumi karena VOC memonopoli perdagangan pada waktu itu. Jadi, sejarah dapat menolong kita untuk memahami sesuatu (fenomena social), katakanlah penilaian orang tua seperti yang sudah disebutkan. Dan masih banyak lagi, yang dapat kita tau jawabannya melalui sejarah.

Bagaimana perkembangan VOC selanjutnya? Pada pertengahan abad ke 18 VOC mengalami kemunduran karena beberapa sebab sehingga dibubarkan.

1.

Banyak pegawai VOC yang curang dan korupsi

2.

Banyak pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari Gowa.

3.

Banyaknya gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuhkan pegawai yang banyak

4.

Pembayaran Devident (keuntungan) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah pemasukan VOC kekurangan

5.

Bertambahnya saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis.

6.

Perubahan politik di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal menganjurkan perdagangan bebas.

Berdasarkan alasan di atas maka VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan hutang 136,7 juta gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor dagang, gudang, benteng, kapal serta daerah kekuasaan di Indonesia[38].

  •  Mandat Pemeliharaan Rohani Kepada V.O.C.

 

Tugas religious VOC. Di atas sudah dijelaskan bahwa VOC mendapat hak berdagang dari pemerintah Belanda, selalin itu VOC juga mendapat tugas religious, yaitu pemeliharaan rohani atau kepercayaan. Hal itu sesuai dengan hak yang diperoleh pada tahun 1623 yakni Dewan Negara Umum memperbaharui izin kepada VOC dalam monopoli perdagangan, dan mengatakan bahwa selain berdagang, VOC bertugas pula memelihara kepercayaan umum, maksudnya adalah agama Negara (Gereja Calvinis), sesuai dengan Pengakuan Iman Belanda fasal 36 yang menyatakan: Pemerintah bertugas memelihara Gereja yang kudus, melawan serta memberantas segala agama palsu serta penyembahan berhala, memusnakan kerajaan anti Kristus dan memajukan kerajaan Yesus. Sesuai dengan tugas itu maka VOC menanggung semua biaya perawatan rohani. Bahkan Gereja Induk di Belanda dilarang menyumbang bagi karya gereja di Nusantara (G. Van Shie, 1992:126).

 

Hal berdagang sebagaimana yang disinggung dalam hak yang diterima VOC dapat dipahami dalam semangat ini. Tetapi harus diingat bahwa Gereja tidak mengajarkan monopoli perdagangan. Tapi hal berdagang menjadi perhatian dalam pengajaran Gereja Calvinis.

Gereja Reformasi memainkan peranan yang penting di Belanda. Pendeta gereja Calvinis menganggap berdagang sebagai perbuatan terhormat yang sesuai dengan Alkitab, asal saja keuntungan yang diperoleh tidak berlebih-lebihan, dan cara berdagang itu adil dan jujur. Tetapi, bukan pemimpin Gereja Calvinis yang mendorong prajurit serta pedagang untuk merebut negeri yang baru. Sesudah tahun 1630 orang Katolik di Belanda hanya masih dapat berkumpul dan beribadah di dalamgedung gereja persembunyian.

Merambatnya arus Reformasi, membuat kebanyakan imam katolik pergi mengungsi dan hanya sekitar lima hingga sepuluh persen saja yang melanjutkan pelayanannya sebagai pendeta di gereja Calvin, sehingga beberapa imam yang masih sisa di Belanda, terpaksa melayani jemaat yang tertindas itu dengan diam-diam. Mereka telah kehilangan statusnya yang dahulu dalam masyarakat, dan dengan sendirinya dekat dengan jemaatnya. Jadi, berkat reformasi, jemaat katolik di Belanda dibebaskan dari feodalisme gerejani.

Karena hanya sedikit saja imam yang melanjutkan tugasnya sebagai pendeta dalam gereja Calvinis, maka pada mulanya gereja reformasi mengalami kekurangan pemimpin. Tamatan Sekolah Tinggi Jenewa tidak cukup untuk mengisi semua lowongan. Universitas Leiden pun y di seluruh negeria yang telah masuk gereja Reformasing telah didirikan 1575, belum mampu juga menghasilkan pendeta. Oleh karena itu ada usaha untuk memberi katekisasi di dalam gereja-gereja serta pelajaran agama di sekolah-sekolah. Sesudah tahun 1600, keadaan membaik dan jumlah pendeta meningkat men berapa orang dari jumlah dua jutajadi lumayan.

Pada tahun 1688, stengah dari penduduk kota Amsterdam sudah menjadi anggota gereja Calvinis.Tidak begitu jelas berapa orang dari jumlah du ajuta penduduk yang telah masuk gereja Reformasi di seluruh negeri Belanda pada waktu itu. Ada sejarawan yang mengatakan lebih dari setengahnya, ada yang mengatakan hanya sepertiga saja.

Pada umumnya pegawai VOC menganut Calvinisme, sebagaimana dihayati oleh gereja Reformasi yang menjadi agama Negara. Semua pertemuan dan rapat dewan pemimpin VOC dibuka dengan doa, dan selama rapat berlangsung.Alkitab terbuka di meja perundingan. Di semua kantor dan kapal diselenggarakandoa pagi dan doa malam. Kadang-kadang diadakan hari doa, atau hari syukur secara khusus. Eksekusi hukuman matipun disertai dengan doa. Perawatan rohani pelaut, pedagang, serta pegawai aramada belanda dibiayai oleh VOC.

Akan tetapi, politik dan cara berdagang pegawai VOCsering berlawanan dengan azas agama Negara yang mereka anut, karena motivasi yang terutama mendorong mereka mencari negeri yang jauh adalah nafsu untuk mencari laba ayng sebanyak-banyaknya, dan keinginan untuk menghindari diri dari ancaman pengangguran dan kemiskinan di Belanda. Pernah seorang Negro berkata kepada seorang peagang Belanda yang datang di pantai barat Afrika : “emaslah dewamu”.

Sekitar tahun 1945 seorang pendeta memberitahukan, bahwa orang Belanda di Nusantara merupakan bangsa yang paling fasik, bangsa Sodom dan Gomora, yang menghina Firman Tuhan, dengan perbuatan seperti main judi dan bermabuk-mabukan: mereka tidak lagi mempedulikan Allah dan Agama, dan setiap hari melakukan perbuatan yang menyakitkan orang Ambon yang halus budi. Kata Pendeta itu, bahwa hanya beberapa orang saja orang Belanda yang baik. Jan Snoep (lafalnya : Yan Snup) seorang Pendeta Calvinis yang bertugas di sebuah armada di laut Tengah pada tahun 1661- 1662, merasa terperanjat, karena para pelaut bersikap kasar, bodoh, tidak saleh, suka mengumpat, dan berkelahi. Katanya, Gereja terapung itu seperti Gereja babi, bukan sebagai mempelai Kristus. Beliau mengeluh karena diantara para pelaut itu terdapat banyak orang yang bukan Calvinis, dan merasa sulit melaksanakan tugasnya, karena awak kapal lebih suka beribadah kepada dewa bacchus dan dewi venus.

 

 

  • 5.2. Struktur Kelembagaan Calvinis V.O.C.

 

Secara struktur, Gereja Calvinis pada zaman VOC berada dalam pengaturan Negara, atau gereja Calvinis pada zaman VOC adalah gereja yang diistimewakan Negara. Selain itu gereja-gereja Calvinis yang ada di Nusantara pada zaman VOC merupakan jemaat jauh dari Gereja Belanda yang berasas Calvinis (Ngelow, 1996:16).

Mula-mula Gereja Protestan di Indonesia dan di daerah-daerah VOC lainnya berkembang dengan pesat. Ambonlah yang mula-mula diduduki orang-orang Belanda, dan dari sana direbut juga beberapa pulau Maluku yang lain: Banda, Ternate dan lain-lainnya. Minahasa dan Sangir menjadi jajahan Belanda juga, sama seperti Srilanka dan Taiwan. Di pulau Jawa didirikan pusat kekuasaan Belanda. Di semua daerah itu VOC mengaku bertanggung jawab atas kemajuan gereja (van den End, 1999:218-219). Pada zaman VOC, Gereja Induk di Belanda dilarang member bantuan kepada gereja Calvinis di Nusantara. Disini menjadi jelas bahwa gereja bergantung pada pemerintah (VOC), tidak bebas mengurus dirinya.  Setiap rapat majelis gereja harus dihadiri oleh dua komisaris sebagai wakil pemerintah (wakil VOC). Gubernur Jenderal berhak menempatkan dan memindahkan pendeta (pendeta pegawai pemerintah). Korespondensi majelis gereja dengan gereja induk di Belanda harus melalui gubernur jenderal (Van Shie, 1992:126-127).

 

  • 5.3. Atribut-atribut/Perangkat

 

Gereja-gereja Calvinis memiliki atribut atau perangkat atau pola sbb:

  • Struktur presbiterial sinodal: bentuk pemerintahan gereja di mana kekuasaan tertinggi berada dalam tangan para penatua. Di dalam gereja yang memakai bentuk pemerintahan ini terdapat badan-badan yang bersifat hirarkis yaitu jemaat-jemaat setempat yang terdiri atas pendeta-pendeta, penatua-penatua; klasis yang terdiri atas pendeta-pendeta dan penatua-penatua yang mewakili jemaat-jemaat dalam wilayah klasis, dan sinode atau siding raya yang merupakan badan tertinggi yang mempunyai hak legislative. Sinode terdiri dari pendeta-pendeta dan penatua-penatua yang diutus klasis.
  • Dalam ibadah, penekanan pada pemberitaan firman Allah
  • Pelaksanaan disiplin gereja secara ketat
  • Ibada dan tata ibadah sangat diperhatikan karena berkait erat, bahkan merupakan satu kesatuan.
  • Perhatian pada jabatan-jabatan dalam gereja: pendeta, pengajar, penatua, syamas, diaken dll.
  • Perhatian pada khotbah, nyanyian, baptisan dan PK

 

  • 5.4. Hakekat Hubungan V.O.C., dengan Gereja

 

Pada tahun 1602 dibentuk VOC dan mendapat hak atau kedaulatan dari pemerintah Belanda atas seluruh jajahan Belanda di Asia. Jadi, VOC adalah Negara yang dengannya gereja Calvinis berurusan. Kepalanya di Indonesia ialah Gubernur Jenderal, yang bertempat tinggal di Jakarta (Batavia). Dengan demikian keberaradaan Gereja Protestan Calvinis di Nusantara pada zaman VOC dalam tanggungjawab VOC. Gereja yang diistimewakan Negara (VOC). Jemaat Calvinis di Nusantara merupakan jemaat jauh dari Gereja Belanda yang berasas Calvinis.

VOC mengaku bertanggungjawab atas kemajuan gereja. Oleh karena itu maka siapa yang punya Negara, dia punya agama.

Jadi, hakekat hubungan VOC dengan Gereja adalah gereja menjadi lembaga yang diatur Negara (VOC). Hubungan antara gereja dan Negara (VOC) terlalu erat, dan gereja dikuasai oleh negara.(van den End, dalam Harta dalam Bejana, 1999: 220)

 

  • 5.5. Pendeta-pendeta yang bekerja pada zaman V.O.C.

 

Pendeta-pendeta yang berbakat dan bersemangat yang melayani di Nusantara pada zaman VOC sbb:

 

  • Sebastian Danckaerts (1618-1622 di Ambon, 1624-1634 di Jakarta). Ia pandai berkhotbah dalam bahasa Melayu. Ia juga sangat memperhatikan persekolahan. Atas usulnya, pemerinta (VOC) tiap-tiap hari member beras kepada anak-anak sekolah, sehingga banyak anak tertarik. Ia membuka sekolah guru  untuk melatih penolong yang cocok bagi pekerjaan di sekolah maupun di jemaat ( van den End,1999:219).
  • Adriaan Hulsebos : 1616-1622 (van den End, Harta dalam Bejana hlm. 219).

 

Ia membentuk majelis gereja gereja yang pertama di kota Jakarta.

Ia diutus ke Maluku oleh Gubernur Jenderal Coen untuk mengatur pelayanan Gereja di sana.

Di Banda, Hulsebos mengatur jemaat dan sekolah dengan rapih, tetapi ia meninggal ketika kapalnya tenggelam waktu memasuki Teluk Ambon. Bagian ini menegaskan bagaimana konteks geografis Indonesia, yaitu nusantara adalah wilayah kepulauan. Ada berbagai resiko yang dialami oleh para pelayan Tuhan ketika mengadakan pelayanan dari satu pulau ke pulau lain, seperti yang dialami oleh pendeta Adrian Hulsebos.

 

  • Heurnius (1624-1632 di Jakarta, 1632-1638 di Saparua).

Ia juga sangat berbakat, ia menyadari kewajiban gereja untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang bukan Kristen.

Ia merupakan pendeta zaman VOC yang berusaha melayani orang-orang Tionghoa yang pada waktu itu sudah besar jumlahnya di Jakarta.

Ia menyusun kamus Tionghoa-Latin-Belanda dan terjemahan Pengakuan Iman Rasuli ke dalam bahasa Tionghoa.

Ia juga memperhatikan terjemahan PB ke dalam Bahasa Melayu.

Ia mengusulkan pendirian sekolah Teologi bagi orang-orang Indonesia di Indonesia.  Namun gereja di Nederland tidak meluluskan permintaan itu, karena takut ajaran gereja tidak dapat dipertahankan secara murni di sekolah yang demikian.

 

  • Melchior Leijdecker (melayani di Batavia tahun 1678 – 1701):

Ia menjadi pendeta di Batavia mulai tahun 1678-1701.

Ia menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu, namun tidak sempat menyelesaikannya karena sampai pada Efesus 6:6, Ia meninggal. Orang-orang lain melanjutkan dan merevisinya karyanya. Bahasa yang dipakai tinggi sekali, perlu ada lampiran untuk daftar kata-kata yang tidak dipahami oleh orang banyak.

 

5.6. Pengutusan Misi Gereja Dibawah Pengawasan VOC (1605-1799).

 

  1. Ketika orang-orang Belanda berlayar di Asia mereka mencari rempah-rempah di Indonesia, selain itu mereka datang ke Indonesia karena mau menjadi negara yang kokoh untuk melawan kekuasaan Katolik. Lantaran itu, maka tidak mengeherankan kalau Belanda mengutamakan perdagangan.
  2. Maka dari itu didirikanlah suatu perkapalan yang besar terkenal dengan nama VOC (Verenigde Oostindische Compagnie). Kemudian badan ini didukung penuh oleh negara Belanda. Kepada VOC diberi izin monopoli atas perdagangan mulai dari Tanjung Pengharapan (Afrika Selatan)  sampai Jepang. Hal ini berarti tidak seorangpun dari Belanda atau negara lain boleh berlayar atau datang ke Indonesia tanpa seizin VOC sebab itu VOC mempunyai satu-satunya hak kedaulatan. artinya VOC berhak mengadakan perjanjian diplomatic mengambil keputusan untuk berperang, mengatur pekerjaan warga-warganya, membiyai gaji mereka serta menentukan tempat-tempat tinggalnya.
  3. Menurut ajaran Calvin: pemerintah diwajibkan melawan serta memberantas segala penyembahan berhala dari agama palsu. Tugas ini diberi kepada VOC sebagai wakil pemerintah Belanda di Indonesisa. Dan seperti halnya di negri Belanda, maka VOC memberi kepada gereja segala keleluasan dan alat untuk menjalankan tugas ini.
  4. Sesuai kenyataan keadaan politik/ekonomi maka pada tahun 1612, VOC mengizinkan kedatangan pendeta Kristen Belanda pertama di Indonesia dan mengirimnya ke Ambon. Sesuai dengan ajaran Calvinis tentang hubungan gereja dengan negara maka VOC bersedia membantu gereja reformed Belanda melakukan tugas keagamaannya di Indonesia dimana saja VOC pergi mereka siap sedia mendirikan gereja dan mengatur orang-orang misionaris yang dipilih oleh gereja. Namun bantuan VOC tidak diberinya tak  bersyarat. Misalnya:

Keharusan utama yang dirasakan VOC sebagai penguasa Kristen adalah para pendeta Belanda mengutamakan pemeliharaan rohani atas orang-orang Belanda baik di laut maupun di darat. Walaupun bersedia mengatur pengkristenisasian penduduk, namun VOC tidak bersedia membiarkan para misionaris merusak kepentingan perdagangan.

Guna mempertahankan kepentingan dangang itu, VOC tidak mau gereja dan para misionaris menjadi terlalu kuat sehingga bersaing melawan tujuan mereka untuk itu VOC menuntut: (1). Kehadiran wakil VOC, bila majelis gereja mengadakan rapat. (2). Membiayai gaji misionaris, peralatan, misi, serta menentukan tempat pelayanan. (3). Pendeta-pendeta yang tidak tunduk atau melawan, dipulangkan kenegeri Belanda

  • Di Maluku: sebelum pendeta Belanda pertama datang, VOC telah memulai proses pengkristenisasian dengan cara merampas hasil dari pada padri, lalu memaksa 1600 penganut Katolik menjadi penganut Protestan. Beberapa peristiwa lainnya yang penting yang terjadi di Maluku adalah sbb:
    1. Ds. Wiltens (Ambon) merupakan pendeta Belanda yang pertama berkhotbah dalam bahasa Melayu pada tahun 1613.
    2. Wiltens, yang pertama dari 167 pendeta Belanda yang melayani singkat atau lama di Maluku dari tahun 1612 sampai pembubaran VOC pada tahun 1799.
    3. Pada tahun 1615, di Ambon, telah dibentuk majelis gereja pertama.
    4. Namun, walaupun jumlah pendeta serta golongan “Penghibur orang sakit” cukup untuk melayani warga gereja-gereja Benteng, di pedalaman orang Kristen diabaikan dan jarang di kunjungi.
    5. Mengingat kekurangan tenaga pendeta dan bahwa kebijaksanaan VOC memprioritaskan orang Belanda maka penginjilan di Maluku sangat di abaikan selama masa VOC itu.
  • Sulawesi Utara dan Sangir Talaud: pada bagian ke-2 abad ke-17 kekuasaan Spanyol atas Sulawesi bagian utara di ambil alih oleh VOC, daerah lainpun mulai dikuasai oleh VOC seperti: Sangir, kemudian Talaud. Kekusaan VOC atas daerah-daerah di Sulawesi bagian utara diikuti oleh hadirnya gereja protestan Calvinis ke daerah-daerah tersebut. Orang-orang Katolik di daerah ini di wajibkan masuk Calvinis VOC (Gereja Protestan aliran Calvinis VOC) beberapa peristiwa penting disana adalah:
    1. Pendeta C. De Leeuw tiba di Sangir (1680-1689), dari Ternate dan mempelajari bahasa Sangir.
    2. Tercatat bahwa pada tahun 1700  terdapat 2.500 orang Kristen di Sangir. Namun oleh karena kelalaian dan kekurangan tenaga pelayan, maka jumlah ini menurun sampai setengahnya (1500 orang Kristen) pada tahun 1771.

 

4. Timor:  daerah  ini baru pada  tahun 1670 mendapat pemeliharaan rohani, ketika salah  seorang raja meminta perlindungan serta meminta baptisan. Namun orang-orang di Timor jarang dikunjungi oleh para pendeta. Akan tetapi antara thn. 1688-1730, diadakan  pelayanan sakramen sebanyak delapan kali (hanya) di benteng Kupang. Namun suatu berita positif adalah laporan mengenai seorang guru ajaran Kristen pribumi yang bernama Paulus Kupang.  Karena ia melakukan tugasnya  begitu baik, ia diangkat, diberinya status Penghibur orang sakit.  Status ini sama dengan suatu golongan rohaniawan berkebangsaan Belanda yang bisaanya diutus dari Belanda untuk melakukan  tugas pelayanan sebagai penghibur orang sakit. Kelompok ini dapat memimpin ibadah dan pada saat berkotbah, mereka hanya membacakan teks kotbah yang sudah disiapkan oleh  pendeta Belanda. Ketika Paulus Kupang Meninggal pada tahun 1716, ia diganti oleh seorang pribumi  lain tetapi tidak lama kemudian orang-orang Belanda yang mengambil alih kedudukan “Penghibur orang sakit”. (makna beberapa peluang yang diberi kepada orang –orang setempat untuk tugas pelayanan gereja atau diambil alih oleh suku-suku tertentu digereja/ pendatang-pendatang)

  1. Batavia : Pekerjaan misi  didaerah ini mulai antara abad 17-19. ini berarti pekerjaan misi Gereja Calvinis VOC tidak hanya terbatas ke daerah Indonesia Timor tetapi juga ada usaha misi dizaman VOC meluaskan Kekristenan Indonesia bagian Barat. Misalnya:
  • Dipulau Jawa : Walaupun orang –orang dipulau Jawa menerima Islam,namun di Jawa Timur masih tersisa kelompok-kelompok  orang Hindu yang tak bisa memandang  orang-orang Belanda sebagai sekutu melawan Islam. Maka dari itu misi Belanda diarahkan ke Panarukan dan Blambangan tahun 1569-1599. Ada sejumlah orang di baptis tetapi tidak lama kemudian daerah itu diislamkan dan pekerjaan awal ini tidak tahan lama.
  • Sekitar tahun 1690 seorang misionaris bekerja di pedalaman Kalimantan Selatan dan berhasil membaptis beberapa ribu orang disana. Tetapi ia dibunuh dan pekerjaannya dihapuskan tak berbekas.
  • Pada tahun 1545 dua Raja di Sulawesi Selatan  memberi diri di baptis atas kesaksian seorang pedagang Belanda. Tetapi seorang pendeta yang datang kesana tidak menetap lama sehingga pekerjaan yang dimulai disana runtuh. (maknanya: kaum awam bersaksi dan memberi pengaruh tetapi bisa saja ketika pendeta melayani di daerah tersebut jemaat menjadi tambah atau kurang/bahkan bubar=tidak hakimi pendeta karena kami juga pendeta, … itulah pendeta…?). Maklumlah bahwa Sulawesi Selatan waktu itu tidak dianggap daerah yang penting bagi  VOC. VOC segera meluaskan kekuasaannya kearah Barat Indonesia, sehingga memerlukan pangkalan sebagai pusat. Baik Indonesia maupun di seluruh kawasan Asia. Guna mencapai tujuan itu, maka VOC merebut Batavia pada tahun 1619.

Gereja di sana (Batavia) berkembang pesat, sehingga pada tahun 1700 mencapai 15.000 orang Kristen dari golongan Belanda, sebagai bangsa Asia (Portugis/India) dan Indonesia, dan ketiganya memakai bahasanya tersendiri. Bahkan Cornelis Senen (ingat apakah ada hubungannya dengan pemberian nama tempat Senen di Jakarta Pusat), seorang tenaga rohani dari Belanda yang sangat baik, akhirnya diangkat ke status calon pendeta. Tetapi oleh karena ia tidak berminat  akan pendidikan barat dan tidak mengetahui seluk beluk Teologi Reformed, maka tidak mungkin ia lulus ujian sidang dan menjadi setingkat pendeta-pendeta Belanda.

  1. Kesimpulan mengenai Berdirinya Gereja Protestan Calvinis VOC di Indonesia
  • Kebijaksanaan VOC yang mengorbankan misi atas kepentingan perdagangan
  • Kekurangan tenaga misionaris disertai sekaligus  ketidakrelaan para misionaris atas kebutuhan untuk melatih dan meningkatkan tenaga rohaniawan pribumi.
  • Terlalu banyak perhatian diberikan kepada orang-orang Kristen  Belanda sehingga penginjilan orang-orang Indonesia diabaikan
  • Banyak pendeta tidak pernah mempelajari bahasa daerah/bahasa setempat ataupun bahasa Melayu
  • Permusuhan dan penghambatan dari Islam
  • Sakit penyakit  dan peperangan yang berkecamuk disana sini menghambat perluasan agama Kristen. (Culve, 1991:19-23).

 

 

 

 

BAB 6.

INDISCHE KERK ABAD XIX – XX

 

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa mampu:

  • Menilai struktur kelembagaan Gereja Calvinis di Zaman Hindia Belanda
  • Menilai pembentukan GPI dalam konteks esensi Gereja
  • Menilai pemekaran Gereja aliran Calvinis sesuai kenyataan alami warganya

 

6.1. Struktur Kelembagaan

 

Penyerhan Kekuasaan atas Indonesia, termasuk kekuasaan atas Gereja kepada Pemerintah Hindia Belanda oleh VOC. Setelah VOC bubar pada tahun 1799 maka kekuasaan di Indonesia, termasuk kekuasaan atas gereja diserahkan kepada pemerintah Belanda. Selanjutnya pemerintah Belanda mengatur pelayanan gereja di Indonesia atau kekuasaan di Indonesia langsung berada dibawah pengawasan Raja Belanda.

Beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun 1864, parlamen Belandalah yang menentukan kebijaksanaan politisnya di tanah air Indonesia melalui menteri urusan daerah penjajahan. Seluruh gereja Protestan yang berada di Indonesia pada tahun 1800 digabungkan oleh pemerintah Hindia Belanda, dan diberi nama “Gereja Protestan Indonesia” (GPI) atau menjadi gereja Negara tahun 1817. Sejak saat itu gereja protestan yang ada di Indonesia dinyatakan sebagai Gereja Negara.[39]

Selanjutnya gereja ini disebut “Gereja Negeri” atau gereja negara. Oleh karena menjadi gereja negeri, maka ada peraturan dari pemerintahan untuk GPI. Aturan itu antara lain:

  • Secara teori dukungan keuangan dari pemerintah kepada gereja di cabut; prinsip

      pemisahan gereja dan negara diutarakan.

  • GPI dipimpin oleh suatu badan pengurus yang diangkat oleh gubernur jenderal dan yang berkedudukan di Batavia. Ketuanya harus dari aparat negara kolonial (sejak abad ke-20 seorang pendeta). Anggota pengurus lain adalah pendeta-pendeta Belanda.
  • Tugas gereja diartikan: “Memelihara kepentingan agama Kristen pada umumnya dan gereja Protestan pada Khususnya… menegakkan ketertiban serta kerukunan dan memupuk cinta kasih kepada pemerintah serta tanah air. (Tugas penginjilan tidak disebut)
  • Pemerintah Hindia Belanda tidak merasa perlu bahwa gereja menciptakan suatu konfesi ataupun menentukan suatu tata ibadah. Hal ini menyaratkan bahwa pemerintah Belanda tidak begitu tertarik akan makna hakikat gereja.

 

6.2. Reorganisasi Struktur Gereja Zaman Hindia Belanda (Indische Kerk)

 

Pemerintah Belanda setelah penyerahan kekuasaan oleh VOC menempatkan Gereja di Indonesia di bawah urusan kementrian Perdagangan dan Penjajahan. Pemerintah Hindia Belanda melalui keputusan Raja Belanda Willem I tertanggal menyatukan Gereja-gereja protestan (Calvinis dan Lutheran) menjadi Gereja Protestan Indonesia (GPI),  yang berada dibawah urusan  Negara , yaitu pemerintahan Belanda. Akan tetapi  keberadaan  Gereja seperti ini tidak sesuai dengan esensi Gereja, maka gereja-gereja di Indonesia pada waktu itu berusaha untuk melepaskan diri dari Negara, dan perjuangan ini membuahkan hasil, yaitu pertama, gereja memisahkan diri dengan Negara dalam  hal administrasi( thn. 1935), beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 1950 gereja-gereja Protestan aliran Calvinis yang merupakan hasil misi zaman VOC dan Belanda memisahkan diri dari Negara (pemerintah Belanda) dalam bidang keuangan. Sejak saat itu gereja berusaha mandiri walaupun harus menghadapi berbagai kendala (akan dibahas dalam Gereja menuju kemandirian). Disini hanya mau disampaikan bahwa gereja yang memisahkan diri dengan pemerintahan Belanda, pada akhirnya dimekarkan menjadi beberapa gereja suku, yaitu: 1) Gereja Masehi Minahasa (GMIM,tahun 1934). 2) Gereja Protesten Maluku (GPM, thn. 1935). 3). Gereja Masehi Injili Timor (GMIT,thn. 1947). 4). Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB, thn. 1949).

        Pada masa penyerahan kekuasaan di Indonesia oleh VOC kepada pemerintah Belanda, pemerintah Belanda tidak terlalu memperhatikan kegiatan penginjilan untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya kepada Kristus

Sejak tahun 1500 Islam makin meluas di kepulauan Indonesia. Pada tahun 1800 secara garis besar Islam telah menuasai Batavia. Kemudian proses Islamisasi menjadi semakin nyata, teristemewa diakhir abad ke-19, berkat huibungan dengan Jasirah Arab. Hal itu berarti pekabaran Injil di daerah-daerah itu akan lain sifatnya dan hasilnya dibandingkan daerah agama suku. Lain pula sikap pemerintah kolonial terhadap kegiatan misi di daerah Islam dibanding daerah agama suku. Selain itu sikap serta kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap gereja dan misinya tidak begitu berbeda dengan VOC. Artinya, gereja tetap dianggap sebagai alat pemerintah untuk menjalankan kepentingan pemerintah, termasuk keuntungan/kemakmuran ekonomi. Hal itu diamati dalam:

  • Larangan atas penginjilan didaerah-daerah Islam demi mempertahankan kerukunan (maksudnya kepentingan dagang): misalnya Jawa sampai tahun 1850 dan Aceh.
  • Kerelaan memberi dukungan kepada pengkristenisasian didaerah agama-agama suku guna melunakkan sikap anti pemerintah kolonial.
  • Acuh tak acuh terhadap hal apa hakikat gereja itu? Tidak ada kerelaan untuk membiarkan gereja menjadi gereja dalam arti yang sesungguhnya (konfesi, penginjilan, dsb).
  • Yang sangat penting juga pemerintah kolonial Belanda tidak pernah menyatakan secara formal kedudukan orang Indonesia Kristen. Seolah-olah pemerintah tidak mengetahui bahwa dalam gereja itu terdapat orang-orang Indonesia, padahal mereka merupakan mayoritas anggota gereja.
  • Terjadi dua perkembangan di negeri Belanda yang menyebabkan perkembangan yang kita lihat diatas tadi dan juga mengakibatkan beberapa perubahan diantara tenaga pekabar Injil serta metode-metode dari misinya.

 

Hal-hal itu (perubahan-perubahan) itu terlihat dalam:                            

  • Gerakan pencerahan: Pencerahann adalah satu aliran berpikir di Eropa yang menyatakan bahwa manusia telah menjadi dewasa dan harus berani berdikari, melepaskan diri dari belenggu tahkyul, dogma, dan segala bentuk keagamaan yang tidak sesuai dengan Rasio. Karena ratio adalah hakim akhir dalam segala hal penting. Cara berpikir seperti itu mempengaruhi: (1). Tuntutan kebebasan dalam beragama, dan negera tidak berhak mengklaim bahwa hanya satu gereja/dominasi yang sah baginya. (2). Memisahkan gereja dan pemerintah; secara praktisnya pemerintah yang berdemokrasi dan bukan gereja yang dikira berpikiran picik perdagangan yang mewakili rakyat sesungguhnya (sekuler di atas rohani). (3). Mempengaruhi sikap –orang-orang Eropa terhadap bangsa-bangsa lain.
  • Pietisme: (dari kata “Pious”= saleh/kesalehan) adalah aliran dalam kelompok Kristen yang menekankan kesalehan dalam setiap lapangan kehidupan. Munculnya pietisme sebagai reaksi terhadap ortodoxi yang kaku/tidak dinamis. Kelompok Kristen pietis mengutamakan: (1). Kehangatan iman secara pribadi. (2). Kesalehan pribadi. (3). Kepastian/pengalaman pribadi akan keyakinan keselamatan berdasarkan karya Tuhan Yesus Kristus. Dua lembaga yang sangat terkenal Pietis adalah Universitas Halle yang menamatkan lebih dari 6000 pendeta (sarjana yang ditabiskan menjadi pendeta). Lembaga yang kedua adalah Hernnhut, pusat dari kaum Morafiah yang secara pengorbanan mengutus satu dari 60 anggotanya sebagai utusan Injil kepada 4 penjuru bumi dari tahun 1730 sampai tahun 1800.

 

Penekanan pietisme atas penginjilan membahwa dampak besar pada misi Protestan di Hindia Belanda (wilayah jajahan Belanda). Orang-orang Belanda yang dipengaruhi oleh pengaruh pietisme berminat mengikuti teladan Hernnhut, Willem Carey serta beberapa badan penginjilan di negara Inggris yang juga mempengaruhi orang Kristen Belanda yang menaruh minat pada penginjilan dan membentuk badan misi seperti: NZG (1797), NZV dan RMG (1828). Bahkan di Indonesia selain Java Comite (1855), lahirlah lembaga Alkitab (1814) sebagai reaksi orang Kristen Indonesia yang tidak puas dengan GPI, selain itu lahirlah lembaga-lembaga PI di Batavia (1815) dan Surabaya (1815). Beberapa misionaris yang dipengaruhu oleh pietisme seperti: Joseph Kam, Bruckner, Super, Riedel, Jellesma, L.I. Nomensen, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 7

ZENDING ABAD XIX – XX

 

 Setelah mempelajari bab ini mahasiswa mampu:

 

  • Menganalisa motivasi terbentuknya badan misi yang Calvinis, Lutheran dan aliran Baptis Selam dan Pentakosta.
  • Membandingkan kelebihan dan kelemahan antara misionaris Calvinis, Lutheran dan Baptis/Pentakosta.

Pokok ini dibahas dalam kelompok diskusi mahasiswa

 

7.1. Badan Zending yang bercorak Calvinis dan latar belakangnya

 

NZG (Nederlandsch Zendelinggenootschap)

 

Terbentuknya lembaga-lembaga pekebaran Injil di Belanda oleh anggota gereja pada abad ke-19 dipengaruhhi beberapa kegiatan rohani yang terjadi di London di Nederland yang mendirikan lembaga penginjilan pada tahun 1793.

NZG didirikan di Rotterdam pada tahun 1797 oleh sekelompok orang (anggota jemaat gereja Hervormd) yang didorong atau dipengaruhi oleh pembentukan lembaga PI di Inggris, yaitu pendirian Baptist Missionary Society pada tahun 1792, London Missionary Society tahun 1795 dan oleh orang-orang Herrnhut di Nederland, yang mendirikan lembaga Pekabaran Injil pada tahun 1793.

Setelah terbentuk, NZG mengutus (zending) sejumlah pekabar Injil ke:

Afrika Selatan

India

Indonesia (sejak tahun 1839 memfokuskan misionari untuk memberitakan Injil di  Indonesia ), yaitu di Maluku sampai tahun 1864. Di Minahasa dan Timor, Jawa Timur, tanah Karo di Sumatera Utara (1890), Sulawesi Tengah (Poso, 1892), dan Boloang Mongondow (1904). Sulawesi Selatan (1851-1864), di Sawu (1870-1900).

Jumlah misionaris (zending) yang diutus NZG ke Indonesia selama periode 1813-1894 berjumlah 95 orang.

Para pelopor NZG dari anggota gereja Hervorm saja. Theology dan corak kerohanian tidak seragam. Adanya yang menganut trdisi ortodox, dan orang-orang yang memelihara hubungan dengan jemaat Herrnhut atau dengan revival di Inggris, adapula pengaruh pencarahan. Namun mereka sanggup bertindak bersama-sama karena mereka memintingkan pengalaman iman dalam kasih dan kesaksian. Oleh karena itu maka keanggotaan NZG terbuka untuk anggota gereja lain. Dalam PI NZG para utusan tidak terikat dengan ajaran pengakuan iman atau tata gereja dan tata kebaktian yang khas Hervormd. Cukuplah kalau para anggota maupuin utusan NZG berpegang pada PL dan PB sebagai dasar bagi pengetahuan akan kebenaran dan sebagai satu-satunya aturan untuk iman dan jalan hidup, serta pada abad ke-12 pasal iman Kristen. Tulisan pada materai NZG berbunyi: “Damai Oleh Darah Salip” (Van Den End Ragi Carita II,:11-20)

 

 

 

Para Misionaris yang diutus NZG ke Nusantara:

  • Joseph Kam: ia berasal dari keluarga pietis di Belanda. Keluarganya mempunyai hubungan erat dengan Hernnhut, pusat kaum morafia. Diutus oleh NZG ke Indonesia dan tiba di Ambon tahun 1815. dalam pelayanannya di Ambon, ia membabtis 3000  anak-anak Ambon yang belum sempat dibabtis, akibat tidak adanya pelayanan seorang pendeta selama 20 tahun. Kemudian antar tahun 1815-1816, Kam berkhobah, mengajar, mengawasi, guru-guru dan melayankan sakramen-sakramen kepada anggota-anggota gereja disekitar Ambon dan kepada 70 jemaat dipedalaman (satu gereja sekali setahun). Selain itu ia beberapa kali mengadakan perjalan basar yaiutu ke Ternate, Minahasa, dan Sangir. Ia juga melayani di pulau-pulau selatan sampai ke Timor. Hal ini disebabkan karena tidak ada tenaga pendeta disana semasa Joseph Kam! Sepeninggal Joseph Kam pada tahun 1933, tibalah beberapa pendeta, kebanyakan wisudawan dari universitas yang tidak begitu terpengaruh oleh pietisme dan bukan utusan NZG. Dampak mereka terhadap gereja di Maluku tidak begitu menentu. Namun pada tahun 1835 datanglah guru Belanda yang beraliran pietis bernama Roskott. Roskott terbeban mendirikan sekolah pendidikan guru (SPG) guna meningkatkan taraf rohani dan kemampuan golongan guru. Satu tamatan SPGnya adalah W. Hehanusa (1799-1873) yang kemudian hari di utus ke Minahasa. Disana ia ditahbiskan menjadi pendeta Indonesia pertama dalam gereja Protestan.

 

  • Johan Friedrich Riedel: ia adalah seorang Jerman yang dipengaruhi pietis. Diutus oleh badan misi Belanda, yaitu NZG. Ia diutus secara khusus untuk memberitakan Injil kepda orang-orang yang bernama suku di Minahasa. Dalam pelayanan Riedel lepas dari kekuasaan GPI, aparat pemerintah Hindia Belanda. Metode pelayanan di Minahasa: (1). Tidak memakai tenaga orang-orang di Tondano, artinya ketika ia menginjili di daerah Tondano, ia memakai bahsa setempat tanpa memakai penterjemah sebagaiman yang dilakukan oleh para misionaris ditemapat lain, seperti di Pasundan, dll. (2). Riedel tidak menjelekan adat dan agama suku setempat dengan kata-kata pedas sebagaimana yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Belanda sebelumnya. (3). Bersikap ramah kepada semua orang, mengundang mereka datang kerumahnya, memberi kopi kepada mereka dan mengadakan diskusi dan ajaran Kristen secara wajar. Metode ini cocok dengan cara orang Minahasa sendiri. (4). Menguasai bahasa daerah Tondano (sekali lagi berbeda dengan yang lazim dilakukan pendeta Belanda yang berpendapat bahwa: bahasa daerah terlalu miskin untuk dipakai mengajar ajaran agama!). hasilnya ada banyak orang Tondano yang percaya dan dibabtis Riedel.

 

  • Sementara itu NZG akhirnya dapat izin dari pemerintahan Hindia Belanda untuk memulai pekerjaan misi di pulau Jawa. Utusannya yang pertama adalah Jellesma (1817-1858). Jellesma pindah dari Surabaya ke Mojowarno pada tahun 1851.  disana ia mempercayakan orang Jawa untuk kegiatan jemaat dan penyiaran Injil. Jellesma bersikap selektif dalam menggunakan budaya Jawa dalam rangka misi gereja di Jawa. Sikap selektif ini dapat dipahami oleh karena beberapa tokoh seperto  Emde dan Coolen berbeda sikap terhadap budaya. Sikap Emde yaitu menolak budaya Jawa dalam pemberitaan Injil sebaliknya sikap dari Coolen adalah bersikap memihak atau pro kepada budaya Jawa dalam menyampaikan berita Injil. Dalam pelayanan Jellesma, berhasil membabtis 2000 oarang, memulai sekolah, menerbitkan buku-buku rohani dari cerita Alkitab dan mengumpulkan satu bundel nyanyian rohani hasil dari pekerjaan misi Jellesma adalah gereja Kristen Jawa Wetan.

 

Beberapa Penginjil yang bekerja diluar Badan zending dari Belanda

 

Emde, Coolen, dan Jellesma: pada tahun 1815 orang-orang Kristen yang berlatar belakang Jawa dan Sunda, dapat dikatakan tidak ada memang telah terdapat orang-orang Kristen Belanda dan orang-orang Kristen Indonesia dari pulau-pulau Timor, yaitu dikota-kota besar dipantai utara seperti Batavia, Semarang, Surabaya. Tetapi di pedusunan tidak terdapat orang Kristen disana. Gereja Protestan Indonesia (GPI) di Jawa waktu itu tidak berminat untuk mengadakan penginjilan menjangkau orang-orang Jawa. Berhubungan kenyataan itu, kegiatan PI dilaksanakan secara perorangan dan tidaklah secara rapih dan sistematis. Kemudian muncul tiga tokoh untuk PI ke daerah Jawa, yaitu Emde dan pengikutnya di Surabaya (1851) Coenrad Coolen dan kelompoknya di Ngoro (1830) dan J.E Jellesma (1850-1858). Emde adalah seorang tukang arloji dari Jerman. Ia berlayar ke Indonesia dan tiba di Surabaya. Ia menikah dengan seorang wanita Jawa. Ia bersama istri dan anak-anaknya mengadakan PI dengan menghubungi orang-orang Jawa, kebanyakan dari golongan-golongan pembantu dari orang-orang Eropa di daerah Surabaya.

Coenrad Coolen, ia seorang Indo, ibunya bangsawan Jawa. Ia mendidik dalam kebudayaan Jawa sehingga menguasai wayang musik dan tari-tarian Jawa. Kemudian Coolen membuka hutan pemukiman sekitar 60 Km dari Surabaya, namanya Ngoro. Ngoro kemudian menjadi suatu desa yang makmur dan Coolen dikenal sebagai seorang pemimpin dan guru Kristen, ia memiliki “Ngelmu”. Dalam pelayanan penginjilan ia memakai budaya setempat, yaitu budaya Jawa dengan mengadakan transformasi (perubahan dari isi budaya tersebut). Misalnya waktu memimpin doa berkat: Coolen menyanyikan tembang: “O Gunung Semeru, O Dewi Sri, Berkatilah karya tangan kami. Dan diatas segala-galanya kami pohonkan karunia dari dan kekuatan dari Yesus yang kekuasaannya tiada bertara”. Selain itu pada hari minggu, Coolen mengadakan kebaktian di pendopo rumahnya sendiri dengan membaca satu pasal dari Alkitab menyanyikan nyanyian rohani dan berdoa dengan gaya tembang: mengahabiskan waktu dengan bermain gemelan; mengadakan wayang dan mengucapkan rumus-rumus Kristen seperti doa Bapa Kami, dsb.

 

Perpecahan dalam tubuh NZG

 

Badan misi (pecahan NZG): pada tahun 1850-an diantar anggota pengurus NZG ada yang dipengaruhi dan mengikuti golongan “modern” (liberal). Akibatnya, sebagiann anggota NZG yang tradisional dan kaum etis meninggalkan NZG dan mendirikan lembaga-lembaga baru, yaitu NZV (1858), UZV (1859) dengan wilayah pelyanan Irian Jaya Barat (1863), di Halmahera (1866), di Bali (1866-1878), di Buru (1885), dan Sulawesi Selatan (1895-1905). Selama 80 tahun (1860-1940) NZV mengutus 85 missionaris. Dan NGZV (1859), memilih Jawa sebagai medan pekerjaan misi (1862), kemudian di pulau Sumba-NTT (1881-1884), kemudian di pulau Jawa Tengah (meneruskan misi zending gereja-gereja geretomeerd/ZGKN). Jadi selama NGZV hanya mengutus 8 orang missionaries ke Indonesia. Sebagian lagi anggota tahanan tardisional dan etis tetap menjadi anggota NZG sehingga mulai tahun 1900-1940 golongan etislah yang paling menonjol dalam pemimpinan NZG. Tenaga-tenaga misi NZG adalah tenaga-tenaga professional artinya mereka diberi pendidikan selama beberapa tahun kemudian di utus menjadi missionaries dan para misionaris NZG di tempat penginjilan sebelum tahun 1843 tidak mendapat gaji tetapi mulai tahun 1843 mereka mulai mendapat gaji. Namun hal ini oleh seorang missonaris NZG, yaitu O.G. Heldring menganggap metode ini kurang mengena dan mahal sehingga jumlah missionaries yang diutus sangat sedikit. Heldring ingin mengutus orang-orang Kristen secara spontan tanpa pendidikan bertahun-tahun selain yang paling perlu, dan diutus tanpa jaminan hidup. Di tempat kerja para missionaries harus menghidupi diri sendiri, sama seperti Paulus tukang kemah, misalnya dengan bercocok tanam, berdagang, bertukang, dan sebagainya, sambil bersaksi (memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus). Heldring bersama panitia tukang Kristen berhasil mengutus 52 orang missionaries: 20 orang ke Jawa, 2 orang ke Irian Jaya Barat (1855), dan 8 ke Sangir (1857), dan Talaud (1859). GZB (Geretormeerde Zendings Bond) adalah lembaga zending yangb didirikan dalam lingkungan gereja Hervormd dan atas usul dan bantuan NZG, GZB mulai bekerja di Luwu, Sulawesi Selatan,yaitu di tanah Toraja dan kabupaten Luwu yang sekarang (1913). Jumjlah tenaga yang diutus kewilayah ini selama 1913-1942 sebanyak 15 orang missionaries. Dalam pelayanan disana, sikap terhadap adat meremka menggunakan metode A. C. Kruyt, yaitu: (1). Mendirikan sekolah. (2). Mempelajari bahasa daerah. (3). Membagikan hadiah kecil pada pertemuan hari minggu agar orang tertarik. (4). Memberi pertolongan medis kepada orang yang sakit atau luka-luka. (5). Untuk menyerang agama asli penduduk secara langsung. (6). Tetapi memperlihatkan keunggulan agama kekristenan atas agama asli itu. (7). Dari pada menyerang agama suku secara langsung sebaiknya memperdalam penyelidikan terhadap agama suku dalam hal organisasi gereja, GZB memakai zending gereja-gereja Gereformend.

 

Lembaga-lembaga bukan pecahan NZG, yaitu NLGIUZ adalah badan misi bantuan yang diberikan oleh orang-orang Kristen Lutheran di Belanda pada tahun 1872. NLGIUZ = Nederlandsch Luthersch Genootschap Voo In-en Uitwendige Zending. Wilayah pelayanan di Indonesia: kepulauan Batu, lepas pantai Sumatera. Para missionarisnya di didik dalam seminari RMG di Barmen.

 

Beberapa misionari yang diutus oleh UZV

 

  • Geissler dan Ottow: zending/utusan dari Belanda tiba di Irian (Papua) tahun 1855 dan ia melayani di suku Numtor. Geissler dan Ottow merupakan tokoh misi yang mengembangkan metode misi Paulus yang mengabarkan Injil dan disamping itu menjadi tukang (“Zending-tukang”). Dikatakan demikian karena waktu mereka di Irian, mereka menebang pohon, membuat rumah sendiri, dan berdagang untuk mengongkosi kehidupan diri. Mereka mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang Numfor (Papua). Lalu mengadakan kebaktian sendiri, akhirnya dalam bahasa Numfor. Kemudian tahun 1861 sudah dikumpulkan lagu-lagu rohani dalam…. Numfor yang segera disusul dengan terjemahan dari beberapa kitab PB. Tetapi dipegangnya sikap sangat negatif terfhadap kebudayaan Numtor (Lih. Van Den End jilid II:113-115). Namun gereja didirikan diantar orang-orang Numtor itu. Pada tahun-tahun berikutnya berdatangan banyak misionaris dari Zending UZV dengan menerobos kepedalam di berbagai tempat. Para zendeling itu menghadapi banyak kesukaran/kesulitan: iklim yang buruk, penyakit malaria, dan juga keganasan beberapa suku. Semua factor ini menyebabkan banyak korban dari para misionaris. Akan tetapi pada tahun 1940 telah di babtis 80.000 orang Irian, kebanyakan menerima Kristus secara perkampunagn (masal).

 

  • 7.2. Badan Zending yang bercorak Lutheran

 

Badan-badan misi Jerman dan Swis

 

Rheinische Mission (RMG, 1828) sejak tahun 1834 mengutus missionaries melayani di Indonesia dengan wilayah kerjanya di Indonesia, yaitu Sumatera Utara (Batak), hasilnya HKBP, seorang missionaries yan terkenal dari misi RMG untuk Sumatera Utara, yaitu Nomensen. Selain itu misi RMG diusahakan di Kalimantan, yaitu GKE dan di Nias, hasilnya, yaitu BNKP dan gereja-gereja disamping BNKP.

 

RMG mengutus seorang missionaries sbb:

 

Ludwig I. Nomensen: berdirinya gereja di Sumatera dan daerah-daerah lain tahun1830-1930 di pulau Sumatera agama Islam sudah tersebar, memulai dari Aceh sejak abad ke-13. hanya dibagian utara di daerah suku Batak, Islam tidak mendapat tempat bagi dirinya. VOC tidak berani menyerang kesultanan Aceh, namun diambilnya beberapa pangkalan di Sumatera dibagian selatan seperti Padang dan Bengkulu. Namun setelah tahun 1824 kekuasaan Belanda meluas terus di Sumatera.

Orang-orang Batak memegang kuat pada agama nenek moyang. Kaum Parmalim yang dimulai pada tahun 1870 bertujujan untuk melindungi adat, upacara keagamaan dan kepercayaan tradisional terhadap Islam, Kristen, dan Kolonialisme. Tetapi orang-orang Batak itu bukanlah orang-orang biadab. Dua raja yang terkenal beradab tinggi termasuk raja Pontas Lumbantobing dan Si Singamangaraja XI dan XII. Namun terdapat disana beberpa unsure keganasan. Satu desa kadang menyerang yang lain, atau orang-orang asing diserang dan dibunuh karena masyarakat takut kena bencana kalau menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat. Kegiatan penginjilan di tanah Batak pertama kali dimulai pada tahun 1824 oleh dua utusan baptis berkebangsaan Inggris tetapi mereka ditolak, kemudian PI kedaerah ini di usahakan lagi oleh dua utusan dari Amerika, tapi mereka mati syahid akibat dibunuh oleh orang-orang Batak. Kegiatan penginjilan ketiga dilakukan oleh seorang utusan dari misi Rheinnsche Missionsgeslellschatt (RMG) pada tahun 1857 misionaris tersebut berhasil sedikit membabtis dua orang Batak pada tahun 1861. keberhasilan pelayanan di Tanah Batak diusahakan kembali melalui kehadiran seorang misionaris dari RMG, yaitu L. I. Nomensen yang tiba di Tanah Batak tahu 1862. ia disambut secara baik oleh masyarakat Batak. Ia kedaerah Silindung, ia berhasil menginjili dan memenangkan beberapa petobat. Tetapi ketika petobat-petobat diserang dan dianiya oleh musuh maka mencari tempat perlindungan di “Huta Damai” suatu desa Kristen. Dan setelah melayani selama 7 tahun tercatat 400 orang bertobat. Sepuluh tahun kemudian jumlah orang Batak yang percaya kepada Yesus Kristus bertambah menjadi kira-kira 10 kali lipat. Atas rasa gembiranya melihat perkembangan petobat-petobat baru, maka Nomensen berkata: “Bilakah orang banyak itu berlutut di depan Raja kita Yesus? Dalam bayangan tampak sudah olehku jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gedung-gedung gereja, dan orang-orang muda pergi ke gereja. Terdengar sudah olehku lonceng-lonceng berbunyi untuk memanggil mereka kerumah Allah,….. selain dari pada itu, tampak pula oleh pendete-pendeta dan guru-guru yang berasal dari Sumatera berada di atas mimbar-mimbar untuk menunjukan kepada yang tua dan muda jalan ke sorga”. (Muller Kruger, 1966:215/Culver, 1991:41).

Hasil pelayanan dari Nomensen adalah HKBP yang merupakan salah satu gereja di Indonesia dengan anggota gereja yang terbanyak.

 

6.3. Badan Zending yang berasal dari Amerika non Calvinis dan Lutheran (Gereja-gereja yang menganut Baptis Selam dan penekanan pada Karunia Roh)

 

CAMA adalah Gerakan Alliance (persekutuan) yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1880-an. Gerakan ini merupkan hasil dari salah satu kebangunan rohani yang terjadi di Amerika Timur Laut. Pendiri dari CAMA adalah A. B. Simpson, mantan pendeta gereja Presbiterian di New York, yang keluar dari jabatan pendeta gereja tersebut, karena ingin mengabdi untuk pelayanan kepada kaum miskin dan kepada orang berdosa, selain itu karena ia tidak bisa lagi menerima kebisaaan gereja Presbiterian membabtis anak-anak. Pada tahun 1897, terjadilah penggabungan antara The International Missionary Alliance dan The Christian Alliance, dengan nama “The Chirstian And Missionary Alliance (CAMA)” yang berkedudukan/berpusat di New York, Amerika Serikat. Ajaran CAMA: Injil rangkap empat, yaitu (1). Kristus menyelamatkan. (2). Menyucikan. (3). Menyembuhkan. (4). Datang kembali sebagai Tuhan. Jadi CAMA mementingkan ajaran tentang kedatangan kembali Yesus Kristus dan Kerajaan Seribu Tahun. Pemberian perhatian akan dua hal yang dikemukakan terakhir menimbulkan dorongan untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum mendengarnya. Keyakinan para tokoh-tokoh Alliance,yaitu PI kepada orang-orang yang belum mendengar Injil mempercepat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, dan keyakinan ini mempengaruhi metode PI. Organisasi induk di Amerika harus sederhana, sedangkan di wilayah-wilayah PI tidak boleh mendirikan sarana-sarana (rumah gereja, gedung sekolah, rumah-rumah sakit) yang serba mahal. Segala usaha diarahkan kepada PI secara langsung kedaerah-daerah yang belum dijangkau oleh lembaga PI lain. Di daerah-daerah tersebut harus didirikan gereja-gereja mirip jemaat PB. Salah satu missionary dari CAMA yang terkenal di Indonesia adalah R. A. Jaffray.

Jaffray diutus oleh CAMA untuk melayani di Tiangkok Selatan tahun 1897-1927. menjelang tahun 1928, Jaffray mendapat informasi dari pelaut-pelaut tentang ribuan orang Tionghoa yang tinggal di perantauan di Asia Tenggara. Ia merasa terbeban untuk menmginjili orang-orang Tionghoa di perantauan, maka pada tahun 1928 ia mengadakan pelayaran ke kota-kota pelabuhan di Kalimantan Timur dan pantai barat Sulawesi, Bali, dan Jawa Timur. Dari beberapa tempat yang dilalui, Jaffray sadar bahwa masih belum banyak orang yang belum mendengar Injil, untuk itu ia mengusulkan kepada CAMA di Amerika untuk membuka lading pelayanan baru di Indonesia, jawaban CAMA adalah tidak ada dana untuk membuka ladang baru, Jaffray menyatakan bahwa ia akan melaksanakan pembukaan ladang baru tersebut karena ia yakin Tuhan Menyertai. Ia mulai membentuk oraganisasi baru, yaitu ChineseForeign Missionary Union (Lembaga PI untuk orang Tionghoa di perantauan) yang bekerja sama dengan CAMA. Pada tahun 1930 Jaffray meninggalkan Tiongkok dan memulai pelayanan PI di Makasar dan menjadikan kota Makasar sebagai pusat misi Jaffray di Indonesia, dan juga menjangkau orang-orang didaerah lain seperti Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan,dan pedalaman Iran (Papua). Di Makasar , didirikan gedung bernama “Kemah Injil”, dengan gaya arsitektur pribumi. Selain itu Jaffray mendirikan sekolah Alkitab di Makasar, yang sejak tahun 1958 dengan nama “Jaffray Bible College” beberapa tahun kemudian berubah nama menjadi STT Jaffray (1966), dan mendirikan badan penerbit “Kantor Kalam Hidup atau sekarang Toko Buku Kalam Hidup”.

Medan pelayanan CAMA di Kalimantan Timur dilayani oleh seorang misionari yang bernama George E. Fisk, yang melayani sekaligus perintis di Kalimantan Timur pada tahun 1929, dengan suku Dayak Kayan dan Dayak Kenyah di Kalimantan Timur bagian Utara.

Pelayanan fisik di Irian: salah satu kenyataan yang harus dihadapi di Irian adalah perjalanan di wilayah-wilayah atau derah-daerah di Irian memakan waktu dan tenaga yang sangat besar. Maka Fisk mendatangkan pesawat dari Amerika Serikat pada tahun 1939, dan merupkan masa pertama menggunakan pesawat dalam tugas PI di Indonesia. Selanjutnya pesawat ini menjadi sarana PI yang penting di pedalaman Iran. Daerah yang dijangkau oleh misi CAMA di Irian, yaitu sekitar danau pantai (1938), Ballem/Wamena (1954).

Pada tahun 1951 jemaat-jemaat hasil pelayanan CAMA digabungkan menjadi tiga gereja daerah: (1). Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia Timur (KINGMIT). (2). Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia Kalimantan Timur (KINGMI Kaltim). (3). Kemah Injil gereja Masehi Indonesia Kalimantan Barat (KINGMI Kalbar).

Pada tahun 1956 CAMA menghentikan bantuan keuangan yang bisaanya diberikan kepada jemaat-jemaat suku Tionghoa yang menjadi karya missionary CAMA di kota-kota pelabuhan. Jemaat-jemaat ini kemudian bergabung dalam dua badan gereja, yaitu Gereja Kebangunan Kalam Allah (GKKA), sedangkan anggota lian memilih nama Gereja Persekutuan Kristen (GPK).

Gereja-gereja pelayanan hasil misi CAMA kemudian mengadakan konfrensi di Makasar tahun 1965, hasilnya membentuk kesatuan gereja yang diberi nama “Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia” (KINGMI). Beberapa tahun kemudian melalui kongres di Makasar tahun 1983, gereja persekutuan dijadikan gereja kesatuan dengan nama “Gereja Kemah Injil Indonesia” (GKII), yang berpusat di Jakarta.

Dengan kesatuan ini maka dikenal/ badan gereja wilayah, yaitu:

  1. GKII bagian Timur (KINGMIT), anggota 21.000 orang.
  2. GKII Kaltim, anggota 97.000 orang.
  3. GKII Kalbar,anggota 62.000 orang.
  4. GKII Toraja (KIBAID), anggota 40.000 orang.
  5. GKII Bahtera Injil Manado, anggota 7000 orang.
  6. GKII Irian Jaya (Papua), anggota 138.000 orang
  7. GKII Jawa-Sumatera, anggota 3000 orang.(Van Den End Weitjens/jilid II, 2003:280-284)

 

Gereja Metodis

 

Denominisasi gereja metodis lahir di Inggris pada abad ke-18 sebagai hasil gerakan kebangunan rohani (Revival) yang dimulai oleh dua bersaudara , yaitu Jhon dan Charles Wesley. Gerakan ini kebangunan rohani kemudian mulai berkembang ke Amerika. Pada tahun 1784 penganut gerakan kebangunan rohani di Amerika mulai memisahkan diri dari gerakan kebangunan rohani di Inggris, dan mendirikan gereja tersendiri, yang dipimpin oleh uskup-uskup atau dikenal dengan system pemerintahan gereja, yaitu system “Episkopal” (Episcopal Methodist Church) (Ban. Van Den End dan Waitjens, 2003:207, juga Aritonang, 2005:145).

Oraganisasi gereja aliran kebangunan rohani di Amerika kemudian membentuk “Board of Missions and Church Extension of the Methodist Church = Dewan Pekabaran Injil dan Perluasan Gereja-Gereja Metodis) pada tahun 1818. badan misi ini pada tahun 1855 mengutus misionaris untuk melayani di semenanjung Melayu dan Singapura, kemudian ke Jawa, Sumatera tahun 1905 dan Kalimantan tahun 1905. dikemudian hari oleh karena keterbatasan dana maka misi metodis hanya tebatas di pulau Sumatera, yaitu dibagian timur Sumatera Utara, Medan kemudian ke daerah Palembang.

Tenaga misi metodis melayani orang Tionghoa yang tinggal di kota-kota dan orang Batak perantauan. Hal ini disebabkan karena di Batak sudah misi RMG. Dan untuk mencegah persaingan dengan RMG maka zending/ misionaris metodis berjanji bahwa mereka tidak akan bekerja di kalangan orang Batak. Tetapi banyak orang Batak Toba yang merantau ke daerah pantai dan minta diterima menjadi anggota jemaat metodis (Van Den End, 2003:207-208). Namun hubungan antara metodis dengan RMG tetap baik hak ini disebabkan oleh: (1). Metodis tidak mengusahakan perluasan misi secara besar-besaran seperti RMG. (2). Bersikap hati-hati dalam menerima anggota baru. Hubungan (kerja sama) yang baik antara metodis dan RMG diteruskan oleh HKBP yang berdiri sendiri, antara lain dalam bidang pendidikan theologo (Ibid. 208).dalam organisasi gereja metodis, maka zending metodis di Singapura di bawah uskup yang berkedudukan di Singapura. Selanjutnya hasil misi metodis di Indonesia di beri nam Gereja Metodis Indonesia (1964) dengan anggota gereja pada waktu sebanyak 11.000 orang. Anggota gereja metodis pada tahun 1989 berjumlah 54.000 orang yang terdiri dari, suku Batak Toba (75%), suku Tionghoa (12%), selanjutnya orang Karo, Simalungun, Nias, Jawa, dan daerah-daerah lain.

 

Gereja Pentakosta:

 

Gereja Pentakosta sering disebut Pentekosta atau Pantekosta. Gereja ini menurut Jan Aritonang, mengalami perkembangan yang “Paling spektakuler” pada abad ini. Artinya gereja Pentakosta dalam waktu kurang dari setengah abad telah tersebar ke seluruh dunia dan berhasil menghimpun jutaan anggota jemaat Pentakosta.

Sejarah lahirnya gereja Pentakosta bisaanya dihubungkan dengan peristiwa “Luar bisaa” yang terjadi di Topeka, negara bagian Kansas, Amerika Serikat pada awal januari 1901. pada tahun itu terjadi pencurahan Roh Kudus atau babtisan Roh, yang ditandai dengan karunia berbahasa lidah (Glosolalia). Tokoh utama (yang nampak) dari gerakan ini adalah Charles Fox Parham (1873-1929). Ia seorang pendeta Episcopal Methodist Church namun meninggalkan Gereja Metodist karena menurutnya ajaran dan praktek Gereja Metodis sudah kurang menekankan kesucian hidup dan peranan Roh Kudus.

Selain itu ada alasan lain, yaitu Parham telah mengadakan hubungan dengan kelompok Kristen yang menekankan berbagai unsure yang lebih radikal dan mendalaminya, seperti penyembuhan ilahi, babtisan dengan Roh dan Api. Selanjutnya kelompok ini terkenal dengan penumpangan tangan keatas kepala orang untuk menerima Roh Kudus (Aritonang, 2003:175).

Gereja Pentakosta pertama masuk ke Indonesia pada tahun 1922 melalui dua orang Amerika keturnan/asal Belanda, bernama C.E. Groesbeek dan D.R. Van Klaveren. Mereka berdua diutus oleh “Bethel Temple” di Seattle, di Pantai Barat Amerika Serikat. Mereka sebelum ke Jawa telah bekerja di Bali antara tahun 1921-1922 tetapi diusir oleh pemerintah Belanda, namun sebelum mereka diusir, mereka telah bekerja dengan begitu baik sehingga menarik hati beberapa tokoh yang kemudian meneruskan semangat gereja Pantekosta ke berbagai wilayah di Indonesia, yaitu keseluruh Jawa Timur,Sumatera Utara, Minahasa, Maluku, dan Irian. Salah satu pusat gerakan pentakosta di Indonesia adalah Cepu, kemudian Surabaya. Kemudian gerakan ini meluas ke Temanggung, Jawa Tengah, Cepu, Surabaya, dan Bandung, ke Sumatera. Di Indonesia Gereja Pantekosta mempunyai banyak ragam oraganisasi Gereja Pantekosta yang terbesar adalah Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI). Dengan berbgai ragam organisasi Gereja Pantekosta ini, maka pada tahun 1970 diusahakan satu-kesatuan Gereja Pantekosta yang disebut “Dewan Panetkosta Indonesia” (DPI), dan tahun 1998 berubah menjadi Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia (PGPI). Selain wadah ini, adapula yang masuk kedalam keanggotaan DGI-PGI (Dewan Gereja Indonesia/Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Denominisasi gereja pentakosta yang menjadi anggota PGI adalah: GIA, GBIS, GPPS, GGP,GBI, GTDI. Selain itu ada juga yang bergantung dalam PII (Persekutuan Injil Indonesia). (Aritonang, 2003:183-184 dan Van Den End dan Weitjens, 2003:271-272).

Hal menarik dari sejarah Gereja Pantekosta yang dikemukakan oleh  Rev. Nicky J. Sumual sbb:

Pada perayaan perpisahan tahun 1900, Pendeta Charles Fox Parham, sementara satu kelompok anak-anak muda dan 40 orang dalam ruangan tempat kebaktian dan sekitar 60 orang di luar bangunan menunggu, saat-saat jam 12.00 malam akan dating sebagai tanda tahun 1900 akan segera berlalu dan detik-detik pertama tahun 1901 muncul, tradisi yang sudah melekat pada umat Kristen setempat di USA, terjadilah suatu ledakan hebat dalam sejarah penggenapan rencana Allah bagi umat manusia khususnya dunia Kristen.  Nona Agnes Ozman minta kepada Pendeta Parham agar beliau meletakkan tangan atasnya supaya menerima Roh Kudus sesuai firman Tuhan. Setelah beberapa kali meminta, pendeta Parham menyetujuinya. Ia meletakkan tangannya atas kepala nona Agnes dan berdoa beberapa kata bersungguh-sungguh, dan … tiba-tiba  nona Agnes mulai berkata-kata dalam bahasa China, dan hal ini terjadi beberapa saat  dan kemudian ia tidak dapat lagi berbicara bahasa Inggris selama 3 hari. … Pengalaman Pentakosta dari nona Agnes Ozman   ini lalu menjalar terus dan menyebabkan sepanjang bulan januari 1901 seluruh mahasiswa Bethel Bible College terlibat dalam doa dengan penuh keyakinan bahwa Allah telah mencurahkan Roh Suci kepada nona Ozman akan berbuat hal yang sama kepada mereka, dan benarlah hal ini menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat sebagian besar dari mahasiswa dan pemuda/pemudi termasuk Pdt. Parham dapat bersaksi tentang pengalaman baptisan (dipenuhi) Roh Suci, dan berkata-kata dengan lidah asing.

Dengan perasaan aneh dan agung penuh kuasa ini banyak di antara mereka yang telah menerima ledakan Roh Suci, tidak dapat menahan diri lagi setelah berserah kepada suara Tuhan yang menyuruh mereka segera pergi memberitakan Injil dengan kuasa Pantekosta ke seluruh dunia.

Dua warga Amerika keturunan Belanda yaitu Groesbeek dan istrinya dan anak-anaknya  serta van Klaveren serta istriyang dipengaruhi oleh gerakan ini kemudian mendapat visi (penglihatan) yaitu bahwa Tuhan menghendaki mereka untuk pergi ke Jawa. Kemudian mereka datang ke Pendeta W.H.Offiler dan menceritakan visi tersebut. Mereka selanjutnya diutus ke Indonesia atas biaya yang disiapkan oleh Pdt. W.H.Offiler. Biaya pengutusan itu hanya terjadi melalui mujizat Tuhan. Seorang ibu yang disembuhkan Tuhan dari penyakit tumor mempersembahkan uang 500 dollar USA. Selanjutnya kedua keluarga keturunan Belanda ini berangkat ke Indonesia dengan menumpang Kapal Suwa Maru berbendera Jepang yang hendak menuju ke pelabuhan Internasional yaitu pelabuhan Batavia (Jakarta). Berangkat dari Amerika  pada tanggal 4 Januari 1921 dan tiba di Jakarta awal Maret tahun 1921 dan melanjutkan perjalanan ke Jawa dengan kereta api Batavia Mojokerto, Surabaya dan Banyuwangi. Kemudian menumpang kapal babi (varkens boat) menuju ke Denpasar Bali pada pertengahan bulan Maret 1921.

Di Denpasar mereka mencari rumah yang layak untuk disewa tapi sulit mendapatkan, akhirnya mereka mendapatkan tempat tinggal di sebuah Gudang Kopra. Gudang itu berlantai batu merah dan beratap lalang yang bocor sebab sudah tua. Kedua keluarga ini kemudian memperpaikinya dan dibuat beberapa kamar tidur dan dapur serta ruang makan yang sederhana. Setelah berdoa kedua penginjil berkebangsaan Amerika kelahiran Belanda ini sebelumnya adalah perwira-perwira dari Bala Keselamatan. Mereka berhasil mendapatkan seorang laki-laki untuk dipekerjakan sebagai orang upahan, pembantu rumah tangga (Jongos) orang Putra asli Bali yang mengerti sedikit Bahasa Belanda. Mereka bersama seorang pemuda Bali menterjemahkan Injil Lukas kedalam bahasa Bali. Terjemahan ini kemudian dipakai oleh kedua penginjil ini dengan dibantu oleh seorang penterjemah bahasa Bali. Pokok pemberitaan adalam cerita tentang Yesus yang berkuasa member kesembuhan kepada orang sakit, berkuasa memberi keselamatan kekal kepada mereka yang ingin menjadi murid Yesus. Kotbah ini disampaikan dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan dalam bahasa Bali oleh orang Bali yang menjadi pelayan rumah tangga. Berbagai mujizat terjadi dan orang-orang Bali tertarik menjadi Kristen. Hanya dalam beberapa bulan saja berita Injil sepenuh dari kedua penginjil sudah tersebar di kota Denpasar dan sekitarnya. Malahan sudah terkenal dan orang-orang segala lapisan dating dan ingin bertemu dan membawa saudara-saudara mereka yang sakit untuk di doakan.

Pada waktu itu oleh pemerintah Belanda pulau Bali telah ditetapkan sebagai kota pelancong (kota wisata manca negara), dilarang penginjil-penginjil memasukinya. Oleh pemerintah Hindia Belanda giat menarik para pelancong Internasional orang Amerika, Prancis, Jepang, Jerman dll agar pemasukan keuangan dollar US, Pondsterling, Marks, Yen dan lain-lain Valuta asing sebanyak mungkin. Jadi pulau Bali dinyatakan sebagai tertutup bagi Injil, apalagi Injil sepenuh yang dianggap berbahaya. Tahun 1922 kedua penginjil ini atas perintah Belanda harus meninggalkan Bali dan pindah ke Surabaya. Di Surabaya mereka melayani dengan cara kerjasama dengan Bond Van Evangelisasi (BVE). Kelompok ini tingkat kerohaniannya lebih maju dari pada orang-orang Kristen lainnya. Pada saat itu Moeke Wynen adalah salah satu anggota dari Bond Van Evangelisasi. Ialah yang memperkenalkan kedua penginjil ini dalam organisasi BVE. Kedua penginjil ini disambut baik oleh tokoh-tokoh Bond Van Evangelisasi yang pada saat itu berpusat di Bandung. Kedua penginjil ini mendapat kesempatan pelayanan mimbar dan berkhotbah tentang Tuhan Yesus Pelepas; Tuhan Yesus Dokter atas segala dokter; Tuhan Yesus Pembaptis dengan Roh Kudus; Tuhan Yesus Maha Raja yang akan datang.

Pada suatu hari Pendeta Groesbeek sedang berjalan-jalan di kota Surabaya berdoa supaya Tuhan menunjukkan jalan kepadanya untuk melayani Penginjilan sendiri. Sambil berjalan langkah-langkahnya dihentar Tuhan menuju ke suatu rumah besar. Di situ duduk seorang wanita lanjut usia di serambi depan.  Roh Allah menyuruh pendeta Groesbeek masuk dan berbicara dengan dia. Saya melihat nyonya sakit: maukah nyonya disembuhkan Tuhan? Jawab wanita itu: Ya saya mau. Kemudian pendeta menyambung dengan maukah nyonya mengundang beberapa orang kawan nyonya mala mini, supaya saya menceritakan bagaimana Allah dapat sanggup menyembuhkan orang-orang sakit. Wanita itu setuju. Pada malam hari berkumpullah beberapa orang di rumah sang nyona, kemudian pendeta Groesbeek dating bersama istri dan mengadakan pelayanan di sana. Mereka mulai dengan doa dan nyanyian-nyanyian memuji Tuhan dalam bahasa Belanda kemudian menyampaikan firman Allah, Injil yang heran dan berkuasa itu.Setelah selesai firman, sang pendeta mengambil minyak dan mendoakan nyonya ini sambil mengurapinya dengan minyak urapan sesuai Yakubus 5:14-15 dan dalam nama Jesus, mengusir kuasa Setan penyakit dari tubuh nyonya itu. Nyaonya itu sembuh seketika. Semua yang hadir menyaksikannya dan merasa girang sambil memuji Tuhan atas kuasa-Nya.

Beberapa hari kemudian, nyonya ini mengajak Groesbeek untuk ke Cepu, kota minyak untuk bertemu dengan anaknya bernama George Van Gessel yang bekerja di BPM (Perusahan Minyak Belanda). Di sana diadakan pelayanan, kemudian pada tanggal 3 Januari 1923 S.I.P. Lumoindong masuk kebaktian yang pertama di Cepu yang diadakan di kamar makan keluarga G.Van Gessel, hadir 10 orang. Semua dalam kebaktian itu serba aneh buat saya, seperti ucapan Halleluayah dari pihak pendengar sementara ada khotbah dan doa atau sementara menyanyi[40]. Singkatnya pelayanan berkembang di Cepu dan kemudian tersebar ke Bandung, Manado dan tempat-tempat lain.    

 

 

Gereja Adventis

 

Pendirinya (yang nampak) adalah William Miller (1782-1849). Ia warga Amerika serikat. Seorang penginjil dari Gereja Babtis yang ketika khotbahnya dari Yesaya 53 kepada jemaat maka saat yang bersamaan itu ia mengalami perubahan/ pertobatan. Kemudian ia mulai berusaha menafsirkan nubuat-nubuatan dalam Alkitab, khususnya kitanb Daniel dan Wahyu. Dalam perkembangan selanjutnya kelompok ini menjadikan hari sabtu sebagai hari ibadah atau dikenal dengan nama Gereja Adven Hari ketujuh. Gereja Adven masuk ke Indonesia pada tahun 1900 oleh  seorang pendeta Methodist Amerika bernama R.W. Munson. Ia masuk gereja karena disembuhkan dari penyakitnya pada waktu dirawat di rumah sakit Adventis di Amerika Serikat. Dan atas permintaanya maka ia menjadi utusan Adventis di Asia Tenggara pada tahun1900 ia menetap di Padang. Dari sana Adventis dibawah ke Sumatera Utara (Tanah Batak) oleh Immanuel Siregar. Munson sendiri pindah ke Sumatera Utara pada tahun 1904 dan membuka pelayanan di kota Medan. Kepindahan Munson ini disebabkan karena ia mengalami perlawanan yang sangat serius di Padang dari pihak-pihak non Kristen. Sementara Gereja Adventis di Jawa (Surabaya) diusahakan oleh Sister Petra Tunheim tahun 1906 misi dari Australia. Gereja Adventis juga meletus ke Jakarta, Jawa Barat, Minahasa, Maluku, Tapanuli, Lampung,dan Kalimantan (Van Den End, 2003:294). Tahun1995 jumlah anggota dewasa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia, yaitu 110.000 orang, dalam 900 lebih jemaat. (Van Den End, 2003: 294-295).

 

Gereja Bala Keselamtan

Didirikan tahun 1878 di London oleh William Booth (1829-1912). Ia adalah pendeta Gereja Methodist di Inggris namun karena gereja menganggap William terlalu sibuk mengadakan kampanye PI dan terlalu banyak berurusan dengan para gelandangan, pemabuk, pelacur, dll, maka pada tahun 1862 ia keluar dari kependetaan dan keanggotaan Gereja Methodist. Dan mendirikan sebuah lembaga PI yang melakukan kampanye PI dalam kemah yang berpindah-pindah. Pada tahun 1878 organisasinya diubah menjadi “The Salvation Army” (Bala Keselamatan, BK) yang disusun menurut pola militer. Booth menjadi “Jenderal”, pekerja lainnya disebut “Kolonel”. Gereja ini masuk ke Indonesia melalui cabangnya di Belanda pada tahun 1894, dua perwira Gereja Bala Keselamatan diutus ke Jawa dan mereka menetap di Puworejo kemudian pindah ke Semarang dan disana dibuka pusat latihan untuk mendidik perwira-perwira bangsa Indonesia, kemudian tahun 1950 di Jakarta. Sejak tahun 1984 anggota Gereja Bala Keselamatan berjumlah 60.000, dengan 3.500 lebih perwira (opsir, tenaga staf) (Van Den End 2003:290-291).

 

BAB 8.

SEJARAH GEREJA DI INDONESIA SEJAK Thn.1930-Kini.

 

  1. Gereja dan Pergerakan Nasionalisme (1930-1941)

 

Menurut Fridolin ukur, munculnya gerakan Nasionalisme atau keinginan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari jajahan turut mempengaruhi Gereja atau orang-orang Kristen di Indonesia dalam dua hal:

Pertama, semangat nasionalisme menyebabkan orang-orang Kristen (jemaat-jeamaat) untuk bersatu dan membentuk suatu gereja yang berdiri sendiri. Semangat yang dikobarkan untuk membebaskan diri dari penjajahan serta mengatur diri sendiri ikut pula menunjang cita-cita kearah otonomi gereja, yang bebas dari dominasi para misionaris (M.A. Ihromi, penyuting, 1979,71).

Usaha kearah pembentukan gereja yang berdiri sendiri tidak selalu berjalan lancar, karena dari pihak zending umumnya berpendapat bahwa jemaat-jemaat di Indonesia belum cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab sendiri. Tetapi dari pihak jemaat-jemaat atau Gereja-gereja di Indonesia menyatakan justru demi mempercepat proses pendewasaan dan kedewasaan ini maka perlu gereja-gereja di Indonesia diberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengatur diri sendiri, bersaksi9 dan melayani sendiri. Maka mulai tahun 1930 dan selanjutnya, gereja-gereja di Indonesia menyatakan dirinya sebagai gereja yang berdiri sendiri, seperti: HKBP (1930), GKJ dan GKJW (1931), GKP, GKI Jatim, GMIM (1934), GKE, GPM, GKKB (1935), BNKP (1936), GBKP dan GKPB (1941). Tetapi adapula gereja yang berdiri sendiri sebelum tahun 1930, yaitu Gereja Gerekan Pentakosta (1924), Gereja Kristen Muria Indonesia (1926), Panguan Kristen Batak dan Huria Kristen Indonesia (1927) (ihromi, editor, 1979:71) usaha kemandirian tersebut di atas yang dimulai tahun 1930-1941 mengalami masalah dalam bidang tenaga pelayanan dan kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena pada masa zending pembinaan tenaga pribumi kurang diperhatikan, sehingga pada waktu gereja berdiri sendiri masih juga bergantun pada kepemimpinan para misonaris. Oleh karena itu dimulailah pusat-pusat pendidikan para pelayan, baik oleh gereja secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Dan salah satu usaha bersama gereja Indonesia untuk pendidikan bagi tenaga pelayanan tersebut ialah didirikanh Sekolah Tinggi Theologi (Hogere Theologische school) di Jakarta tahun 1934, sekarang Sekolah Tinggi Theologi Jakarta yang bertempat di Proklamasi. (ibid, Hal. 72).

Kedua, semangat nasionalisme juga mempengaruhi jemaat-jemaat Kristen di Indonesia untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan atau membebaskan diiri dari kolonialisme Belanda, atau sebagaimana yang dinyatakan oleh Fridolin Ukur: “Sewaktu dimulainya gerakan kebangsaan itu banyak diantara orang Kristen yang ikut aktif” didalam perjuangan tersebut. Orang –orang Kristen yang ikut dalam pergerakan kebangsaan sering mendapat teguran dari para misionaris bahkan ada juga yang dikucilkan dari gereja. Hal ini menimbulkan ketegangan dan pertentangan didalam gereja, akibatnya gereja mengalami perpecahan, seperti yang pernah dialami oleh HKBP pada masa pergerakan kebangsaan. Orang-orang Kristen Batak yang tidak senang dengan sikap misionaris tersebut lalu memisahkan diri dari HKBP, yaitu: HKI (1927).

 

 

 

 

 

  1. Gereja di Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

 

Pada waktu terjadi perang dunia ke-2, Jerman mengadakan invasi ke Belanda maka terjadi pula perubahan yang hebat di Indonesia. Pihak Belanda menahan semua orang asing warga negara Jerman termasuk para misionaris Jerman di tahan. Akibatnya gereja-gereja di Indonesia yang mempergunakan tenaga-tenaga misionaris Jerman dan Swis mulai mengalami pukulan pertama. Gereja-gereja yang mempergunakan para misionaris Jerman dan Swis adalah gereja-gereja di Sumatera Utara dan Kalimantan. Tidak lama kemudian tentara Jepang berhasil menguasai wilayah Indonesia, maka terjadilah perubahan ke-2. semua warga negara Belanda dan sekutunya (termasuk misionaris) ditawan loleh pihak Jepang. Gereja di Indonesia pada waktu itu mulai masauk dalam suasana berikutnya dibawah kekuasaan Jepang. Pemerintah Jepang mulai melarang berhubungan dengan dunia Barat (Eropa). Kecuali misiobnaris Swis dan Jerman (Jerman adalah sekutu Jepang waktu itu). Misionaris dari Swis dan Jerman diizinkan untuk sementara melayani di Indonesia, tetapi kemudian diangkut oleh Jepang untuk dikembalikan ke tanah air mereka. Namun banyak juga misionaris yang dibunuh oleh tentara Jepang karena dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda dan ikut dalam kegiatan mata-mata Belanda.

Sebelum Jepang menguasai  Indonesia ada Gereja-gereja yang telah berdiri sendiri, namun ada pula  Gereja/kebanyakan  gereja  yang masih bergantung  pada bantuan misionaris. Sehingga waktu Jepang  berkuasa diIndonesia maka gereja yang masih bergantung padabantuan Zending atau misionaris mengalami kesulitan.  Dalam keadaan ini Gereja dipaksa untuk memikul seluruh  tanggung jawab termasuk tanggung jawab pembiayaan. Bila sebelumnya para pelayan Gereja mendapat  gaji dari khas sentral  yang dibantu oleh pihak Zending, maka didalam proses periode ini hal ini  tersebut tidak dilaksanakan.  Melalui tiap-tiap jemaat yang mengusahakan keuangannya sendiri dan membiayai  para pelayan tanpa bantuan dari luar, yaitu dari para misionari Eropa. Dalam situasi ini, pada suatu sisi gereja menghadapi keprihatinan tetapi pada sisi lain  pereistiwa ini telah membantu gereja untuk  bertumbuh secara dewasa.  Dalam situasi ini nyatalah bahwa Yesus Kristus Raja gereja tetap memerintah Gereja-Nya.

Selain kondisi diatas, pemerintah Jepang juga menyita harta memiliki gereja  dan dijadikan menjadi miliki  Negara. Harta milik Gereja seperti : sekolah-sekolah, rumah sakit, bahkan gedung gerejapun ada yang disita, ini disebabkan karena pada waktu itu sebagaian besar harta miliki gereja itu  belum sempat dialihkan ke status hukum untuk menjadi miliki Gereja,  sehingga berdasarkan  surat-surat resmi harta miliki Gereja masih atas nama badan zending. Kenyataan tersebut menjadi  alasan pihak  Jepang menyitanya,  karena dianggap milik asing. Peristiwa  ini juga menjadi pelajaran Sejarah bagi kita.  Setelah Jepang kalah, maka semua gedung gereja yang disita oleh Jepang  berlangsung diambil Alih  oleh pemerintah Republik Indonesia, namun  proses pengembalian kepada gereja oleh pemerintahpun mengalami waktu  yang panjang,  malah sampai dengan sekarang ini masih  ada gedung-gedung sekolah ataupun rumah-rumah sakit sakit yang belum dapat dikembalikan kepada gereja (Ibid,hlm.76). tekanan lain yang pernah  dilakukan Jepang kepada Gereja waktu itu adalah larangan beribadah, hal ini dapat diatasi setelah datangnya pendeta-pendeta dari gereja Kristen Jepang ( Keyodan). Misalnya dijawa Barat, berkat campur tangan pendeta tentara,kolonel Nomachi, Gereja mendapat surat dari pemerintah sehingga memungkinkan Gereja Kristen Pasundan ( GKP) dapat bergerak lagi tanpa ganguan dari pihak masyarakat maupun dari pihak pemerintah Jepang. Jadi kehadiran pendeta-pendeta Gereja Kristen Jepang ( Kiyadon) banyak sekali membantu kehidupan gereja-gereja di Indonesia selama masa pendukung Jepang. Pendeta-pendeta tersebut  menjadi perantara antara gereja dengan pihak pemerintah Jepang.

Pekabaran Injil pada waktu dilarang,  yang diperbolehkan adalah hanyalah ibadat hari minggu dan katekisasi bagi para pemuda Kristen. Setiap pendeta atau pejabat  gereja harus membuat laporan kekantor di masing masing propinsi tentang pekerjaan atau kemana mereka pergi . namun  gereja tetap melaksanakan  pekabaran Injil . pada masa it pekabaran Injil dilakukan oleh setiap warga gereja dan tidak bergantung kepada pejabat gereja yang sedikit banyak  dibatasiruang  gerak mereka. Disini kita juga mendapat pelajaran Sejarah  ketika pemimpin dibatsi maka warga negara terlibat dalam kegiatan misi gereja.

Pergumulan teologis yang sangat berat  yang dihadapi gereja pada pendukung Jepang adalah adanya pemaksaan agar semua orang dalam  setiap upacara harus terlebih dahulu  menghadap kesebelah  Timur matahari  terbit,  lalu tunduk meyembah kaisar Jepang. Peraturan ini mau dikenakan juga dalam setiap permulaan kebaktian dirumah gereja. Dalam hal ini gereja-gereja menolak sehingga menimbulkan ketegangan. Akhirnya berkat campur tangan para pendeta Jepang peraturan tersebut tidak dikenakan dalam kebaktian-kebaktian dinegara,  tetapi dalam upacara-upacara umum hal tersebut tetap dilaksanakan. Pengalaman pahit gereja dalam  pendukung jepang membawa gereja pada kedewasaan. Gereja menjadi dewasa melalui penderitaan. Dikatakan demikian karena tantangan pada masa pendukung Jepang Justru tidakmembuat gereja hilang  atau melemahkan gereja tetapi justru sebaliknya gereja menjadi  sadar akan tugas dankewajibannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiayai seluruh pembiyaannya yaitu lebih berani memberitakan Injil dan lebih mampu membiyai seluruh pembiyaan Gereja.

 

  1. Gereja di masa perang  Kemerdekaan RI ( 1945-1950)

           

Pengalaman dan kehidupan gereja di masa pendudukan Jepang sangat menetukan dan mempengaruhi jalannya sejarah gereja-gereja di Indonesia dalam periode sesudahnya.  Pada waktu Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 14 Maret 1945 maka berakhirlah penindasan dan penjajahan Jepang atas Indonesia.

            Bersmaan dengan itu usaha dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.

            Dalam masa pendudukan Jepang Gereja-gereja Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperioleh kemerdekaan bangsa itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. Dan orang Kristen sebagai bagian integral dari bangsa ini  sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat dalam perjuangan rakyat ( Ihromi dan Wahono, 1979 :79)

 

  1. Gereja yang bertumbuh/ tinggal landas ( 1950-kini)

 

Alasan perhitungan pertumbuhan Gereja Indonesia oleh para ahli sejarah Gereja dimulai sejak tahun 1950, karena sejak tahun itu terjadilah beberapa hal berikut ini yang nanti menjadi ukuran pertumbuhan tersebut. Peristiwa-peristiwa itu, seperti:

  • Pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan pada tanggal 25 Mei 1950, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Pentakosta. Anggota DGI pada waktu itu berjumlah 29 denominasi, dan dalam perkembangan selanjutnya Gereja-gereja aliran Pentakosta pun menjadi anggota DGI atau sekarang PGI
  • Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Ada peristiwa yang berdampak pada pertambahan anggota gereja tetapi ada juga peristiwa-peristiwa yang berdampak pada berkurangnya anggota Gereja.

Peristiwa-peritiwa yang dimaksud, yaitu:

Peritiwa Gerombolan DI-TII (1950-1962) beberapa Gereja di wilayah seperti Jawa Barat, Sulawesi dan Kalimantan Selatan. Peristiwa ini mempengaruhi merosotnya atau berkurangnya Gereja di wilayah-wilayah yang dikuasai DI-TII, di Toraja sekitar 70.000 orang Kristen mengalami terror gerombolan bersenjata, termasuk paksaan untuk beralih agama.

Pengembalian wilayah Irian Jaya ke wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Peristiwa ini juga pada akhirnya memberi peluang untuk perkembangan Gereja secara besar-besaran di Irian Jaya. Karena sebelum penyerahan, usaha menuju kedewasaan Gereja di Irian Jaya oleh zending  berjalan cukup lamban tetapi ketika Irian Jaya menjadi bagian dari wilayah Indonesia maka DGI melalui bantuan gereja-gereja di Indonesia sangat berperan dengan baik sehingga gereja-gereja di Irian Jaya sangat berkembang pesat. Sekedar perbandingan, jumlah orang Kristen di Irian sebelum penyerahan ke wilayah Indonesia sebanyak 130.000 orang (thn. 1963, akan tetapi setelah Irian masuk wilayah Indonesia, jumlah orang Kristen bertambah menjadi 360.000 (statistic thn. 1974)

Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gagalnya usaha Komunis dan terjadinya banyak korban, singkatnya situasi sedang kritis. Dalam situasi kritis ini orang tertarik kepada Gereja karena kesaksian Gereja yang baik, sikap gereja yang tidak memihak, mengutuk dan tidak pandang bulu, usaha Gereja membela mereka yang tidak bersalah serta bantuan kasih tanpa memandang golongan dan agama. Semua hal ini mempengaruhi orang menjadi Kristen. Tetapi secara tegas dikatakan disini bahwa bila dilihat secara keseluruhan maka factor G.30 S itu bukanlah factor yang sangat menentukan pertumbuhan Gereja.

Anjuran pemerintah agar rakyat memilih agama yang diakui Pemerintah. Setelah gagalnya G.30 S, pemerintah menganjurkan kepada rakyat Indonesia agar memilih salah satu agama yang di akui Negara. Anjuran ini juga mempengaruhi orang untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya.

Selain itu pertumbuhan Gereja sejak Indonesia sejak tahun 1950 s.d masa kini juga harus dilihat dari perjumpaan gereja Indonesia dengan pergumulan politik, dalam pergerakan oikumenikal, dan sikap gereja di tengah masyarakat yang menganut agama lain. Ini penting disinggung karena gereja Indonesia yang bertumbuh adalah Gereja Indonesia yang akan berinteraksi dengan banyak pergumulan di Indonesia. (Ihromi, 1979 :87-91)

 

 

 

 

 

 

BAB 9

PERKEMBANGAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA ABAD XX-XXI

 

 

  1. Gereja Katolik
  2. Gereja-gereja Calvinis (Reformed, Presbiterian)
  3. Gereja-gereja Lutheran
  4. Anglican (Episkopal)
  5. Mennonit
  6. Gereja Baptis
  7. Metodis
  8. Pentakostal
  9. Kharismatik
  10. Injili (Evangelical)
  11. Bala Keselamatan
  12. Adventis

 



[1] Kata pungut (juga kata serapan atau kata pinjam) adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang sudah diintegrasikan ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum.

[2] Ecclesia memiliki beberapa pengertian: (1) rapat rakyat (Yunani); himpunan;  majelis. (2) umat; sidang umat; perkumpulan umat; umat Kristen; gereja; gedung gereja. Lihat dalam K. Prent CM. J.Adisubrata, W.J.S. Poerwadarminta. 1969. Yogyakarta : Kanisius, hlm.271.

[6] Ibid

[7] Yonas Muanley. 2008. Bahan Ajar Sejarah Gereja Umum I. Jakarta : STT Injili Arastamar

[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit

[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit

[12] http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit

[13] http://id.wikipedia.org/wiki/indonesia#cite_note_15

[14] Ibid., hlm. 16

[15] Ibid., hlm. 17

[16] Ibid., hlm. 18

[17] Ibid

[18] (Editor) M.A. Ihromi dan S.Wismoady Wahono. 1979. Theo-Doron Pemberian Allah. Kumpulan Karangan dalam rangka menghormati usia 75 tahun Prof. Dr. Theodor Mueller Krueger. Jakarta : BPK, hlm. 45

[19] A.C.Kruyt. 2008. Keluar dari Agama Suku Masuk ke Agama Kristen. Jakarta : BPK., hlm. 102

[20] Nicky J. Sumual. T.th. Pantekosta Indonesia Suatu Sejarah. t.tp : t.p., hlm. 32 -33

[21] Th. van den End. 1999.  Ragi Carita, Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860 (Jakarta : BPK), hlm. 20

[22] Bandingkan Zakaria J. Ngelow dalam Kekristenan dan Nasionalisme, Perjumpaan Umat Kristen Protestan dengan Pergerkan Nasional Indonesia 1900 – 1950 (Jakarta : BPK, 1996), hlm.12,  dan Y Bakker, Umat Katolik Perintis di Indonesia 645 - 1500 dalam Sejarah Gereja Katolik Indonesia (Ende-Flores :Arnoldus, 1974), hlm. 19-40.

[23] Th. Van den End. 1999. Ragi Carita 1 Sejarah Gereja di Indonesia 1500 – 1860 (Jakarta : BPK), hlm.22

[24] Ibid., hlm. 23

[25] G. Van Schie. 1994. Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-agama Lain.  (Jakarta : Obor)., hlm. 38-39

[26] Th. Van den End. 2005. Ragi Carita 1. (Jakarta : BPK)., hlm. 23

[27] Ibid.

[28] Th. Van den End. 1999. Harta Dalam Bejana. Sejarah Gereja Ringkas. (Jakarta : BPK), hlm. 206

[29] Zakaria J. Ngelow. 1996. Kekristenan dan Nasionalisme: Perjumpaan Umat Kristen Protestan dengan Pergerakan Nasional Indonesia 1900 – 1950. ( Jakarta : BPK), hlm. 12

[30] Th. Van den End. Harta Bejana, hlm. 206

[31] Th. Van  den End. Harta dalam Bejana, hlm. 206-207

[32] Zakaria Ngelow. Hlm. 12

[33] Th.van den End, Harta Bejana, hlm. 212 - 213

[34] G. Van Schie, Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam Konteks Sejarah Agama-agama Lain (Jakarta : Obor, 1992), hlm. 102

[35] Ibid., hlm. 105

[36] Th. van den End. Harta Dalam Bejana, Sejarah Gereja Ringkas. (Jakarta : BPK, 1999), hlm. 218

[39] (Editor) M.A. Ihromi dan S. Wismoady Wahono. 1979. Theodoran Peemberian Allah, Kumpulan karangan dalam rangka menghormati usia 75 tahun Prof. Dr. Theodor Mueller Krueger. Jakarta : BPK.

[40] Nicky J. Samual. Pantekosta Indonesia, hlm.48-52